Guru Profesional
Mendidik Dengan Cinta
Definisi Guru
Guru
adalah seseorang yang cenderung dipandang sebagai sosok yang terhormat oleh
Masyarakat. Profesi guru merupakan profesi yang sangat mulia. Kata guru berasal
dari bahasa Sanskerta guru yang juga berarti guru secara harfiyahnya
didefinisikan sebagai “berat” adalah pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa
Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta
didik.[1]
Guru
adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam definisi
yang lebi luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga
dianggap seorang guru.[2]
Dalam keluarga guru dan pendidik yang paling utama bagi anak adalah kedua orang
tua. Seperti yang kita ketahui, pada saat anak yang masih berumur 0-3 tahun ia
akan mendapatkan pengajaran atau pendidikan dari kedua orang tuanya, ia akan
diberikan pelajaran dan pelatihan bagaimana cara berjalan, satu, dua atau tiga
patah cara berbicara, menyebutkan kata ayah atau ibu dan lain sebagainya, yang
bagi seorang anak itu adalah merupakan hal yang baru mereka pelajari. Begitupun
seterusnya, peran orang tua sebagai guru di dalam keluarga harus terus terjaga
dan harus terus berjalan. Ketika usia anak telah berkembang seiring dengan pertumbuhannya
yang cepat, orang tua sebagai guru dalam keluarga harus terus senantiasa memberi
nasihat, contoh-contoh kehidupan yang baik diiringi dengan kasih sayang dan
cinta serta ketegasan namun bukan dengan kekerasan apabila anak melakukan
kesalahan. Dengan demikian, akan terwujud anak-anak yang memiliki kepribadian
baik, penuh kasih sayang dan berakhlak mulia serta patuh pada kedua orang tua.
Begitupun dengan seorang guru, alangkah baiknnya jika mengajar dan medidik
peserta didik dengan didasari kasih sayang dan cinta.
Beberapa
istilah yang juga menggambarkan peran Guru, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Dosen
2. Ustadza/Kyai/
Ajengan
3. Mentor /
fasilitator
4. Instruktur
5. Tutor/
Pamong
Kemudian dalam agama hindu,
guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (Vidya) dan juga
pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual/kejiwaan murid-muridnya.
Menurut
Imam Al-Ghazali, seorang guru harus memiliki kelebihan dari murid-muridnya.
Salah satu kriteria yang tidak bisa dihilangkan untuk menjadi guru adalah
kapasitas ilmu pengetahuan yang dimilikinya harus berada jauh melebihi
murid-muridnya. Lebih dari itu, guru juga harus menjadikan ilmu pengetahuan
yang dimilikinya sebagai dasar segala tingkah laku dan perbuatan yang
dilakukannya. Karena itu, setiap kali seorang guru mengambil keputusan atau
melakukan tindakan, dia harus memikirkannya dahulu secara matang, terarah,
teratur, dan tidak ngawur.[3]
Guru profesional
Istilah
profesi sudah cukup dikenal oleh semua pihak, dan senantiasa melekat
pada “guru” karena tugas guru sesungguhnya merupakan suatu jabatan
profesional. Biasanya sebutan “profesi” selalu dikaitkan dengan
pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, tetapi tidak semua
pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian
para pemangunya. Hal ini mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan
yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarangan orang karena
memrlukan suatu persiapan melalui pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan
khusus untuk hal itu.
Profesional mempunyai makna yang mengacu kepada
sebutan tentang orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang
penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengan profesinya.
Penyandang dan penampilan “profesional” ini telah mendapat pengakuan,
baik secara formal maupun informal. Pengakuan sevara formal diberikan oleh
suatu badan atau lembangan yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaitu
pemerintah dan atau organisasi profesi. Sedangkan secara informal, pengakuan
itu diberikan oleh masyarakat luas dan para pengguna jasa suatu profesi.
