Minggu, 29 Juni 2014

teori belajar kognitif





Nama         : Diana Astari
NIM           : 1113018200063
Jurusan      : Manajemen Pedidikan
Semester     : 2 B


TEORI BELAJAR KOGNITIF

1.      Latar Belakang
Manusia telah dianugerahkan oleh Allah SWT berbagai karuia, diantaranya hati dan akal. Akal diberikan untuk manusia agar mampu berfikir dam memikirkan suatu kebenaran yang datang dari Allah SWT dan juga dengan akal lah manusia mampu bertingkah laku kearah yang baik maupun kearah yang buruk, serta dengan akal pula manusia mampu menemukan berbagai kreasi dan karya seni yang mampu mejadikan sesuatu hal yang bernilai dan berharga, dan yang paling terpenting adalah, dengan akal lah manusia mampu berfikir kemudian mampu menemukan berbagai ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Seperti yang kita ketahui, keberadaan akal adanya didalam otak manusia yang terbagi menjadi dua, ada otak kiri dan otak kanan, dimana kedua otak ini memiliki fungsi berfikir yang sedikit berbeda yaitu, pada otak kanan manusia akan menggunakannya saat ia sedang berkreasi seni yang menghasilkan suatu keindahan karya seni, seperti saat ia melukis, menciptakan lagu dan lain sebagainya, sedangkan otak kiri ia akan berfungsi saat manusia mencari ilmu pengetahuan, saat belajar membaca, menghitung dan ilmu pengetahuan lainnya. Bicara tentang otak serta ilmu pengetahuan, dalam sebuah teori belajar psikologi ini terdapat istilah dan termasuk pada sebuah teori yang sangat populer yang dikembangkan dan dianalisis oleh seorang tokoh besar yaitu Jean Peaget  yakni teori Belajar Kognitif. Nah, dalam pembahasan inilah kita akan mengetahui lebih dalam tentang teori kognitif dalam suatu pembelajaran yang berkaitan dengan otak seperti pengetahuan, pemahaman, pengelolaan sebuah informasi serta akan banyak lagi pembahasan tentang teori kognitif lainnya.
2.      Tujuan Penulisan
1.      A3 = meyakini
Mahasiswa mampu meyakini rumusan teori kogitif yang mengatakan bahwa proses perkembangan kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir.
2.      C2 = menjelaskan
Mahasiswa dapat menjelaskan berbagai teori belajar termasuk teori belajar kognitif.
3.      P3 = menyempurnakan
Mahasiswa mampu menyempurnakan proses pembelajaran dengan menggunakan teori belajar kognitif

3.      Pengertian Teori Kognitif
Istilah kogtinif berasal dari kata cognition yang padanannya knowing berarti pengetahuan. Dalam arti yang luas, cognition (kognisi ) ialah perolehan, penataran, dan penggunaan pengetahuan.  Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu doamain atau wilayah/ ranak psikologi manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kewajiban yang berpusat diotak ini juga berhubungan dengan ronasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.[1]
Sebagian besar psikologi terutama kognitivis (ahli psikologi kognitif) berkeyakinan bahwa proses perkembangan kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir. Bekal dan modal dasar perkembangan manusia, yakni kapasitas motor dan kapasitas sensori seperti yang telah diuraikan dimuka, ternyata sampai batas tertentu, juga diprngaruhi oleh aktivitas ranah kognitif.[2]
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Teori ini mengataka bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, melainkan tingkah laku seseorag ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.

4.      Tokoh-tohoh teori kognitif dan pokok-pokok teorinya

1.      Jean Piaget dan pokok-pokok teorinya
Teori kognitif dikembangkan oleh jean piaget, seorang  psikologi swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan konsep utama dalam psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata (skema bagaimana seseorang memersepsikan lingkungannya) dalam tahapan-tahapan perkembangan dan saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan kedalam konstruktivisme, bukan teori nativisme yang menggambarkan teori kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan. [3] menurut piaget, proses belajar sebenarnya terjadi dari tiga  tahapan yaitu, asimilasi, akomodasi dan ekuiblirasi(penyeimbangan ).
a.       Proses asimilasi adalah  proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru kestruktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa.
b.      Proses akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru.
c.       Proses ekulibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Piaget berpendapat bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kognitif yang dilalui siswa (Uno,2008: 11).  Tahapan tersebut dibagi menjadi empat tahapan, yaitu tahapan sensori motor, tahap pra-opreasional, tahap oprasional konkret, dan tahap operasional formal.
Gambar. 2.1 Tahapan perkemabangan kohnitif[4]



