Minggu, 15 Juni 2014

keniscayaan Guru mendidik dengan Cinta



Guru Profesional
Mendidik Dengan Cinta
Definisi Guru
Guru adalah seseorang yang cenderung dipandang sebagai sosok yang terhormat oleh Masyarakat. Profesi guru merupakan profesi yang sangat mulia. Kata guru berasal dari bahasa Sanskerta guru yang juga berarti guru secara harfiyahnya didefinisikan sebagai “berat” adalah pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik.[1]
Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam definisi yang lebi luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.[2] Dalam keluarga guru dan pendidik yang paling utama bagi anak adalah kedua orang tua. Seperti yang kita ketahui, pada saat anak yang masih berumur 0-3 tahun ia akan mendapatkan pengajaran atau pendidikan dari kedua orang tuanya, ia akan diberikan pelajaran dan pelatihan bagaimana cara berjalan, satu, dua atau tiga patah cara berbicara, menyebutkan kata ayah atau ibu dan lain sebagainya, yang bagi seorang anak itu adalah merupakan hal yang baru mereka pelajari. Begitupun seterusnya, peran orang tua sebagai guru di dalam keluarga harus terus terjaga dan harus terus berjalan. Ketika usia anak telah berkembang seiring dengan pertumbuhannya yang cepat, orang tua sebagai guru dalam keluarga harus terus senantiasa memberi nasihat, contoh-contoh kehidupan yang baik diiringi dengan kasih sayang dan cinta serta ketegasan namun bukan dengan kekerasan apabila anak melakukan kesalahan. Dengan demikian, akan terwujud anak-anak yang memiliki kepribadian baik, penuh kasih sayang dan berakhlak mulia serta patuh pada kedua orang tua. Begitupun dengan seorang guru, alangkah baiknnya jika mengajar dan medidik peserta didik dengan didasari kasih sayang dan cinta.
Beberapa istilah yang juga menggambarkan peran Guru, antara lain adalah sebagai berikut:
1.     Dosen
2.    Ustadza/Kyai/ Ajengan
3.    Mentor / fasilitator
4.    Instruktur
5.    Tutor/ Pamong
Kemudian dalam agama hindu, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (Vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual/kejiwaan murid-muridnya.
Menurut Imam Al-Ghazali, seorang guru harus memiliki kelebihan dari murid-muridnya. Salah satu kriteria yang tidak bisa dihilangkan untuk menjadi guru adalah kapasitas ilmu pengetahuan yang dimilikinya harus berada jauh melebihi murid-muridnya. Lebih dari itu, guru juga harus menjadikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sebagai dasar segala tingkah laku dan perbuatan yang dilakukannya. Karena itu, setiap kali seorang guru mengambil keputusan atau melakukan tindakan, dia harus memikirkannya dahulu secara matang, terarah, teratur, dan tidak ngawur.[3]
Guru profesional

Istilah profesi sudah cukup dikenal oleh semua pihak, dan senantiasa melekat pada “guru” karena tugas guru sesungguhnya merupakan suatu jabatan profesional. Biasanya sebutan “profesi” selalu dikaitkan dengan pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, tetapi tidak semua pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian para pemangunya. Hal ini mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarangan orang karena memrlukan suatu persiapan melalui pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan khusus untuk hal itu.