Sebagai misalnya, sebutan “guru profesional” adalah guru yang telah
mendapat pengakuan secara formal berdasarkan ketentuan yag berlaku, baik dalam
kaitan dengan jabatan ataupun latar belakang pendidikan formalnya. Pengakuan
ini dinyatakan dalam bentuk surat keputusan, ijazah, akta, sertifikat, baik yang
menyangkut kualifikasi maupun kompetensi.[4]
Guru
sebagai pedidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila
dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan
masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan
perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau
tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya,
memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian
dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta
anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.[5]
Sebagai guru yang profesional dalam
bidangnya, dimana seorang guru tidak hanya di haruskan untuk memiliki ilmu
pengetahuan dan wawasan yang luas saja, tetapi juga wajib memiliki sikap yang
baik karea seperti yang telah di sebutkan diatas, bahwa guru adalah sosok yang
menjadi panutan dan teladan bagi peserta didik juga masyarakat. Oleh karena itu
ada dua sikap yang harus dikembangkan dalam diri seorang Guru. Pertama, pengembangan
sikap selama pendidikan prajabat. Dalam pendidikan prajabat, calon guru dididik
dalam berbagai pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam
pekerjaannya nanti. Karena tugasnya yang bersifat unik, guru selalu menjadi
panutan bagi siswanya, dan bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Pembentukan
sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja, tetapi harus dibina sejak
calon guru memulai pendidikannya dilembaga pendidikan guru. Kedua, pengembangan
sikap selama dalam jabatan. Pengembangan sikap profesional tidak berhenti
apabila calon guru selesai mendapatkan pendidikan prajabatan. Banyah usaha yang
dapat dilakukan dalam meningkatkan sikap profesional keguruan dalam masa
pengabdiannya sebagai guru. Peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal
melalui kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah
lainnya, ataupun secara informal melalui media masa televisi, radio, koran, dan
majalah maupun publikasi lainnya.kegiatan ini selain meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan, sekaligus dapat juga meningkatkan sikap profesional keguruan.[6]
Kemudian tidak hanya itu, seorang guru yang profesional adalah seorang guru
yang benar-benar mencintai profesi dan pekerjaannya sebagai guru, yang dimana
ia mengajar tidak hanya sekedar mentrasfer ilmu pada murid, tapi juga membentuk
karakter dan watak murid dengan mengajar disertai kasih sayangnya pada murid,
dan dengan sikap guru yang ramah, baik, bersahabat, penuh kasih sayang,
perhatian, dan tegas tapi tidak disertai dengan kekerasan.
Ilustrasi Cinta
Cinta,
sesuatu yang tak terlihat namun dapat dirasakan. Bicara soal Cinta, setiapa
manusia memiliki perasaan cinta tersendiri yang disarakannya pada suatu objek,
bukan hanya pada lawan jenis saja, tapi pada suatu objek lainnya yang disenangi
atau digemari. Memang tak bisa
dipungkiri bahwa cinta memang merupakan urusan yang paling penting dalam
kehidupan manusia. Tidak ada urusan lain yang lebih menyita perhatian manusia
selain urusan cinta. Tanpa cinta manusia memang tak dapat menjadi manusia
seutuhnya. Sejak zaman kuno hingga zaman modern-kontemporer, cinta mempunyai
tempat yang sangat istimewa dalam kehidupan manusia. Hanya dengan cinta manusia
dapat memabangun kehidupan bersama. Cinta merupakan sikap dasar ideal yang
memungkinkan dimensi sosial manusia menentukan bentuknya yang khas manusia.
Cinta adalah sebuah kasih sayang, sebuah keperdulian, sebuah kesimpatian, dan
sebuah keikhlasan. Cinta pertama yang perlu di ketahui manusia adalah Cinta
Allah SWT pada setiap hamba-hamba-Nya, dengan cinta Allah ciptakan bumi ini,
dengan cinta Allah mengampuni setiap hamba-hamba-Nya yang memohon ampunan
kepada-Nya, dengan cinta Allah utus para Nabi dan Rasull-Nya untuk memberikan
petunjuk dan tuntunan menuju kebenaran dan kasih sayang Allah, dengan cinta
pula Allah turunkan kitab suci Al-Qur’an untuk dijadikan pedoman hidup bagi
hamba-hamba-Nya agar dapat meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun diakhiran
dengan kasih sayang dan ridho Allah. Kemudian, cinta seorang ayah dan ibu.