a.       Tahap sensori motor
Pada ini (0-2tahun) seorang anak belajar mengembangkan dan mengatur kegiatan fisik dan mental menjadi rangkaian perbuatan yang bermakna.
b.      Tahap pra- operasional
Pada tahap pra-operasional (2-7 tahun), seorang anak masih sangat dipengaruhi oleh hal-hal khusus yang di dapat dari pengalaman indera sehingga ia belum mampu untuk melihat hubungan-hubungan dan menyimpulkan sesuatu secara konsisten.
c.       Tahap operasional konkret
Pada Tahap operasional konkret (7-11tahun), seorang anak dapat membuat kesimpulan dari sesuatu pada situasi nyata atau dengan menggunakan benda konkret, dan mampu mempertimbangkan dua aspek dari siyuasi nyata secara bersama-sama (misalnya antara bentuk dan ukuran).
d.      Tahap Operasional formal.
Pada tahap operasional formal (11 tahun keatas), kegiatan kognitif seseorang tidak mesti  menggunakan benda nyata. Pada tahap ini, kemampuan nalas secara abstrak meningkat sehingga seseorang mampu untuk berfikir secara deduktif. Pada tahap ini pula, seseorang mampu mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu situasi secara bersama-sama. [5]
Umur yang dicantumkan pada setiap tahap tadi adalah hasil penelitian piaget dinegaranya. , meskipu demikian, umur yang dicantumkan diatas bisa kita jadkan pedoman. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah seorang siswa SMK yang sudah berada pada tahap operasional formal sekalipun masih membutuhkan benda-benda nyata pada saat belajar, terutama pada situasi yang masih baru.
Piaget juga berpendapat bahwa perkembangan kognitif  seorang siswa adalah melalui  suatu proses asimilasi dan akomodasi. Di dalam pikiran seseoarang, sudah terdapat struktur kognitifatau kerangka kognitif yang disebut skema.  Setiap orang akan selalu berusaha untuk mencari suatu keseimbangan, kesesuaian atau ekuilibrium antara apa yang baru dialami (pengalaman barunya) dan apa yang ada pada struktur kognitifnya. Jika pengalaman barunya adalah cocok atau sesuai dengan yang tersimpan pada kerangka kognitifnya, proses asimilasi dapat terjadi dengan mudah, dan keseimbangan (ekuilibrium) tidak terganggu. Jika apa yang tersimpan pada kerangka kognitifnya tidak sesuai atau tidak cocok dengan pengalaman barunya, ketidakseimbangan akan terjadi, dan anak akan brusaha menyeimbangkannya lagi. Dengan demikian, diperluakan proses akomodasi. dapat disimpulkan bahwa asimilasi adalah suatu proses tempat informasi atau penagalaman yang baru menyatukan diri ke dalam kerangka kognitif yang ada, sedangkan akomodasi adalah suatu proses perubahan atau pengembangan kerangka kognitif yang ada agar sesuai dengan pengalaman baru yang dialami.
Sebagai contoh perkalian dapat di asimlasi sebagai pemjumlahan berulang. Dengan diterimanya pengetahuan tentang perkalian ke dalam kerangka kognitif siswa sebagai penjumlahan berulang, kerangka kognitif siswa telah berkembang dan berubah.  Kerangka kognitif siswa telah berkembang dengan penjumlahan berulang, namun juga telah berubah dengan adanya pengetahuan baru tentang perkalian. Perubahan-perubahan tentang struktur kognitif atau kerangka ognitif ini akan terus terjadi sampai terjadi ekuilibrium atau keseimbangan. Proses asimilasi dan akomodasi ini sering juga desebut dengan proses adaptasi. Selama proses pembelajaran berlangsung, setiap siswa akan terus-menerus melakukan proses adaptasi  intelek ini sehingga ilmu pengetahuannya akan menjadi bertambah atau berubah.
Piaget juga mengemukakan bahwa selain disebabkan oleh proses asimilasi dan akomodasi diatas, perkembangan kognitif seorang anak juga dipengaruhi leh kematang dari otak sistem saraf anak, interaksi anak dengan objek-objek disekitarnya (pengalaman fisik), kegiatan mental anak dalam menghubungkan pengalamannya kerangka kognitifna (pengalaman fisik), kegiatan mental anak dalam menghubungakan pengalamannya dengan kerangka kognitifnya (pengalaman logico-mathematics),  dan interaksi anak dengan orang-orang disekitarnya. Berdasarkan hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuan kognitif seseorang diatas, para penganut piaget menyatakan pentingnya kegiatan dalam proses belajar. Mereka meyakini bahwa pengalaman belajar aktif cenderung meningkatkan perkembangan kognitif, sedangkan pengalaman belajar pasif cenderung mempunyai  akibat yang lebih seidikit dalam meningkatkan perkembangan kognitif anak. Aktif dalam arti bahwa siswa melibatkan mentalnya selama memanipulasi benda-benda konkret.
Piaget menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan, yaitu sebgai berikut:
a.       Memusatkan perhatian kepada cara berfikir atau proses mental anak, tidak sekadar pada hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut. Pengalaman-pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif dan jika guru penuh perhatian terhadap pendekatan yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan pengalaman yang dimaksud.
b.      Mengutamakan peran siswadalam brinisaitifdan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi (ready made knowledge) anak didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
c.       Memaklumi akan adanya perbedaan individu dalam hal kemajuan perkembangan. Teori piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama , namun pertumbuhan itu berlanggsung pada kecepatan berbeda. Oleh karena itu, guru harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas didalam kelas yang terdiri dari individu-individu kedalam bentuk kelompok-kelompok kecil siswa daripada aktivitas dalam bentuk klasikal.
d.       Mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan-gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung, perkembangannya dapat disimulasi.