Profesional mempunyai makna yang mengacu kepada sebutan tentang orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengan profesinya. Penyandang dan penampilan “profesional” ini telah mendapat pengakuan, baik secara formal maupun informal. Pengakuan sevara formal diberikan oleh suatu badan atau lembangan yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah dan atau organisasi profesi. Sedangkan secara informal, pengakuan itu diberikan oleh masyarakat luas dan para pengguna jasa suatu profesi. Sebagai misalnya, sebutan “guru profesional” adalah guru yang telah mendapat pengakuan secara formal berdasarkan ketentuan yag berlaku, baik dalam kaitan dengan jabatan ataupun latar belakang pendidikan formalnya. Pengakuan ini dinyatakan dalam bentuk surat keputusan, ijazah, akta, sertifikat, baik yang menyangkut kualifikasi maupun kompetensi.[4]
Guru sebagai pedidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.[5]  Sebagai guru yang profesional dalam bidangnya, dimana seorang guru tidak hanya di haruskan untuk memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas saja, tetapi juga wajib memiliki sikap yang baik karea seperti yang telah di sebutkan diatas, bahwa guru adalah sosok yang menjadi panutan dan teladan bagi peserta didik juga masyarakat. Oleh karena itu ada dua sikap yang harus dikembangkan dalam diri seorang Guru. Pertama, pengembangan sikap selama pendidikan prajabat. Dalam pendidikan prajabat, calon guru dididik dalam berbagai pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaannya nanti. Karena tugasnya yang bersifat unik, guru selalu menjadi panutan bagi siswanya, dan bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Pembentukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja, tetapi harus dibina sejak calon guru memulai pendidikannya dilembaga pendidikan guru. Kedua, pengembangan sikap selama dalam jabatan. Pengembangan sikap profesional tidak berhenti apabila calon guru selesai mendapatkan pendidikan prajabatan. Banyah usaha yang dapat dilakukan dalam meningkatkan sikap profesional keguruan dalam masa pengabdiannya sebagai guru. Peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya, ataupun secara informal melalui media masa televisi, radio, koran, dan majalah maupun publikasi lainnya.kegiatan ini selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus dapat juga meningkatkan sikap profesional keguruan.[6] Kemudian tidak hanya itu, seorang guru yang profesional adalah seorang guru yang benar-benar mencintai profesi dan pekerjaannya sebagai guru, yang dimana ia mengajar tidak hanya sekedar mentrasfer ilmu pada murid, tapi juga membentuk karakter dan watak murid dengan mengajar disertai kasih sayangnya pada murid, dan dengan sikap guru yang ramah, baik, bersahabat, penuh kasih sayang, perhatian, dan tegas tapi tidak disertai dengan kekerasan.

Ilustrasi Cinta
Cinta, sesuatu yang tak terlihat namun dapat dirasakan. Bicara soal Cinta, setiapa manusia memiliki perasaan cinta tersendiri yang disarakannya pada suatu objek, bukan hanya pada lawan jenis saja, tapi pada suatu objek lainnya yang disenangi atau digemari.  Memang tak bisa dipungkiri bahwa cinta memang merupakan urusan yang paling penting dalam kehidupan manusia. Tidak ada urusan lain yang lebih menyita perhatian manusia selain urusan cinta. Tanpa cinta manusia memang tak dapat menjadi manusia seutuhnya. Sejak zaman kuno hingga zaman modern-kontemporer, cinta mempunyai tempat yang sangat istimewa dalam kehidupan manusia. Hanya dengan cinta manusia dapat memabangun kehidupan bersama. Cinta merupakan sikap dasar ideal yang memungkinkan dimensi sosial manusia menentukan bentuknya yang khas manusia. Cinta adalah sebuah kasih sayang, sebuah keperdulian, sebuah kesimpatian, dan sebuah keikhlasan. Cinta pertama yang perlu di ketahui manusia adalah Cinta Allah SWT pada setiap hamba-hamba-Nya, dengan cinta Allah ciptakan bumi ini, dengan cinta Allah mengampuni setiap hamba-hamba-Nya yang memohon ampunan kepada-Nya, dengan cinta Allah utus para Nabi dan Rasull-Nya untuk memberikan petunjuk dan tuntunan menuju kebenaran dan kasih sayang Allah, dengan cinta pula Allah turunkan kitab suci Al-Qur’an untuk dijadikan pedoman hidup bagi hamba-hamba-Nya agar dapat meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun diakhiran dengan kasih sayang dan ridho Allah. Kemudian, cinta seorang ayah dan ibu. Cinta kedua orang tua pada anaknya yang tak pernah habis terlekang oleh ruang dan waktu, kasih sayangnya yang tak pernah luntur oleh masa, dukungan, suport dan pengorbanannya hanya dicurahkan untuk anak-anaknya tanpa pamrih. Mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka, tanpa lelah mereka mendidik anak-anaknya dengan segala kemampuannya dan tak pernah lelah mereka membiayai anak-anaknya agar mendapatkan pedidikan yang terbaik disekolahnya, itu semua hanya untuk masa depan anak-anak mereka agar memiliki kehidupan yang terbaik, bahagia, sejahtera, dan sukses. Bagi mereka kebahagiaan anaknya adalah merupakan kebahagiaanya juga. Begitu pulalah seharusnya seorang guru profesional yang benar-benar mengabdi dan mencintai profesinya dan tentun seharusnya juga mencintai murid-muridnya.