Cinta kedua orang tua pada anaknya yang tak pernah habis terlekang oleh ruang
dan waktu, kasih sayangnya yang tak pernah luntur oleh masa, dukungan, suport
dan pengorbanannya hanya dicurahkan untuk anak-anaknya tanpa pamrih. Mereka
selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka, tanpa lelah
mereka mendidik anak-anaknya dengan segala kemampuannya dan tak pernah lelah
mereka membiayai anak-anaknya agar mendapatkan pedidikan yang terbaik
disekolahnya, itu semua hanya untuk masa depan anak-anak mereka agar memiliki
kehidupan yang terbaik, bahagia, sejahtera, dan sukses. Bagi mereka kebahagiaan
anaknya adalah merupakan kebahagiaanya juga. Begitu pulalah seharusnya seorang
guru profesional yang benar-benar mengabdi dan mencintai profesinya dan tentun
seharusnya juga mencintai murid-muridnya.
Jika
siswa menerima cinta dari gurunya, dia akan melihat itu sebagai wujud cinta
kedua orangtuanya yang selanjutnya dia lukiskan sebagai suatu keindahan. Bak
keindahan sebuah puisi. Istilah guru dapat diartikan digugu lan ditiru (dipercaya
dan diteladani). Istilah tersebut berarti bahwa sosok guru sangat dipercaya
oleh siswa dan segala perilaku guru dicontoh anak didiknya. Dalam pengertian
itu, seorang siswa selayaknya mematuhi apa yang dikatakan dan diperintah guru.
Guru Mendidik dengan Kasih Sayang dan Cinta
Dalam
proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pengetahuan
(transfer of knowledge), tapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (value) serta
membangun karakter (character building) peserta didik secara berkelanjutan.
Dalam terminologi islam, guru diistilahkan dengan murabby, satu akar kata
dengan Rabb yang berarti Tuhan. Jadi, fungsi dan peran guru dalam sistem
pendidikan merupakan salah satu menifestasi dari sifat ketuhanan. Demikian
mulianya posisi guru, sampai-sampai Tuhan, dalam pengertian sebagai rabb
mengidentifikasikan diri-Nya sebagai rabbul’alamin “ Sang Maha Guru”, “Guru
Seluruh jagat raya”. Dua hal prinsip dalam konteks membicarakan mengenai profesi
guru, pertama, adanya semangat
keterpanggilan jiwa, pengabdian dan ibadah. Profesi pendidik merupakan profesi
yang mempunyai kekhususan dalam membentuk watakserta peradaban bangsa yang
bermartabat dan memerlukan keahlian, idealisme, kearifan, dan keteladanan
melalui waktu yang panjang. Kedua, adanya prinsip profesionalitas,
keharusan adanya kompetensi dn kualifikasi akademik yang dibutuhkan, serta
adanya penghargaan terhdap profesi yang diemban. Setinggi apapun idealisme dan
rasa keterpanggilan jiwa seseorang untuk megajar, tanpa disertai prinsip
profesionalitas maka pekerjaannya akan sia-sia, bahkan berbuah kehancuran dan
dosa.[7]
Kenisayaan
guru harus mendidik anak (murid) dengan Hati ? bukankah hati tidak pernah
berdusta dan penuh cinta serta kasih sayang ? hati selalu jujur, lemah lembut dan penuh asih.
Tidakkah bahagia yang terasa bila guru menididik anak (murid) dengan penuh
cinta dan kasih sayang?. Selama ini para guru bangga jika anak (murid) takut
kepada mereka, padahal, kepatuhan dan ketaatan yang mereka tunjukan hanyalah
fatamorgana. Mereka menuruti keinginan guru, tetapi bertolak belakang dengan
apa yang ada dalam hati mereka. Siksaan batin yang mereka rasakan lebih perih
dan sakit dari pada kekerasan yang guru lakukan. Bahkan, mungkin tidak akan
pernah mereka lupakan sepanjang hayat. Betapa nikmat jika anak didik
menghormati guru sebagai orang tua atau pendidik tanpa ada paksaan. Betapa
indah jika benak anak didik menggambarkan sosok guru sebagai sosok bijak,
demokratis, menghargai anak (murid). Guru bukan momok yang menakutkan bagi anak
didik. Guru adalah teman, kakak, adik, orang tua, yang dapat memberikan
inspirasi, dukungan, serta menjadi teladan di kehidupan mereka. Menanamkan
disiplin kepada anak didik memang tidak mudah. Namun, itu dapat seorang guru
terapkan, asal sesuai dengan karakter dan kepribadian anak (murid). [8]
Disiplin
tidak selalu identik dengan kekerasan. Kata-kata tegas sudah cukup. Tidak perlu
membentak-bentak, apalagi main tangan. Bahkan, dengan kata-kata lembutpun guru
dapat menerapkan disiplin kepada anak (murid). Setiap anak pasti memiliki dua
sisi potensi, yaitu potensi baik dan potensi buruk. Saat anak melakukan suatu
keburukan atau menentang apa yang di anjurkan gurunya, tidak jarang guru yang
memberikan hukuman pada mereka, dengan alasan agar mereka kapok dan mau
mengikuti semua apa yang di perintahkan guru. Padahal hal itu tindakan yang
kurang dan mungkin sangat tidak baik di lakukan.tindakan yang lebih baik, ajari
mereka sikap tegas namun dengan kelembutan dan kasih sayang, contohkan pada
mereka bahwa akan lebih baik jika suatu keburukan di balas dengan kebaikan.
Jadikanlah anak didik menjadi anak-anak yang penuh cinta dan kasih sayang.
Ajarkan pada mereka bahwa kekerasan bukanlah solusi dalam menyelesaikan
permasalahan yang terjadi. Guru harus menididik anak didik dengan penuh cinta
dan hati tulus tanpa pamrih.
Terdapat
dua faktor penting pada diri guru, yakni kepercayaan kepada guru (source
credibility) dan daya tarik guru (source attractiveness). Kedua hal ini
berdasarkan posisi siswa yang akan menerima pesan sebagai berikut.
1. Hasrat
seseorang untuk memperoleh suatu pernyataan yang benar sehingga guru mendapat
kualitas komunikasinya sesuai dengan kualitas kepercayaan yang diperolehnya
dari siswa dari apa yang dinyatakannya.
2. Hasrat
seseorang untuk menyamakan dirinya dengan guru atau bentuk hubungan lainnya
dengan guru yang secara emosional
memuaskan sehingga guru akan sukses dalam komunikasinya, jika berhasil
memikat perhatian siswa.[9]
Kepercayaan
kepada guru (source credibility) ditentukan oleh keahliannya dan dapat tidaknya
ia dipercaya. Penelitian menunjukan bahwa kepercayaan yang besar akan
meningkatkan daya perubahan sikap, sedangkan kepercayaan kecil akan mengurangi
daya perubahan yang menyenangkan. Lebih dikenal dan disenanginya guru oleh
siswa, menyebabkan siswa lebih cenderung untuk mengubah kepercayaannya kearah
yang dikehendaki guru.kepercayaan kepada guru mencerminkan bahwa pesan yang
diterima siswa dianggap benar dan sesuai dengan kenyataan empiris. Pada umumnya
diakui bahwa pesan yang dikomunikasikan mempunyai daya pengaruh yang lebih
besar, apabila guru dianggap sebagai seorang ahli. Apakah keahliannya itu khas,
atau bersifat umum seperti yang timbul dari pendidikan yang lebih baik atau
status sosial atau jabatan profesi yang lebih tinggi. Selain itu untuk
memperoleh kepercayaan yang
sebesar-besarnya dari anak didik, guru harus mempunyai keahlian, mengetahui
kebenaran, dan cukup objektif dalam memotivasikan apa yang diketahuinya.
Daya tarik guru (source
attractiveness) ditentukan oleh kemampuan guru untuk melakukan perubahan sikap
melalui mekanisme daya tarik, jika pihak siswa merasa bahwa guru ikutserat
dengan mereka dalam hubungannya dengan
opini secara memuaskan. Misalnya guru dapat disenangi atau dikagumi sedemkian
rupa sehingga siswa akan menerima kepuasan dari usaha menyamakan diri dengannya
melalui kepercayaan yang diberikan. Bisa juga guru dapat dianggap mempunyai persamaan
dengan siswa sehingga siswa bersedia untuk tunduk pada pesan yang
dikomunikasikan guru.[10]
Setiap guru harus mampu memiliki hubungan yang baik pada setiap anak didiknya,
karena dengan hubungan dan komunikasi yang baik diharapkan siswa akan semakin
bersemangat dalam mengikuti pelajaran, dan usahakan guru untuk memiliki rasa
kepekaan terhadap anak didiknya, memahami dan mengerti akan keadaan anak
didiknya. Oleh karena itulah, setiap guru mata pelajaran saat ini diwajibkan
untuk mempelajari dan mendalami tentang bimbingan dan konseling, dan juga
dianjurkan untukselalu mengikuti pelatihan-pelatihan yang telah diselenggarakan
oleh pemerintah.
Hasil dan kemajuan belajar
yang dicapai siswa ditentukan juga oleh bentuk hubungan antara guru dan siswa,
antara guru dan administrator, antara guru dan orangtua siswa. Hubungan guru
dan siswa menjadi syarat mutlak, bukan hanya dalan hubungan sebagai pembimbing
dan yang dibimbing tetapi juga sebgai mitra belajar. Karena itu, guru harus
memahami siswa yang dibimbingnya dan sebaliknya siswa harus mengakui kewibawaan
pembimbinganya.
Yusuf
qadhari (1999) berpendapat bahwa seseorang dapat membangun sebuah hubungan yang
indah dengan orang lain apabila dia sanggup mengatakan hal-hal berikut ini :
1. Enam
kata terpenting, saya mengakui telah
melakukan kesalahan besar. Sosok seorang guru
adalaha sosok yang dikagumi dan dihormati. Hal ini terkadang membuat
sang guru merasa seperti “diagungkan” sehingga akan menjadi sangat memalukan
baginya untuk mengakui kesalahan yang mungkin telah ia perbuat kepada para
siswanya. Salah satu alasannya adalah karena takut kehilangan wibawa.
Sesungguhnya mengakui kesalahan adalah lebih baik dari pada menutupi kesalahan
karena wibawa seorang guru akan terlihat dari apa yang telah dia lakukan. Sikap
mengakui kesalahan dan mau meminta maaf menunjukan kebrsihan hati seseorang.
2. Lima
kata terpenting, anda melakukan guruan dengan baik. Memuji siswa atas
keberhasilan yang telah dicapai atau memuji atas setiap usaha yang telah dia
lakukan dalam pembelajaran ternyata mampu membantu meningkatkan motivsi
belajar. Dengan memberikan pujiuan, berarti seorang guru sedang menumbuhkan
kepercayaan diri pada siswanya sehingga siswa tersebut dapat mendorong dirinya
sendiri untuk dapat lebih maju dalam meraih kesuksesan belajar. Kegagalan atau
keberhasilan, kemampuan atau ketidak mampuan dilihat sebagai interpretasi yang
berbeda yang sama-sama perlu dihargai.
3. Empat
kata terpenting, bagaimana menurut pendapat anda?. Pertanyaan tentang pendapat
siswa adalah sebuah hal yang luar biasa yang sebaiknya dilakukan oleh guru.
Dengan pertanyaan demikian, seorang guru memosisikan diri menjadi seorang teman
yang membutuhkan pendapat dan hal ini akan membuat siswa belajar untuk saling
menghargai.
4. Tiga
kata terpenting, jika anda berkenan... menanyakan dan memberikan
pilihan-pilihan kepada siswa sehubungan dengan proses pembelajaran akan membuat
siswa berlatih untuk mengambil keputusannya sendiri tanpa ada unsur pemaksaan.
Siswa terdidik untuk terus berfikir kreatif dalam mencari pemecahan suatu
masalah.
5. Dua kata
terpenting, terima kasih. Kata “terima kasih” adalah sebuah ungkapan yang
bermakna luas. Ketika seorag siswa mampu mengatakan terima kasih baik kepada
teman atau gurunya, berarti ia memiliki kepekaan bahwa apa yang telah berhasil
dia dapatkan adalah bukan karena kehebatannya sendiri, melainkan ada orang lain
yang turut membntu. Dari sinilah siswa dapat belajar untuk menyadari bahwa bekerja sama merupakan hal yang sangat baik
untuk dilakukan.
6. Satu
kata terpenting, kita. Kata “kita” menjadi sangat pebting ketika guru mengajak
siswanya untuk masuk dalam proses belajar-mengajar. Kata “kita” mengandung kata
kesatuan dan kebersamaan. Dalam hal ini, kesatuan dan kebersamaan Mutlak
diperlukan untuk mencapai sebuah tujuan belajar. “bawalah dunia siswa kedunia kita dan
antarkan dunia kita kedunia siswa (quantum learning). Semakin jauh anda
memasuki dunia siswa, semakin jauh pegaruh
yang dapat anda berikan kepada mereka.” (degeng, 2006)
7. Satu
kata paling tidak penting, saya. Kata “saya” menjadi tidak penting disini karena kata
“saya” menunjukan ego yang berkonotasi negatif. Mengagungan terhadap kemampuan
diri sendiri dan tidak memperdulikan orang lain menyebabkan anak memiliki
polapokor yang mengarah pada kepentingan diri sendiri. Dia akan mencontoh sikap
egois yang ditunjukan sang guru.
8. Satu
kata terburuk, Jangan! Dilarang ! Awas ! Harus! Kata-kata seperti ini sangat
sering dikatakan oleh guru terhadap siswanya. Segala sesuatu yang dikerjakan
oleh siswa harus sesui dengan apa yang dikehendaki oleh guru. Tidak ada tempat
untuk mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran.
9. Satu
kata terindah, Silahkan. Setiap orang mendambakan untuk dapat melakukan hal-hal
yang sesuai dengan apa yang dirindukan. Ketika siswa menyatakan kepada guru
tentang kerinduannya menyampaikan suatu keinginan atau mmelakukan suatu
kegiatan, satu-satunya kata yang diharapkan didengar adalah kata “silahkan”.[11]
Apabila
seorang guru telah mampu berkata-kata dalam bahasa cinta kepada siswanya dan
begitu juga sebaliknya, akan terjalin hubungan yang harmonis antara guru dan
siswa. Hal inilah yang akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Belajar bukan lagi sebuah hal yang membebani dan menakutkan, tetapi belajar
adalah sesuatu yang menyenangkan, bebas, santai, penih ketakjuban, dan
menggairahkan. Dengan bahasa cinta, hubungan yang kaku dan monoton antara guru
dan siswa sudah saatnya diubah menjadi sebuah hubungan yang harmonis dan penuh
kasih sayang sehingga tidak ada lagi kata-kotor yang muncul. Sebagai gantinya, muncul kata-kata terpuji yang bersumber dari
kebersihan hati seorang guru untuk menumbuhkan pribadi-pribadi unggul.