2.      Bruner dan pokok-pokok teorinya
Bruner mengusulkan teorinya yang disebut Free Discovery Learning (Uno, 2008: 12). Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep teori, definisi, dan sebagainya ) melalui cotoh-contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya. Siswa dibimbing  secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum.  Selain itu, Bruner mengemukakan perlu adnya teori pembelajaran yang menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif di kelas. Menurut pandangan Bruner, teori belajar bersifat deskriptif, sedangkan teori pembelajaran bersifat preskriptif. Misalnya teori belajar memprediksi berapa usia maksimum seorang anak untuk belajar penjumlahan, sedankan teori pembelajaruan menguraikan bagaimana cara-cara mengajarkan penjumlahan. Menuru Bruner, perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu sebagai berikut :
a.       Tahap Enaktif
Seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya. Suatu tahap pembelajaran ketika materi pembelajaran yang bersifat abstrak dipelajari siswa dengan menggunakan benda-benda konkret. Dengan demikian topik pembelajaran tersebut direpresentasikan atau diwujudkan dalam bentuk benda-benda nyata.
b.      Tahap Ikonik
Suatu tahap pembelajaran  ketika materi pembelajaran yang bersifat abstrak, dipelajari siswa dengan menggunakan ikon, gambar, atau diagram yang menggambarkan kegiatan nyata dengan benda-benda konkret. Dengan demikian, topik pembelajaran yang bersifat abstrak ini telah direpresentasikan atau diwujudkan dalam bentuk benda-benda nyata yang dapat diamati siswa, lalu direpresentasikan atau diwujudkan dalam gambar atau diagram yang bersifat semi-konkret. Memahami dunia sekitar anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).
c.       Tahap simbolik
Sseorang telah mampu memiliki ide-ide abstrak yang sangan dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Cara yang baik untuk belajar adalah memahami konsep, arti dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (discovery learning).

5.      Analisis tentang teori kognitif
Orang tidak akan mengubah otak yang masih belum siap menerima pengalaman yang masuk untuk mempengaruhinya. Pendapat ini sudah diungkapkan sekian tahun yang lalu oleh Piaget, yang mempelajari kognitif anak, bukan otak mereka, dan kita tidak tahu  sekarang bahwa terdapat hubungan antara perubahan didalam otak dan perkembangan kognitif. Jika perkembangan otak terjadi dalam waktu yang lama, perubahan perilaku melalui pembelajaran tidak dapat melampau status perkembangan struktur saraf.
Riset perkembangan juga terdapat bahwa pencapaian kognitif dalam diri anak-anak dan remaja mungkin paling tepat dikonseptualisasikan sebagi sesuatu yang khas bidang (domain). Walaupun belahan otak kiri san kanan tampaknya sama-sama berpartisipasi dalam kebanyakan tugas kognitif, otak tidak seluruhnya merupakan pemecah masalah umum yang beradaptasi dengan baik pada semua jenis tantangan yang berbeda-beda yang mungkin ditemukan orang. Mungkin lebih tepat memandang otak sebagai serangkaian pemecah masalah terspesialisasi dengan bidang atau sirkuit spesifik yang beradaptasi dengan baik menanganani jenis maslah yang terbatas, seperti menemukan jalan untuk pulang kerumah (pemecah masalah geometri), memikirkan bahasa (pemecah maslah linguistik), atau “membaca” informasi sosial (pemecah masalah “manusia”). Seperti dikatakan Wilinghem (2006), kemampuan hal ini diterapkan di ruang kelas masih belum jelas, tetapi temuan masa mendatang mungkin menyingkapkan implikasinya bagi guru untuk merangsang bidang tertentu untuk mencapai sasaran tertentu.
Beberapa daerah otak mungkin sangat penting bagi hasih kogntif, untuk mendudkung jenis kegiatan saraf tertentu yang terkait dengan pembelajaran dan kognisi. Salah satu daerah yang telah menjadi fokus utama banyak riset kontemporer ialah korteks prefrontal. Dareah ini telah dianggap sebagai mediator perencanaan dan penalaran perilaku. Proses perhatian, kontro impulsifitas dan lebih belakangan ini fungsi kognitif perencanaan dan peleksanaan dan bahkan kemampuan menggunakan aturan ketika terlibat kedalam tugas kognitif. Singkatnya, hal ini tampaknya merupakan tempat apa yang kita anggap sebagai kegiatan kognitif sadar, yang kita coba untuk didorong diruang kelas.
Apa arti semua ini bagi pendidik yang menghadapi ruang kelas penuh dengan siswa ? dengan mengingat apa yag kita ketahui tentang perkembangan otak dan fungsi otak itu berarti bahwa penerima pengajaran bukanlah kotak kosong dan belum terbentuk yang menunggu untuk “diisi” dengan informasi, pengarahan, dan kemampuan. Itu berarti mereka bahkan bukanlah kota yang sudah jadi _bahwa penampung itu sendiri masih sedang berubah da mengalami pembaharuan. Pada kenyataannya, pembelajaran adalah karaya saraf yang sedang berproses, yang mengubah diri jika ada setiap legiatan baru, setiap keterlibatan, dan setiap kemampuan baru yang diperoleh dan fakta yang dipelajarai. Pembentukan kembali itu berlangsung terus, berlarut-larut, dan berkesinambungan. Ketika ilmu saraf terus menyediakan banyak data baru dan data itu digabung dengan data yang disediakan pakar sosiologi, ilmuan prilaku, ahli psikologi dan pendidikan, kita tentu saja mungkin akan menemukan bahwa riset otak menyediakan pemahaman yang tidak ternilai_ dan strategi yang bermanfaat_ bagi kita sebagai pendidik.[6]
Contoh kasus pelaksanaan pembelajaran menurut teori kognitif
Contoh pelaksanaan pembelajaran menurut teori kognitif berikut ini dalam mata pelajaran Matematikan disebuah sekolah SMK nonteknik :
1.      Guru matematika SMK nonteknik berusaha agar pengetahuan siswanya utuh, tidak terpisah-pisah. Artinya pegetahuan yang satu terkait dengan pengetahuan yang lain. Sebagai contoh, konsep integral harus dikaitkan dengan konsep turunan.
2.      Agar lebih bermakna, pengetahuan yang baru diajarkan dihubungkan dengan situasi nyata. Misalnya guru dapat menghubungakan himpunan kosong dengan buku kosong, yang satu tidak mempunyai anggota, yang satunya lagi belum ada tulisan didalamnya.
3.      Pembelajaran matematika di SMK nonteknik dimulai dari benda konkret, semi konkret, baru ke abstrak. Guru matematika SMK nonoteknik menyadari bahwa siswa yang sudah berada pada tahap operasional formal sekalipun akan lebih mudah mempelajari matematika jika dimulai dari sesuatu yang konkret ataupun yang bisa dipikirkan siswa. Misalnya konsep turunan yang dimulai dari konsep kecepatan.
4.      Pada taraf tertentu, guru menggunakan alat peraga, seperti menggunakan model-model bangun ruang ketika membahas materi dimensi tiga.
5.      Guru mengjar matematika dari hal yang mudah / sederhana ke yang sedang, kemudian ke yang sukar /rumit. Hal yang mudah / sederhana lebih gampang untuk dicerna oleh siswa. Dengan demikian, hal-hal yang sukar atau rumit bisa diasimilasikan dengan mudah kedalam kerangka kognitif yang sudah ada di benaknya. Sebagai contoh, guru meminta siswa untuk menghitung 11+13+15+......+19 dengan berbagai cara sebelum ia membahas rumus umumnya.
6.      Kesalahan yang sudah terbentuk didalam benak siswa sangat sukar untuk diperbaiki, diperlukan proses akomodasi untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, hasnya memberi tahu saja bahwa ia salah adalah tidak cukup. Guru pertama kali harus memberikan contoh-contoh dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat meyakinkan siswa bahwa ia salah.  Setelah itu, guru mendiagnosis kesalahan siswanya. Berdasarkan hasil diagnosis itulah berbaikan dapat dilakukan.[7]

                Ayat al-qur’an mengenai Ranah kognitif
Ranah psikologi siswa yang paling terpentig adalah ranah kognitif. Ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif psikologi kognitif adalah sumber sekaligus pengendalian ranah-ranah kejiwaan lainnya, yakni ranah afektif (rasa) dan ranah psikomotorik (karsa). Tidak seperti organ-oragan tubuh lainnya, organ otak sebgai markas fungsi kognitif bukan hanya menjadi penggerak aktivitas akal pkiran, melainkan juga menara pengontrol aktivitas perasaan dan perbuatan.  Sebagai menara pengotrol, otak selalu bekerja siang dan malam. Sekali kita kehilangan fungsi-fungsi kognitif karena kerusakan berat pada otak, martabat kita hanya berbeda sedikit dengan hewan.
Demikian pula hanya orang yang menyalahgunakan kelebihan kemampuan otak untuk memuaskan hawa nafsu dengan mempertuhan hawa nafsunya, martabat orang terbentuk tak lebih darimartabat hewan atau mungkin lebih rendah lagi. Kelompok orang yang bermartabat rendah seperti ini dilukiskan dalam Al-Qur’an oleh Allah SWT.
QS. Al-furqan : 44
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا
Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami[20]Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya. (44)
Selain itu, orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang sudah barang tentu karena memiliki kelebihandalam hal kemampuan otak, apabila tidak disertai dengan iman akan cenderung memanipulasi (mengubah seenaknya) kebenaran dari Allah yang semestinya dipertahankan. Adanya orang-orang seperti ini telah ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an, Q.S Al-Baqarah : 75
أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Maka apakah kamu (wahai kaum muslim) sangat mengharapkan mereka akan percayakepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu merekamengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahui?. (75)
Itulah sebabnya, pendidikan dan pengajaran perlu diupayakan sedemikian rupa agar ranah kognitis para siswa dapat berfungsi secara positif  dan bertanggungjawab dalam arti tidak menimbulkan nafsu serakah dan kedustaan yang tidak hanya akan merugikan diri sendirinya saja, tetapi juga meurgikan orang lain.[8]
Gambar. 2.2 Grafik mengenai tingkatan ranah kognitif[9]

 






          RENCANA PELAKSANAANPEMBELAJARAN
(RPP)


Materi pembelajaran : Al-Qur’an dan Ilmu Tajwid
Tingkatan                  : SD/MI (TPQ)
Pokok pembahasan   : Hukum Tajwid
Stndar Kompetensi    :   3. Menerapkan cara membaca Al-Qur’an dengan baik.
Kompetensi Dasar   : 3.1.Menjelaskan pengertian Hukum tajwid dan pentingnya  membaca Al-Qur’an     dengan baik
Indikator                   : 3.1.1. Menjelaskan pengertian dan pentingnya membaca Al-qur’an
                                   3.1.2. Menjelaskan pengertian dan pentingnya hukum tajwid
Waktu                        :  1 X 60 Menit (1 X pertemuan)

A.    Tujuan pembelajaran
1.      C2 – C1 = menjelaskan - melafalkan
·         Siswa mampu menjelaskan kembali pengertian Al-qur’an dan hukum tajwidnya.
·         Siswa mampu melafalkan/melafazkan bacaan al-qur’an dengan disertai hukum-hukum tajwidnya.

Penjelasan perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
    Perkembangan kognitif dalan pembelajaran ilmu Tajwid ini adalah, seberapa jauh siswa telah mengetahui, memahami, dan menghafalkan bacaan Al-Qur’an dengan hukum-hukum tajwid yang telah diajarkan. Agar tercapainya tujuan perkembangan kognitif pada siswa, ada beberapa cara :
a.       Guru menerangkan manfaat, pahala dan kewajiban serta keindahan apa saja ketika membaca Al-Qur’an disertai hukum-hukum tajwid yang benar.
b.      Guru menjelaskan pengertian hukum tajwid yang akan diajarkan sesuai dengan tingkat pemahaman siswa.
c.       Guru memberi contoh cara-cara melafadkan ayat yang mengandung hukum tajwid yang sedang diajarkan dan agar kemudian siswa membaca kembali apa yang telah di contohkan guru.
d.      Guru memberi waktu luang siswa untuk bertanya jika mendapatkan kesulitan untuk memahami hukum tajwid yang sedang dipelajari.

2.      P2-P3 = menerapkan - menyempurnakan
·    Siswa mampu menerapkan hukum tajwid yang telah dipelajari kedalam bacaan Al-Qur’an dengan baik dan mengamalkan makna Al-qur’an ke dalam kehidupan sehari-hari.
·         Siswa mampu menyempurnakan cara bacaan Al-Qur’an yan baik dan benar.

Penjelasan perkembangan psikomotorik
Perkembangan psikomotorik adalah perkembangan kepribadian manusia yang berhubungan dengan gerakan jasmaniah dan fungsi otot akibat adanya dorongan dari pemikiran, perasaan dan kemauan dari dalam diri seseorang. Ciri khas dari keterampilan motorik adalah otomatisme, yaitu rangkaian gerak-gerik yang berlangsung secara teratur dan berjalan lancar tanpa dibutuhkan banyak refleksi atau berfikir terhadap apa yang harus dilakukan dan mengapa harus mengikuti suatu gerakan.
Perilaku psikomotorik memerlukan koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (persyarafan dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif, dan konatif). Loree menyatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus di kuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau awal masa kanak-kanaknya ialah berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). Kedua jenis keterampilan psikomotorik ini merupakan basis bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks seperti yang kita kenal dengan sebutan bermain (playing) dan bekerja (working).
Dua prinsip perkembangan utama yang tampak dalam semua bentuk perilaku psikomotorik ialah (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dan yang sederhana kepada yang kompleks, (2) dan yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik tetapi terkoordinasikan (finely coordinated movements).
Pada saat yang sama, kalau pada fase sebelumnya, anak perlu menciptakan sense of identity sebagai seorang manusia dan kepercayaan untuk melakukan eksplorasi sendiri, maka pada fase ini yang harus diciptakan adalah identitas diri macam apa, terutama sehubungan dengan jenis kelamin mereka.
Seperti Andi bilang, anak belajar menjadi lelaki atau perempuan bukan hanya dari alat kelamin tapi juga dari perlakuan sekeliling pada mereka. Fase inilah konon yg berperanan besar dalam menentukan identitas ini karena pengaruh kelamin mulai dirasakan secara psikologis: Anak lelaki menjadi lebih sayang pada ibu dan tidak begitu senang pada bapak sementara anak perempuan menjadi dekat bapak dan merasa disaingi.

Dalam perkembangan psikomotorik siswa, dengan pembelajaran hukum-hukum tajwid ini, diharapkan dalam pembacaan Al-Qur’an nya siswa mampu menyempurnakan bacaannya dengan baik dan benar, menerapkan setiap hukum-hukum tajwid yang telah dipelajari dan melaksanakan serta mengembangkan keindahan-keindahan dalam bacaan Al-Qur’an nya setiap saat. Agar tercapainya perkembangan psikomotorik tersebut, maka ada beberapa cara pembelajaran :

a.    Guru terus-menerus memberikan latihan-latihan cara membaca Al-Qur’an dengan menghidupkan hukum-hukum tajwid yang telah diajarkan.
b.      Guru memberikan berbagai motivasi dan nasihat-nasihat agar siswa terus ingin mempelajari Al-Qur’an serta menerapkan setiap hukum tajwid dalam setiap bacaannya.
c.       Guru merumuskan cara-cara bacaan Al-qur’an yang baik beserta hukum Tajwidnya.
d.      Guru memberikan latihan lebih kepada siswa baik tulisab maupun lisan agar mereka terbiasa dengan hukum-hukum tajwid yang tealah diajarkan.

3.      A3-A5 = meyakini – membiasakan
·         Siswa mampu meyakini pentingnya membaca Al-qur’an dengan baik yang disertai dengan hukum tajwidnya.
·         Siswa mampu membiasakan diri untuk selalu membaca Al-qur’an dengan menerapkan hukum-hukum tajwidnya.

     Penjelasan Perkembangan Afektif
Afektif menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah berkenaan dengan rasa takut atau cinta, mempengaruhi keadaan, perasaan dan emosi, mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan.Seseorang individu dalam merespon sesuatu diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan tetapi pada saat tertentu dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya.
Afektif mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki oleh setiap peserta didik, yang juga perlu mendapatkan perhatian dalam pembelajaran. Pemahaman guru tentang perkembangan afektif siswa sangat penting untuk keberhasilan belajarnya. Asfek afektif tersebut dapat terlihat selama proses pembelajaran, terutama ketika siswa bekerja berkelompok.
Perbuatan atau perilaku yang disertai perasaan tertentu disebut warna afektif yang kadang-kadang kuat, lemah atau tidak jelas. Pengaruh dari warna afektif tersebut akan berakibat perasaan menjadi lebih mendalam, perasaan ini disebut emosi.
Pada usia anak di taman kanak-kanak, guru harus memberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk perkembangan diri kelak, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler. Selain itu, seorang anak akan menghadapi berbagai tugas perkembangan, seperti belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya, membentuk konsep diri yang baik, mulai mengembangkan peran sosial sesuai gender-nya serta mengembangkan hati nurani, akhlak dan tata nilai pengertian. Pada masa itu pula seorang anak tidak saja membutuhkan bimbingan dari orang tua, tetapi juga guru, tokoh-tokoh masyarakat lainnya dan juga teman-teman. Selain itu, kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar juga memegang peran kritis, tidak seperti ketika berusia balita, dimana pengalaman belajar tersebut dilakukan hanya dengan bantuan orang tua dan orang di sektar lingkungan terdekatnya.

B.     Materi pembelajaran
1.      Al-Qur’an
Menurut bahasa, “Qur’an” berarti “bacaan”, pengertian seperti ini dikemukakan dalam Al-Qur’an sendiri yakni dalam surat Al-Qiyamah, ayat 17-18:  “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami. (Karena itu), jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya”.
Adapun menurut istilah Al-Qur’an berarti: “Kalam Allah yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad, yang disampaikan secara mutawatir dan membacanya adalah ibadah”.
Selain itu, isi kandungan Al-Qur’an selalu terjaga keasliannya dari pemalsuan, pengubahan, pengurangan, atau bahkan penambahan isi. Tidak ada siapapun atau secerdas apapun yang mampu mengubah isi Al-Qur’an dan tidak akan pernah dapat melakukannya. Walapun ada, akan segera terbongkar kedoknya dan usahanya tidak akan pernah berhasil dengan cara apapun. Hal tersebut telah ditegaskan oleh Allah dalam Surah Al-Hijr ayat:9.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”
Janji Allah SWT tentang pemeliharaan Al-Qur’an tidak mungkin ingkar. Al-Qur’an akan terus terjaga kesucian dan keasliannya dari tangan-tangan kotor para kufar atau orang-orang kafir di zaman manapun. Hal tersebut terjadi pada zaman Rasulullah SAW, di mana pada masa itu terdapat seorang Musailamah Alkadzab yang mengaku nabi. Secara terang-terangan ia pun meniru Al-Qur’an dengan mengubah sebuah surat dalam Al-Qur’an dengan nama suratnya yaitu Ad-Dibda’u atau seekor katak. Akan tetapi, pada akhirnya ia tewas bersama para pengikutnya dalam sebuah peperangan di Yamamah, di tangan pasukan muslim di bawah komando Abu Bakar Ash Shiddiq RA.
 Definisi Al-Qur’an adalah Kalamullah  yang selalu terjaga keasliannya. Disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikan Jibril secara mutawatir, dan membacanya adalah suatu ibadah.

     FUNGSI AL QURAN
1.      Petunjuk bagi Manusia. 
   Allah swt menurunkan Al-Qur’an sebagai petujuk umar manusia,seperti yang dijelaskan dalam surat (Q.S AL-Baqarah 2:185 (QS AL-Baqarah 2:2) dan (Q.S AL-Fusilat 41:44)

2.      Sumber pokok ajaran islam.
     Fungsi AL-Qur’an sebagai sumber ajaran islam sudah diyakini dan diakui kebenarannya oleh segenap hukum islam.Adapun ajarannya meliputi persoalan kemanusiaan secara umum seperti hukum, ibadah, ekonomi, politik, social, budaya, pendidikan, ilmu pengethuan dan seni.