Jika siswa menerima cinta dari gurunya, dia akan melihat itu sebagai wujud cinta kedua orangtuanya yang selanjutnya dia lukiskan sebagai suatu keindahan. Bak keindahan sebuah puisi. Istilah guru dapat diartikan digugu lan ditiru (dipercaya dan diteladani). Istilah tersebut berarti bahwa sosok guru sangat dipercaya oleh siswa dan segala perilaku guru dicontoh anak didiknya. Dalam pengertian itu, seorang siswa selayaknya mematuhi apa yang dikatakan dan diperintah guru.
Guru Mendidik dengan Kasih Sayang dan Cinta
Dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (value) serta membangun karakter (character building) peserta didik secara berkelanjutan. Dalam terminologi islam, guru diistilahkan dengan murabby, satu akar kata dengan Rabb yang berarti Tuhan. Jadi, fungsi dan peran guru dalam sistem pendidikan merupakan salah satu menifestasi dari sifat ketuhanan. Demikian mulianya posisi guru, sampai-sampai Tuhan, dalam pengertian sebagai rabb mengidentifikasikan diri-Nya sebagai rabbul’alamin “ Sang Maha Guru”, “Guru Seluruh jagat raya”. Dua hal prinsip dalam konteks membicarakan mengenai profesi guru, pertama,  adanya semangat keterpanggilan jiwa, pengabdian dan ibadah. Profesi pendidik merupakan profesi yang mempunyai kekhususan dalam membentuk watakserta peradaban bangsa yang bermartabat dan memerlukan keahlian, idealisme, kearifan, dan keteladanan melalui waktu yang panjang. Kedua, adanya prinsip profesionalitas, keharusan adanya kompetensi dn kualifikasi akademik yang dibutuhkan, serta adanya penghargaan terhdap profesi yang diemban. Setinggi apapun idealisme dan rasa keterpanggilan jiwa seseorang untuk megajar, tanpa disertai prinsip profesionalitas maka pekerjaannya akan sia-sia, bahkan berbuah kehancuran dan dosa.[7]
Kenisayaan guru harus mendidik anak (murid) dengan Hati ? bukankah hati tidak pernah berdusta dan penuh cinta serta kasih sayang ? hati  selalu jujur, lemah lembut dan penuh asih. Tidakkah bahagia yang terasa bila guru menididik anak (murid) dengan penuh cinta dan kasih sayang?. Selama ini para guru bangga jika anak (murid) takut kepada mereka, padahal, kepatuhan dan ketaatan yang mereka tunjukan hanyalah fatamorgana. Mereka menuruti keinginan guru, tetapi bertolak belakang dengan apa yang ada dalam hati mereka. Siksaan batin yang mereka rasakan lebih perih dan sakit dari pada kekerasan yang guru lakukan. Bahkan, mungkin tidak akan pernah mereka lupakan sepanjang hayat. Betapa nikmat jika anak didik menghormati guru sebagai orang tua atau pendidik tanpa ada paksaan. Betapa indah jika benak anak didik menggambarkan sosok guru sebagai sosok bijak, demokratis, menghargai anak (murid). Guru bukan momok yang menakutkan bagi anak didik. Guru adalah teman, kakak, adik, orang tua, yang dapat memberikan inspirasi, dukungan, serta menjadi teladan di kehidupan mereka. Menanamkan disiplin kepada anak didik memang tidak mudah. Namun, itu dapat seorang guru terapkan, asal sesuai dengan karakter dan kepribadian anak (murid). [8]
Disiplin tidak selalu identik dengan kekerasan. Kata-kata tegas sudah cukup. Tidak perlu membentak-bentak, apalagi main tangan. Bahkan, dengan kata-kata lembutpun guru dapat menerapkan disiplin kepada anak (murid). Setiap anak pasti memiliki dua sisi potensi, yaitu potensi baik dan potensi buruk. Saat anak melakukan suatu keburukan atau menentang apa yang di anjurkan gurunya, tidak jarang guru yang memberikan hukuman pada mereka, dengan alasan agar mereka kapok dan mau mengikuti semua apa yang di perintahkan guru. Padahal hal itu tindakan yang kurang dan mungkin sangat tidak baik di lakukan.tindakan yang lebih baik, ajari mereka sikap tegas namun dengan kelembutan dan kasih sayang, contohkan pada mereka bahwa akan lebih baik jika suatu keburukan di balas dengan kebaikan. Jadikanlah anak didik menjadi anak-anak yang penuh cinta dan kasih sayang. Ajarkan pada mereka bahwa kekerasan bukanlah solusi dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Guru harus menididik anak didik dengan penuh cinta dan hati tulus tanpa pamrih.
Terdapat dua faktor penting pada diri guru, yakni kepercayaan kepada guru (source credibility) dan daya tarik guru (source attractiveness). Kedua hal ini berdasarkan posisi siswa yang akan menerima pesan sebagai berikut.
