Senin, 28 April 2014

belajar

Judul               : Belajar
Nama               : Diana Astari
NIM                : 1110318200063
Tujuan Pembahasan
1.      Mengetahui lebih mendalam tentang pengertian belajar.
2.      Mengetahui seberapa penting himbauan belajar yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadits.
3.      Menumbuhkan kembali semangat belajar pada pembaca.
A.    Latar Belakang
Belajar sebagai karakteristik yang membedakan manusia dengan makhluk lain, merupakan aktifitas yang dilakukan sepanjang hayat manusia, bahkan tiada hari tanpa belajar. Salah satu ciri dari aktifitas belajar menurut para ahli pendidikan  dan psikologi adalah adanya perubahan tingkah laku biasanya berupa penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang baru dipelajarinya, atau penguasan terhadap keterampilan dan perubahan yang berupa sikap. Hingga saat ini mungkin masih banyak yang mengartikan bahwa belajar hanya bagi mereka para siswa/siswi atau mahasiswa yang sedang menuntut ilmu saja, banyak orang yang tidak menyadari bahwa setiap aktifitas yang dilakukannya adalah merupakan sebuah proses dalam belajar, dimana ketika seseorang melakukan kesalahan dan ia berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya tersebut dimasa yang akan datang disitulah seseorang yang telah mengambil pelajaran dan merupakan belajar dari sebuah kesalahan untuk menjadi yang lebih baik lagi.
Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.

B.     Pengertian Belajar
Menurut kamus Besar BBahasa Indonesia belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Kata Belajar dalam bahasa inggris yaitu study atau learn, menurut cronback berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a rsult of experience, “belajar adalah sebagai aktivitas yang ditunjukan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.”[1]
Belajar adalah sebuah proses perubahan didalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkahlaku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir dan kemampuan-kemampuan yang lain. Dalam konteks pendidikan hampir semua aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas belajar. Belajar yang sukses selalu diikuti oleh kemajuan tertentu yang terbentuk dari pola pikir dan perbuatan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas belajar ialah untuk memperoleh kesuksesan dalam mengembangkan potensi-potensi seseorang. Beberapa aspek psikologi aktivitas belajar itu misalnya : motivasi, penguasaan keterampilan dan ilmu pengetahuan, pengembangan kejiwaan dan seterusnya. Menurut Bagge belajar adalah suatu perubahan tingkah laku dengan serangkaian aktivitas misalnya : membaca, menulis, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.[2]

C.     Pengertian Belajar Menurut Para Tokoh
1.      Winkel
Menurut winkel pengertian belajar adalah aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan pengetahua, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap.[3]
2.      Suryabrata, S.
Didalam bukunya suryabrata mengemukakan bahwa siswa mengalami sendiri proes dari tidak tahu menjadi tahu, karena itu belajar yang terbaik adalah dengan mengalami dan mempergunakan pancaindera.[4]
3.      Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.[5]

D.    Belajar dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits
Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-‘Alaq ayat 1-5 sebagai berikut :
   خَلَق  الَّذِيأْ رَبِّكَ  بِاسْمِ اقْر .1
           عَلَقٍ مِنْ الْإِنْسَانَ  خَلَقَ.2
 الْأَكْرَمُ  وَرَبُّكَ  اقْرَأْ .3
                                                                                                                                                  بِالْقَلَمِ عَلَّمَ  الَّذِي .4
 لَمْ يَعْلَمْ   نَمَا  الْإِنْسَا  عَلَّمَ  .5
Bacalah dengan (menyebut ) nama Tuhanmu yang menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia  dari segumpal darah (2), Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3), yang mengajarkan manusia dengan perantara kalam (4), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya(5).”
Dalam Q.S Al-‘Alaq ini menjelaskan bahwa kata اِقْرَأْ (iqra’)terambil dari kata قَرَأَ (qara’a) yang pada umumnya berarti menghimpun. Kata iqra’ digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan, dan sebagainya. Ayat diatas juga menyatakan bacalah wahyu-wahyu illahi yang sebentar lagi akan banyak engkau terima, dan baca juga alam dan masyarakatmu. Bacalah agar engkau membekali dirimu dengan kekuatan pengetahuan. Bacalah semua itu tetapi dengan syarat selalu menyebut nama Allah swt. Kemudian dalam kata رَبِّكَ , menjelaskan bahwa guru yang paling utama adalah Allah swt, dan pada ayat ketiga menjelaskan bahwa ada dua cara yang ditempuh Allah SWT dalam mengajar manusia. Pertama, melalui pena (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia, dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat atau yang dikenal ilmu laduni (tidak melalui proses yang banyak/ bisa melalui ilham atau hidayah).
Hadits tentang Belajar[6]
Dalam  ayat surat  Al-‘Alaq ini berlaku kepada semua manusia  dan lebih khusus kaum muslimin agar senantiasa rajin membaca , menela’ah dan meneliti( kritis)  terhadap segala sesuatu  baik yang sudah diketahui atau pun belum diketahui, oleh karena itu konteks ayat ini diawali dalam bentuk amr ( perintah aktif) secara berulang-ulang yang  maksudnya adalah bahwa dalam  urusan belajar untuk lebih aktif dan proaktif. Hal ini senada dengan hadist Rasulullah Sallalahu ‘alaihi wasallam:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
menuntu ilmu itu wajib bagi setiap muslim”
bahkan dalam redaksi lain Rasulullah sallalahu’alaihi wasallam bersabda:
أُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى الَّلحْدِ
 “Tuntutlah ilmu dari buwayan hingga liang lahad”
E.     Gambar mengenai Belajar
Belajar desain otodidak
F.      Aplikasi teori belajar kognitif terhadap pembelajaran Al-qur’an dan hukum tajwid.
1.      A (afektif) siswa mampu membiasakan diri untuk selalu mempelajari dan membaca Al-qur’an pada waktu tertentu.
2.      C (kognitif) Seletah siswa banyak mempelajari Al-qur’an dan hukum-hukum tajwidnya, siswa mampu lebih mengenali nama dan cara membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan hukum tajwid yang telah dipelajari.
3.      P (psikomotorik) siswa mampu menerapkan hukum-hukum tajwid yang telah dipelajari ketika membaca Al-Qur’an.




[1] Syaiful Bahri Djamarah, psikologi belajar, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2008) hlm.13
[2] Zainudin, konsep belajar menurut pandangan islam, diakses dari zainudin.blogspot.com.13/10/2014.
[3] W.S winkel, psikologi pendidikan dan evaluasi belajar, (jakarta : Gramedia, 1997)
[4] S. Suryabrata , psikologi pendidikan, (Jakarta : PT. Raja Grafindo persada 1998)
[5] Haryanto, pengertian belajar menurut para ahli, diakses dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-belajar-menurut-ahli/. (25-04-14. Pkl. 15:08).
[6] Makalah Al-Qur’an dan Hadits kelompok 3 hlm.4-5.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar