Minggu, 27 Maret 2016

Kesuksesan dalam Keahlian


     Setiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda sehinga senantiasa menumbuhkan kreativitas, kterampilan dan profesinya masing-masing sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Saya temukan tiga tokoh dalam sebuah acara kick andy yang mana ketiga tokoh ini memiliki perbedaan profesi atau keahlian dalam pekerjaannya.
Untuk tokoh yang pertama yaitu Bpk. Ikhwan syahroni , beliau ini adalah asli warga negara indonesia yang tinggal Malang. Beliau berprofesi sebagai cooky yang bekerja di luar negri yakni di negara Arab Saudi. Disana beliau tidak bekerja di tempat-tempat biasa atau di restoran biasa, tapi beliau di angkat sebagai cooky pribadi oleh sultan dari kerajaan Arab Saudi. Berkat keterampilan dan keahliannya dalam mengolah bahan makanan sampailah beliau pada pekerjaan yang bgtu baik. Untuk mencapai semua itu, tentunya tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak hal yang harus beliau lewati, salah satunya adalah seleksi atau percobaan, dalam percobaan ini bagaimana agar beliau bisa membuat makanan yang sesuai dengan lidah atau selera dari kerajaan arab saudi ini, dan pada akhirnya beliau berhasil menciptakan saus yang di sajikan dengan roti, karena memang makanan pokok disana adalah roti. Tentunya beliau juga sangat ahli dalam menyajikan makanan-makanan yang lainnya. Uniknya beliau pun sangat ahli dalam memasak dan menyajikan macam-macam nasi goreng yang berasal dari berbagai negara dan mencapai jumlah 99 macam masakan nasi goreng. Selama tiga tahun lamanya beliau bekerja di negr arab saudi dan setelah itu Bpk. Ikhwan syahroni membuka restoran di tempat tinggalnya.
Tokoh yang kedua, yaitu Eko Suprianto seorang penari/dancer asli warga Negara Indonesia yang merambah kesuksesan di Negara orang juga, dan berprofesi sebagai dancernya dari seorang penyanyi luar negri yang populer yakni Madona. Keahlianya dalam koreografi tarian, membuatnya menjandi satu-satunya dancer yang membawa nama baik Negara Indonesia. Untuk mencapai keberhasilannya sebagai anggota dancer dari penyanyi terpopuler ini, eko juga banyak melewati tantangan dan seleksi demi seleksi yang harus dia ikuti, dan suatu ketika pada saat Eko menjalani salah satu seleksi, dia berinisiatif untuk memadukan tarian daerah dari Indonesia dengan tarian modrn yang menyebabkan dia lulus dari seleksi tersebut dan akhirnya Dona pun menyukai tarian/dance yang di bawakan oleh Eko, sehingga Eko telah diterima menjadi anggota dancer Madona yang akan mengikuti berbagai konser lagu-lagu penyanyi terpopuler ini di berbagai  negara. Eko sangat mencintai tarian-tarian daerah Indonesia dan penjiwaannya dalam menari serta koreografi-koreografi yang dia ciptakan sangan menarik para dancer yang lainnya, sehingga Eko dipercaya untuk melatih kawan-kawan anggota dancernya dan lagi-lagi Eko memadukan antara tarian modern dengan tarian yang berasal dari negara Indonesia. Oleh karena itu, betapa patut kita syukuri memiliki Negara dan bangsa yang penuh dengan nerbagai kekayaan dan budayanya ini. Selanjutnya, tokoh yang ketiga ini adalah seorang  pilot, beliau bernama Bpk. Ganahadi. Lagi-lagi warga asli Negara Indonesia ini meraih kesuksesan dalam profesinya sebagai pilot di negara orang yaitu di Libia. Beliau dipercaya menerbangkan pesawat yang di tumpangi oleh seorang presiden Libia yakni Mu’amar Kadafi. Selama berada di Libia, beliau menjadi pilot dan mengantarkan Kadafi hanya sebanyak tiga kali. Sebelum terjadinya penggulingan dan pembunuhan yang di alami Kadafi, Bpk. Ganahadi selalu siap menerbangkan pesawat untuk Kadafi pergi kemana saja sesuai yang di perintahkan, sehingga beliau  sangat di jaga kesehatan dan keadaan fisiknya agar tidak terjadi sesuatu ketika penerbangan berlangsung, karena bisa dikatakan nyawa Kadafi ada di tangan pak Ganahadi ini.