1.     Hasrat seseorang untuk memperoleh suatu pernyataan yang benar sehingga guru mendapat kualitas komunikasinya sesuai dengan kualitas kepercayaan yang diperolehnya dari siswa dari apa yang dinyatakannya.
2.    Hasrat seseorang untuk menyamakan dirinya dengan guru atau bentuk hubungan lainnya dengan guru yang secara emosional  memuaskan sehingga guru akan sukses dalam komunikasinya, jika berhasil memikat perhatian siswa.[9]
Kepercayaan kepada guru (source credibility) ditentukan oleh keahliannya dan dapat tidaknya ia dipercaya. Penelitian menunjukan bahwa kepercayaan yang besar akan meningkatkan daya perubahan sikap, sedangkan kepercayaan kecil akan mengurangi daya perubahan yang menyenangkan. Lebih dikenal dan disenanginya guru oleh siswa, menyebabkan siswa lebih cenderung untuk mengubah kepercayaannya kearah yang dikehendaki guru.kepercayaan kepada guru mencerminkan bahwa pesan yang diterima siswa dianggap benar dan sesuai dengan kenyataan empiris. Pada umumnya diakui bahwa pesan yang dikomunikasikan mempunyai daya pengaruh yang lebih besar, apabila guru dianggap sebagai seorang ahli. Apakah keahliannya itu khas, atau bersifat umum seperti yang timbul dari pendidikan yang lebih baik atau status sosial atau jabatan profesi yang lebih tinggi. Selain itu untuk memperoleh  kepercayaan yang sebesar-besarnya dari anak didik, guru harus mempunyai keahlian, mengetahui kebenaran, dan cukup objektif dalam memotivasikan apa yang diketahuinya.
Daya tarik guru (source attractiveness) ditentukan oleh kemampuan guru untuk melakukan perubahan sikap melalui mekanisme daya tarik, jika pihak siswa merasa bahwa guru ikutserat dengan mereka dalam  hubungannya dengan opini secara memuaskan. Misalnya guru dapat disenangi atau dikagumi sedemkian rupa sehingga siswa akan menerima kepuasan dari usaha menyamakan diri dengannya melalui kepercayaan yang diberikan. Bisa juga guru dapat dianggap mempunyai persamaan dengan siswa sehingga siswa bersedia untuk tunduk pada pesan yang dikomunikasikan guru.[10] Setiap guru harus mampu memiliki hubungan yang baik pada setiap anak didiknya, karena dengan hubungan dan komunikasi yang baik diharapkan siswa akan semakin bersemangat dalam mengikuti pelajaran, dan usahakan guru untuk memiliki rasa kepekaan terhadap anak didiknya, memahami dan mengerti akan keadaan anak didiknya. Oleh karena itulah, setiap guru mata pelajaran saat ini diwajibkan untuk mempelajari dan mendalami tentang bimbingan dan konseling, dan juga dianjurkan untukselalu mengikuti pelatihan-pelatihan yang telah diselenggarakan oleh pemerintah.
Hasil dan kemajuan belajar yang dicapai siswa ditentukan juga oleh bentuk hubungan antara guru dan siswa, antara guru dan administrator, antara guru dan orangtua siswa. Hubungan guru dan siswa menjadi syarat mutlak, bukan hanya dalan hubungan sebagai pembimbing dan yang dibimbing tetapi juga sebgai mitra belajar. Karena itu, guru harus memahami siswa yang dibimbingnya dan sebaliknya siswa harus mengakui kewibawaan pembimbinganya.
Yusuf qadhari (1999) berpendapat bahwa seseorang dapat membangun sebuah hubungan yang indah dengan orang lain apabila dia sanggup mengatakan hal-hal berikut ini :
1.     Enam kata terpenting,  saya mengakui telah melakukan kesalahan besar. Sosok seorang guru  adalaha sosok yang dikagumi dan dihormati. Hal ini terkadang membuat sang guru merasa seperti “diagungkan” sehingga akan menjadi sangat memalukan baginya untuk mengakui kesalahan yang mungkin telah ia perbuat kepada para siswanya. Salah satu alasannya adalah karena takut kehilangan wibawa. Sesungguhnya mengakui kesalahan adalah lebih baik dari pada menutupi kesalahan karena wibawa seorang guru akan terlihat dari apa yang telah dia lakukan. Sikap mengakui kesalahan dan mau meminta maaf menunjukan kebrsihan hati seseorang.
2.    Lima kata terpenting, anda melakukan guruan dengan baik. Memuji siswa atas keberhasilan yang telah dicapai atau memuji atas setiap usaha yang telah dia lakukan dalam pembelajaran ternyata mampu membantu meningkatkan motivsi belajar. Dengan memberikan pujiuan, berarti seorang guru sedang menumbuhkan kepercayaan diri pada siswanya sehingga siswa tersebut dapat mendorong dirinya sendiri untuk dapat lebih maju dalam meraih kesuksesan belajar. Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidak mampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang sama-sama perlu dihargai.
3.    Empat kata terpenting, bagaimana menurut pendapat anda?. Pertanyaan tentang pendapat siswa adalah sebuah hal yang luar biasa yang sebaiknya dilakukan oleh guru. Dengan pertanyaan demikian, seorang guru memosisikan diri menjadi seorang teman yang membutuhkan pendapat dan hal ini akan membuat siswa belajar untuk saling menghargai.
4.    Tiga kata terpenting, jika anda berkenan... menanyakan dan memberikan pilihan-pilihan kepada siswa sehubungan dengan proses pembelajaran akan membuat siswa berlatih untuk mengambil keputusannya sendiri tanpa ada unsur pemaksaan. Siswa terdidik untuk terus berfikir kreatif dalam mencari pemecahan suatu masalah.
5.    Dua kata terpenting, terima kasih. Kata “terima kasih” adalah sebuah ungkapan yang bermakna luas. Ketika seorag siswa mampu mengatakan terima kasih baik kepada teman atau gurunya, berarti ia memiliki kepekaan bahwa apa yang telah berhasil dia dapatkan adalah bukan karena kehebatannya sendiri, melainkan ada orang lain yang turut membntu. Dari sinilah siswa dapat belajar untuk menyadari bahwa  bekerja sama merupakan hal yang sangat baik untuk dilakukan.
6.    Satu kata terpenting, kita. Kata “kita” menjadi sangat pebting ketika guru mengajak siswanya untuk masuk dalam proses belajar-mengajar. Kata “kita” mengandung kata kesatuan dan kebersamaan. Dalam hal ini, kesatuan dan kebersamaan Mutlak diperlukan untuk mencapai sebuah tujuan belajar.  “bawalah dunia siswa kedunia kita dan antarkan dunia kita kedunia siswa (quantum learning). Semakin jauh anda memasuki dunia siswa, semakin jauh pegaruh  yang dapat anda berikan kepada mereka.” (degeng, 2006)
7.    Satu kata paling tidak penting, saya. Kata “saya”  menjadi tidak penting disini karena kata “saya” menunjukan ego yang berkonotasi negatif. Mengagungan terhadap kemampuan diri sendiri dan tidak memperdulikan orang lain menyebabkan anak memiliki polapokor yang mengarah pada kepentingan diri sendiri. Dia akan mencontoh sikap egois yang ditunjukan sang guru.
8.    Satu kata terburuk, Jangan! Dilarang ! Awas ! Harus! Kata-kata seperti ini sangat sering dikatakan oleh guru terhadap siswanya. Segala sesuatu yang dikerjakan oleh siswa harus sesui dengan apa yang dikehendaki oleh guru. Tidak ada tempat untuk mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran.