3.      Peringatan dan pelajaran bagi manusia.
     Dalam AL-Qur’an banyak diterangkan tentang kisah para nabi dan umat terdahulu,baik umat yang taat melaksanakan perintah Allah maupun yang mereka yang menentang dan mengingkari ajaran Nya.Bagi kita,umat uyang akan datang kemudian rentu harus pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah yang diterangkan dalam Al-Qur’an.

4.      sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw.
      Turunnya Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat yang dimilki oleh nabi Muhammad saw.

2.      Hukum Tajwid
Menurut bahasa, tajwid artinya MEMBAGUSKAN. Sedangkan menurut istilah, tajwid adalah membaguskan bacaan Al-Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid yang berlaku. Imam Ali bin Tholib mengatakan bahwa Tajwid adalah mengeluarkan setiap huruf dari makhrojnya dan memberikan hak setiap huruf (yaitu sifat yang melekat pada huruf tersebut seperti qolqolah, Hams, dll) dan mustahaq huruf (yaitu sifat-sifat huruf yang terjadi karena sebab-sebab tertentu, seperti izhar, idghom, dll.)
    Adapun pengertian ilmu tajwid menurut istilah adalah ilmu yang membahas tata cara membaca Al-Qur’an.
Hukum Mempelajarinya
Mempelajari tajwid sebagai suatu ilmu pengetahuan hukumnya Fardhu Kifayah yaitu jika sudah ada yang mempelajari istilah-istilah dan teori ilmu tajwid maka kewajiban itu gugur bagi yang lainnya. Adapun mempraktekan ilmu tajwid dalam membaca Al-Qur’an adalah Fardhu ‘Ain, yaitu kewajiban setiap umat Islam.
     Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Muzammil ayat 4
تَرْتِيلا الْقُرْآنَ وَرَتِّلِ
      “Dan bacalah Al Qur’an dengan Tartil” 
     Karena mempraktekan tajwid dalam membaca Al Qur’an adalah wajib sedang mempelajari sitilah-istilahnya adalah fardhu kifayah.
      Sedangkan menurut Ibnu Katsir Tartil artinya membaca Al-Qur’an dengan perlahan-lahan dan hati-hati karena itu akan membantu pemahaman dan tadabbur.

C.   Metode Pembelajaran
·         Ceramah
·         Tanya jawab
·         Belajar sambil bermain (games)
·         Kerja kelompok
·         Latihan dan evaluasi


D.   Kegiatan Pembelajaran :
a.       Kegiatan awal
-          Guru memberi salam dan membaca doa bersama sebelum belajar
-          Murid menyiapkan  Al-Qur’an, panduan hukum tajwid, buku tulis dan alat tulis (pulpen atau pensil)
-          Guru menjelaskan pengertian dan pentingnya membaca Al-Qur’an.
b.      Kegiatan inti
-          Murid membaca Al-qur’an satu persatu
-          Guru menjelaskan hukum tajwid secara bertahap dan meberi contoh-contohnya
-          Guru memberi soal/pertanyaan terkait dengan hukum tajwid yang telah di jelaskan
c.       Kegiatan akhir
-          Membaca surat-surat pendek bersama-sama
-          Membaca shalawat bersama-sama
-          Guru memberi tambahan doa-doa pendek
-          Membaca doa penutup majelis bersama-sama

E.    Alat atau Sumber Belajar
1.      kitab suci Al-Qur’an.
2.      buku pelajaran Tajwid praktis dan lengkap.
F.    Penilaian
       1. Teknik              : Tes Tulis dan tes lisan
       2. Bentuk Tes       : uraian dan membaca
G.   Penutup
Intrumen
1.      Jelaskan Pengertian dan pentingnya membaca Al-Qur’an !
2.      Jelaskan Pengertian hukum tajwid !
3.      Tuliskan contoh hukum-hukum tajwid yang telah dipelajari!


Penjelasan Perkembngan konsep diri dan emosi.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia istilah konsep, memiliki arti gambaran, proses atau hal-hal yang digunakan oleh akal budi untuk memahamin sesuatu. Istilah diri berarti bagian-bagian dari individu yang terpisah dari yang lain. Konsep diri dapat diartikan sebagai gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri atau penilaian terhadap dirinya sendiri. Sednagkan emosi didefinisikan sebagai keadaan budi rohani yang menampakkan dirinya dengan suatu perubahan yang jelas pada tubuh.emosi dapat dipandang sebagai sumber kecerdasan, kepekaan, berperan menghidupkan perkembangan dan penalaran yang baik. Untuk mengembangkan konsep diri dan emosional pada siswa dalam pembelajaran ilmu tajwi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru pada waktu pembelajaran berlangsung :
1.      Sebelum pembelajaran dimulai, guru bertanya pada siswa seberapa besar minat dan niat siswa dalam mempelajari Al-Qur’an.
2.      Selain bertanya tentang niat dan minat, agar siswa mampu mengembangkan emosional dalam dirinya sejak dini, guru mempersilahkan siswa untuk berpendapat sesuai dengan apa yang telah dipahaminya.
3.      Agar siswa semakin antusias dan aktif pada saat pembelajaran berlangsung, guru menciptakan games yang sesuai dengan ilmu tajwid yang sedang dipelajari.