     Seperti yang telah saya katakan, bahwa manusia memiliki keahlianya masing-masing yang akan mengantarkan seseorang pada sebuah kesuksesan jika ia bersunggunh-sungguh dalam keahlian dan keterampilannya. Kesuksesan di awali dengan kesungguhan dan keinginan yang kuat dalam diri dan juga dengan proses belajar yang baik serta senantiasa mengevaluasi setiap kesalahan yang terjadi bukan dengan kata menyerah. Kegagalan akan selalu ada, namun seperti kata pribahasa bahwa ‘’kegagalan adalah awal dari keberhasilan’’. Orang yang pantang menyerah akan teru-terus mencoba, mengulang dari nol dan terus berusaha sampai pada kesuksesan yang ingin dia capai. Karna seperti kata Allah swt. “aku tidak akan mengubah nasib seseorang, kecuali dia mengubah nasibnya sendiri’’. 

Ke tidak Adilan dalam UN


            Seperti yang telah diungkapkan oleh Itje Chodidjah dalam koran Media Indonesia bahwa “ujian nasional (UN) wujud dari tidak terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia karena walau layanan pendidikan tidak merata, ujian tetap sama”, ini sangat nyata dalam dunia pendidikan di indonesia, dimana UN di terapkan sebagai penentu standar kelulusan para siswa di seluruh daerah di indonesia. Ke tidak adilan terlihat jelas bagi para siswa yang menimba ilmu pendidikan di pelosok-pelosok daerah atau di pedalaman yang mana fasilitas, sarana dan prasarana yang minim dan sangat terbatas, serta proses belajar yang sekedarnya belajar, tapi di akhir jenjang para siswa ini harus ditentukan kelulusannya dengan UN, soal-soal yang berstandar nasional yang telah dibuat oleh pemerintah. Sebuah pertanyaan dalam benak saya, apakah mereka para siswa yang berada di pedalaman sudah belajar mencapai pada soal-soal yang telah di buat oleh pemerinta dan berstandar nasional tersebut?, mungkin saja belum, seperti halnya dalam kunjungan Itje Chodidjah pada sekolah di salah satu kecamatan terjauh dari kalimantan selatan yang dikelilingi hutan rimba dan tambang “tampak dengan jelas fakta luputnya tanggungjawab negara dalam memenuhi keadilan layanan pendidikan negar bagi rakyat. Kondisi sarana dan prasarana yang minim tampak dari kondisi fisik ruang kelas yang rata-rata sekadar ruangan petak dengan lantai kusam dan penerangan temaram yang menyulitkan mata dapat membaca dengan baik. Perpustakaan seadanya dan fasilitas umum lainnya yang dibawah standar kesehatan yang layak, guru-guru yang masih jauh dari bermutu sudah bersedia mengajar dengan model pemelajaran yang ala kadarnya saja’’ kondisi ini mungkin tidak hanya  ada di kecamatan terjauh kalimantan selatan saja tapi juga masih banyak lagi di daerah pedalaman lainnya yang tidak mendapatkan layanan pendidikan dan keadilan dari negara, tetapi tetap saja para siswa ini di ukur kelulusannya dengan UN yang sama dengan para siswa yang bersekolah di kota-kota besar yang sudah jelas mendapatkan layanan pendidikan yang jauh lebih baik, fasilitas, sarana dan prasarana serta guru-guru yang berkualtas dan profesional. Betapa tidak adilnya UN ini bagi para siswa dan guru yang masih harus berjuang dengan kemampuan yang terbatas karena tidak tersentuh layanan pemerintah dalam menghadapi UN.