9.    Satu kata terindah, Silahkan. Setiap orang mendambakan untuk dapat melakukan hal-hal yang sesuai dengan apa yang dirindukan. Ketika siswa menyatakan kepada guru tentang kerinduannya menyampaikan suatu keinginan atau mmelakukan suatu kegiatan, satu-satunya kata yang diharapkan didengar adalah kata “silahkan”.[11]
Apabila seorang guru telah mampu berkata-kata dalam bahasa cinta kepada siswanya dan begitu juga sebaliknya, akan terjalin hubungan yang harmonis antara guru dan siswa. Hal inilah yang akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Belajar bukan lagi sebuah hal yang membebani dan menakutkan, tetapi belajar adalah sesuatu yang menyenangkan, bebas, santai, penih ketakjuban, dan menggairahkan. Dengan bahasa cinta, hubungan yang kaku dan monoton antara guru dan siswa sudah saatnya diubah menjadi sebuah hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang sehingga tidak ada lagi kata-kotor yang muncul. Sebagai gantinya,  muncul kata-kata terpuji yang bersumber dari kebersihan hati seorang guru untuk menumbuhkan pribadi-pribadi unggul. Idealisme dan rasa cinta mendasari dan menjiwai semua prilaku mendidik menghidupkan kemampuan-kemampuan profesional yang dimiliki. Tanpa idealisme dan rasa cinta, kemampuan-kemampuan prosfesional yang diniliki hanya akan tampak seperti lampu yang kekurangan minyak. Hasil dan kemajuan belajar yang dicapai siswa sangat ditentukan oleh bentuk hubungan antara guru dan siswa, antara guru dan administrator, antara guru dan orangtua siswa.[12]
Dalam mengoptimalkan perkembangan siswa, guru harus menempuh tiga langkah berikut ini :
1.     Mengdiagnosis kemampuan dan perkembangan siswa. Guru harus mengenal dan memahami siswa dengan baik, memahami tahap perkembangan yang telah dicapainya, kemampuan-kemampuannya, keunggulan dan kekurangannya, hambatan yang dihadapi serta faktor-faktor dominan yang memengaruhinya. Setiap perserta didik sebagia individu mempunyai kemampuan, kecepatan belajar, karakteristik dan problem-problem sendiri, yang berbeda dengan individu lainnya. Perkembangan yang optimal hanya mungkin dapat dicapai apabila kegiatan yang dilakukan siswa dan bantuan yang diberikan guru, sesuai dengan kondisi tersebut.
2.    Memilih cara pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. Pembelajaran yang betul-betul disesuaikan dengan perbedaan individual, harus pendekatan pembelajaran yang individual. Pendekatan semacam itu pernah dilaksanakan pada delapan PPSP dengan menggunakan sistem modul, tetapi karena alasan-alasan tertentu, PPSP dibubarkan dan metode tersebut tidak digunakan lagi. Konsep modul dan sistem belajar sendirinya masih dipakai pada SMP dan Universitas terbuka. Disekolah-sekolah biasa umumnya digunakan pendekatan yang bersifat klasikal. Dalam pendekatan klasikal sebenarnya tidak tertutup kemungkinan untuk memerhatikan perbedaan individual. Salah satu prinsip pembelajaran yang efektif adalah menggunakan pendekatan atau metode dan media yang bervariasi “ pendekatan multi metode-multi media”. Dengan menggunakan metode dan media yang bervariasi, perbedaan-perbedaan individual dapat terlayani, disamping pembelajaran menjadi lebih menarik karena sering terjadi pergantian kegiatan. Dalam pembelajaran, guru dapat mengadakan variasi  antara metode yang lebih mengaktifkan guru dengan yang mengaktifkan siswa, antara belajar secara klasik dengan belajara kelompok dan penguasaan yang bersifat individual. Variasi antara yang menekankan pengetahuan dengan keterampilan  dan nilai-nilai,  antara yang hanya menggunakan kapur-papan tulis dengan menggunakan media, antara media yang sederhana dengan media yang lebih kompleks. Demikian pula variasi antara kegiatan yang bersifat menerima, mengolah, menyajikan dan penilaian.
3.    Kegiatan pembimbingan. Pemilihan dan penggunaan metode dan media yang bervariasi tidak dengan sendirinya, akan mengoptimalkan perkembangan siswa. Pelaksanaan metode pembelajaran tersebut perlu disertai dengan usaha-usaha pemberian dorongan, bantuan, pengawasan, pengarahan, dan bimbingan dari guru. Pembimbingan ini diberikan pada saat kegiatan pembelajaran, atau diluar kegiatan pembelajaran.[13]



[1] Abdul Rahmat, kearifan Cinta Sang Guru, (Bandung : MQS Publising, 2009). Hlm. 19
[2] Ibid, hlm 19
[3] Ibid, hlm.20
[4] Mohammad surya,dkk, menjadi guru yang baik, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2010). Hlm.76
[5] Soetjipto, dkk, profesi keguruan, ( Jakarta : PT RINEKA CIPTA, 2011) hlm. 42-43
[6] Ibid, hlm. 54-55
[7] Asrorun ni’am sholeh, membangun profesionalitas Guru, (Jakarta : elsas Jakarta, 2009). Hlm.03-04
[8] Abdul Rahmat, kearifan Cinta Sang Guru, (Bandung : MQS Publising, 2009). Hlm.36
[9] Ibid, hlm. 38
[10] Ibid, hlm. 39
[11] Abdul Rahmat, kearifan Cinta Sang Guru, (Bandung : MQS Publising, 2009). Hlm. 24-26
[12] Ibid, hlm.14-15
[13] Ibid, hlm. 98-100

Tidak ada komentar:

Posting Komentar