Idealisme dan rasa cinta mendasari dan menjiwai semua prilaku mendidik
menghidupkan kemampuan-kemampuan profesional yang dimiliki. Tanpa idealisme dan
rasa cinta, kemampuan-kemampuan prosfesional yang diniliki hanya akan tampak
seperti lampu yang kekurangan minyak. Hasil dan kemajuan belajar yang dicapai
siswa sangat ditentukan oleh bentuk hubungan antara guru dan siswa, antara guru
dan administrator, antara guru dan orangtua siswa.[12]
Dalam mengoptimalkan
perkembangan siswa, guru harus menempuh tiga langkah berikut ini :
1. Mengdiagnosis
kemampuan dan perkembangan siswa. Guru harus mengenal dan memahami siswa dengan baik, memahami
tahap perkembangan yang telah dicapainya, kemampuan-kemampuannya, keunggulan
dan kekurangannya, hambatan yang dihadapi serta faktor-faktor dominan yang
memengaruhinya. Setiap perserta didik sebagia individu mempunyai kemampuan,
kecepatan belajar, karakteristik dan problem-problem sendiri, yang berbeda
dengan individu lainnya. Perkembangan yang optimal hanya mungkin dapat dicapai
apabila kegiatan yang dilakukan siswa dan bantuan yang diberikan guru, sesuai
dengan kondisi tersebut.
2. Memilih
cara pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. Pembelajaran yang betul-betul disesuaikan
dengan perbedaan individual, harus pendekatan pembelajaran yang individual.
Pendekatan semacam itu pernah dilaksanakan pada delapan PPSP dengan menggunakan
sistem modul, tetapi karena alasan-alasan tertentu, PPSP dibubarkan dan metode
tersebut tidak digunakan lagi. Konsep modul dan sistem belajar sendirinya masih
dipakai pada SMP dan Universitas terbuka. Disekolah-sekolah biasa umumnya
digunakan pendekatan yang bersifat klasikal. Dalam pendekatan klasikal
sebenarnya tidak tertutup kemungkinan untuk memerhatikan perbedaan individual.
Salah satu prinsip pembelajaran yang efektif adalah menggunakan pendekatan atau
metode dan media yang bervariasi “ pendekatan multi metode-multi media”. Dengan
menggunakan metode dan media yang bervariasi, perbedaan-perbedaan individual
dapat terlayani, disamping pembelajaran menjadi lebih menarik karena sering
terjadi pergantian kegiatan. Dalam pembelajaran, guru dapat mengadakan variasi antara metode yang lebih mengaktifkan guru
dengan yang mengaktifkan siswa, antara belajar secara klasik dengan belajara
kelompok dan penguasaan yang bersifat individual. Variasi antara yang
menekankan pengetahuan dengan keterampilan
dan nilai-nilai, antara yang
hanya menggunakan kapur-papan tulis dengan menggunakan media, antara media yang
sederhana dengan media yang lebih kompleks. Demikian pula variasi antara
kegiatan yang bersifat menerima, mengolah, menyajikan dan penilaian.
3. Kegiatan
pembimbingan.
Pemilihan dan penggunaan metode dan media yang bervariasi tidak dengan
sendirinya, akan mengoptimalkan perkembangan siswa. Pelaksanaan metode
pembelajaran tersebut perlu disertai dengan usaha-usaha pemberian dorongan,
bantuan, pengawasan, pengarahan, dan bimbingan dari guru. Pembimbingan ini
diberikan pada saat kegiatan pembelajaran, atau diluar kegiatan pembelajaran.[13]
[1] Abdul
Rahmat, kearifan Cinta Sang Guru, (Bandung : MQS Publising, 2009). Hlm.
19
[2] Ibid,
hlm 19
[3] Ibid,
hlm.20
[4] Mohammad
surya,dkk, menjadi guru yang baik, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2010).
Hlm.76
[5]
Soetjipto, dkk, profesi keguruan, ( Jakarta : PT RINEKA CIPTA, 2011) hlm. 42-43
[6] Ibid,
hlm. 54-55
[7] Asrorun
ni’am sholeh, membangun profesionalitas Guru, (Jakarta : elsas Jakarta,
2009). Hlm.03-04
[8] Abdul
Rahmat, kearifan Cinta Sang Guru, (Bandung : MQS Publising, 2009). Hlm.36
[9] Ibid,
hlm. 38
[10] Ibid,
hlm. 39
[11] Abdul
Rahmat, kearifan Cinta Sang Guru, (Bandung : MQS Publising, 2009). Hlm.
24-26
[12] Ibid,
hlm.14-15
[13] Ibid,
hlm. 98-100
Tidak ada komentar:
Posting Komentar