            Ketidak adilan dalam UN juga terungkap dalam tulisan Bpk. Ahmad Baedowi yang mengatakan “bahwa UN menjadi gaduh karena bak godam maut merenggut hak wilayah guru dan sekolah yang sejatinya memiliki kewenangan dalam menentukan kelulusan siswa’’ dan “UN telah mematikan kreativitas mengajar karena negara yang harus menentukan kelulusan para siswa’’. Hilangnya kekreativan sekolah dalam proses belajar mengajar sebab banyak sekolah-sekolah yang mengambil jalan pintas untuk menguji siswa dengan model pengujian UN karena merasa percuma menerapkan proses belajar mengajar yang kreativ, sedangakan kelulusan siswa ditentukan oleh Negara. Dengan UN ini juga sebenarnya telah merusak kercayaan diri sebagian sekolah, guru-guru apalagi para siswa yang menyebabkan timbulnya kecurangan dengan terpaksa, seperti mencari bocoran atau kunci jawaban karna tidak yakin siswa akan lulus dengan jawaban murni para siswa sendiri. Bahkan kerap terjadi di daerah-daerah yang mempercayai hal-hal yang goib, prakterk ritual di sebuah makam dengan membawa pensil yang akan siswa pakai ketika menghadapi UN dan ditiupkan sebuah jampi-jampi, tentu ini adalah perbuatan syirik yang percaya kepada selain Allah swt yang telah memberikan akal fikiran kepada para siswa. Betapa seramnya UN di mata para siswa, baru mendengan kata UN saja mereka sudah merasa cemas, gelisah dan resah terutama bagi anak-anak yang berada di pedalaman, para gurupun mengalami hal yang sama karena cemas akan ketidak lulusannya pasa siswa mereka yang akhirnya timbul hal-hal yang negatif. Bpk. Ahmad Baedowi juga mengungkapkan bahwa ‘’berbagai permasalahan dan prilaku negatif yang timbul sebagai konsekuensi logis penempatan UN ini antara lain : penyempitan kurikulum, pengastaan mata pelajaran, pengajaran berbasis soal ujian, pembelajaran yang bersifat hafalan, dan prilak jalan pintas’’, nah dengan timbulnya berbagai prilaku negatif ini, apakah negara yang akan terus menentukan kelulusan siswa?, seperti yang telah di uraikan oleh Bpk. Ahmad baedowi “ mengapa kita tak berani memberikan dan membiarkan sekolah dengan segala macam pernak-perniknya menjadi penanggung jawab tunggal kelulusan siswa-siswi mereka, sambil tak lupa terus memberi pengayaan perspektif manajemen sekolah yang efektif dan di cintai masyarakat sekitarnya? Jika kita berkeyakinan bahwa UN sebagai alat ukur kualitas pendidikan nasional, yang harus di perhatikan ialah unit atau satuan sekolah/ lembaga pendidikannya, bukan mengorbankan anak-anak dengan hukuman lulus dan tidak lulus’’ serata, mungkin akan terjadilah keadilan yang merata jika hal itu di terapkan.

Egree In This Egreement (ulasan jurnal)

                Sampai saat ini UJIAN NASIONAL masih di gunakan sebagai penentu kelulusan para siswa. Namun UN menjadi gaduh bak godam maut merenggut hak wilayah guru dan  sekolah yang sejatinya memiliki kewenangan dalam menentukan kelulusan siswa. Dengan UN ini pun banyak siswa yang merasakan keresahan dan kegelisahan bahkan sampai stres yang menyebabkan hilangnya rasa kepercayadirian dan konsentrasi dalam belajar karena kekhawatiran akan tidak lulusnya dalan ujian nasional tersebut. Sekolah kebanyakan akan mengambil jalan pintas untuk menguji siswa dengan model pengujian UN, dengan authentic assesment tak terjadi karena merasa percuma mempraktikan proses belajar-mengajar yang kreatif, tetapi anak-anak akan tetap dibunuh dengan UN yang menyengsarakan. Untuk lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah yang berada di wilayah perkotaan, mungkin tidak begitu menjadi masalah dengan adanya UN sebagai penentu kelulusan para siswa karena memang fasilitas dan kualitas belajarnya sudah mencukupi dan terus mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern, namun bagaimana dengan lembaga pendidikan atau sekolah yang berada di pelosok-pelosok pedesaan, yang masih sangat kurang dalam fasilitas dan proses belajanya pun masih sederhana dan apa adanya, pastinya sulit bagi mereka dalam mengisi soal-soal UN terdapat materi yang belum mereka pelajari atau tertinggal. UN tetap akan salah arah karena tetap menentukan kelulusan siswa dan karenanya bertentangan dengan naluri teori belajar yang seharusnya mendominasi kebijakan pendidikan yang bermutu sebagaimana diidealkan dalam kurikulum 2013. Pada 2012 ada banyak pemikir dan praktis pendidikan yang mengeluarkan petisi soal UN. Mereka secara terus terang menyatakan ‘petisi untuk perbaikan mutu pendidikan Nasional ini di tujukan sebagai penyikapan terhadap semakin buruknya dampak UN bagi upaya pencerdasan kehidupan bangsa.