Perkembangan nilai ,moral dan sikap
Nilai merupakan dasar pertimbangan bagi individu untuk sesuatu, moral merupakan perilaku yang seharusnya dilakukan atau dihindari, sedangkan sikap merupakan predikposisi atau kecenderungan individu untuk merespon terhadap suatu objek atau sekumpulan objek debagai perwujudan dari sistem nilai dan moral yang ada di dalam dirinya. Sistem nilai mengarahkan pada pembentukan nilai-nilai moral tertentu yang selanjutnya akan menentukan sikap individu sehubungan dengan objek nilai dan moral tersebut. Dengan sistem nilai yan dimiliki individu akan menentukan perilaku mana yang harus dilakukan dan yang harus dihindarkan, ini akan tampak dalam sikap dan perilaku nyata sebagai perwujudan dari sistem nilai dan moral yang mendasarinya.

Dalam pembelajaran tajwid ini tentunya mengandung  nilai agama, yang dapat membentuk moral serta sikap
siswa kearah yang religius, berakhlak mulia dan cinta qur’ani. Untuk tercapainya tujuan tersebut, dapat
dengan cara :
1.      Guru menyediakan waktu untuk menjelaskan materi tentang akhlak mulia serta prilaku-prilaku yang baik dalam agama.
2.      Disetiap akhir pembelajaran guru memberikan nasihat-nasihat dalam hal prilaku yang baik.
3.      Guru menerangkan kebaikan-kebaikan apa saja yang akan diperoleh jika siswa memiliki akhlak yang baik, menati nilai-nilai agama, memiliki moral yang baik serta sikap yang baik.

Perkembangan kreativitas
Dengan berkreasi, orang dapat mewujudkan dirinya, perwujudan diri tersebut termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Menurut Maslow (Munandar, 1999) kreativitas juga merupakan manifestasi dari seseorang yang berfungsi sepenuhnya dalam perwujudan dirinya. Kreativitas sebagai kemampuan untuk melihat kemungkinan-kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal. Siswa lebih dituntut untuk berpikir linier, logis, penalaran, ingatan atau pengetahuan yang menuntut jawaban paling tepat terhadap permasalahan yang diberikan. Kreativitas yang menuntut sikap kreatif dari individu itu sendiri perlu dipupuk untuk melatih anak berpikir luwes (flexibility), lancar (fluency), asli (originality), menguraikan (elaboration) dan dirumuskan kembali (redefinition) yang merupakan ciri berpikir kreatif yang dikemukakan oleh Guilford (Supriadi, 2001).
 Agar siswa tidak hanya cerdas dalam segi kognitifnya pada ilmu tajwid, namun juga tampil kreatif, ada beberapa yang harus dilakukan guru, diantaranya :
1.      Membentuk kelompok siswa dan kemudian memberi tugas yang sifanya kreatif
2.      Menciptakan berbagai games agar siswa terapil kratif.

 Cara mengatasi lupa dan jenuh dalam belajar
       Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak  ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya, antara lain :
1.      Over learning (belajar lebih ), setealah usai pembelajaran guru memberikan pekerjaan rumah (PR) agar siswa tidak mudah lupa dengan apa yang telah dipelajari.
2.      Extra study time (tambahan waktu belajar), untuk lebih meningkatkan kualitas belajar siswa dan tidak mudah lupa, guru menambahkan waktu belajar dengan sistem permainan.
3.      Menciptakan lagu dengan liric yang berkaitan dengan huruf-huruf hukum tajwid dan di nyanyikan disetiap awal pembelajaran berlangsung, agar siswa cepat lupa.
     Kejenuhan belajar dapat melanda siswa apabila ia telah kehilangan motivasi dan kehilangan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tetentu sebelum siswa tertentu sampai pada tingkat keterampilan berikutnya (Chaplin, 1972). Selain itu, kejenuhan juga dapat terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaniahnya karena bosan (boring) dan keletihan (fatigue). Namun, penyebab kejenuhan yang paling umum badalah keletihan yang melanda siswa, karena keletihan dapat menjadi penyebab munculnya perasaan bosan pada siswa yang bersangkutan.cara mengatasi jenuh dalam pembelajaran Ilmu Tajwid :
1.      Menyediakan waktu istirahat agar keletihan dan kejenuhan siswa berkurang
2.      Memberikan motivasi-motivasi belajar
3.      Bercerita tentang kisah-kisah lampau/ dongeng
 

Daftar pustaka

Syah, Muhibin.1999. psikologi belaja. Jakarta : Logos
Slavin, Robert E.2011. psikologi pendidikan teori dan praktik. Jakarta : Indeks
Muhammad Thobroni dan Arif Mustofa. 2011. belajar dan pembelajaran. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media



[1] Muhibin syah, psikologi belajar, ( Jakarta : Logos, 1999)hlm.  21
[2] Ibid, hlm. 22
[3] Muhammad Thobroni dan Arif Mustofa, belajar dan pembelajaran, ( Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2011) hlm. 93
[5] Ibid, hlm. 95-97
[6] Robert E. Slavin, psikologi pendidikan teori dan praktik, ( Jakarta : Indeks, 2011).hlm.235-236
[7] Muhammad Thobroni dan Arif Mustofa, belajar dan pembelajaran, ( Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2011) hlm.104-105
[8] Muhibin syah, psikologi belajar, ( Jakarta : Logos, 1999)hlm.  47-48