            Sebagian siswa yang mungkin hanya mengharapkan ijazah dalam proses pendidikan  dengan tujuannya agar mudah mendapatkan pekerjaan, ini adalah tanda-tanda kebangkrutan sosial yang membuat mereka mencari jalan pintas agar dapat lulus dari UN. Inilah dampak negatif dari ujian nasional, dalam bahasa Fenwick W english(2002) kemampuan guru untuk melihat secara komprehensif dan luas keterpautan antara dokumen tertulis(written curriculum) dengan cara mengajarkannya (tought) dan mengujinya (tested) sangatlah rendah untuk tidak mengatakannya terbiasa menyontek SKKD yang bak barang suci dan tidak bisa diubah sebagai basisnya. Tak jarang dari beberapa sekolah yang tidak yakin akan kelulusan siswa siswinya dalam UN, mereka mencari jalan yang negatif, seperti mencari bocoran kunci jawaban soal-soal UN dan dampak dri itu pernah terjadi kasus penipuan akan kiriman kunci jawaban  melalui SMS yang di lakukan oleh orang-orang yang jahil.
Pengastaan mata ajar juga terjadi karena kasatmata antara jumlah mata ajar yang akan diujikan secara nasional dan memngaruhi kelulusan siswa sangat mencolok. SMP dan SMA belajar kurang lebih 13-15 mata pelajaran, yang diujikan secara nasiolan hanya 4-5 pelajaran. Pola pikir saya, untuk apa siswa belajar sampai 13-15 pelajaran jika yang  menentukan kelulusan siswa hanya 4-5 pelajaran, dan pada umumnya setiap siswa itu memiliki kemampuan belajar yang berbeda, tidak semua ke-4 pelajaran itu mereka kuasai.
 Belum lagi pengastaan secara rumpu, yang terkadang baik guru maupun orang tua memberikan status berbeda antara anak  yang cenderung keilmu sosial dan ilmu pengetahuan alam. Bahasa kebijakan pendidikan kita jelas tidak memberikan pemahaman yang benar bahwa semua mata ajar sesungguhnya berhubungan satu sama lain dan tugas gurulah untuk mengintegrasikannya kedalam skema belajar-mengajar secara baik.



metode belajar aktif Pak Baedowi


“Belajar aktif”, mendengar kata tersebut pasti akan terbayang dalam fikiran kita bahwa belajar aktif adalah identik dengan segala macam kegiatan-kegiata yang dilakukan oleh siswa atau mahasiswa dalam sebuah ruang kelas, tapi saya menemukan arti belajar aktif yang sebenarnya dalam sebuah buku berjudul “Desain dan Implementasi Kurikulum” yang di tulis oleh dosen saya yakni Bapak Dra. Ahmad Baedowi, M.Ed. beliau adalah dosen mata kuliah Kurikulum, saya akui cara mengajar beliau sangat berbeda dengan dosen-dosen yang laini dan disenangi oleh banyak mahasiswa. Dalam bukunya ini beliau menuliskan arti dan cara beliau dalam mengajar “Belajar Aktif”.
Dalam bukunya tersebut Pak Baedowi menuliskan bahwa ”belajar aktif bukan hanya seperangkat kegiatan. Ia lebih merupakan suatu sikap yang mesti diambil baik oleh mahasiswa, dosen maupun perguruan tinggi untuk menjadikan pembelajaran efektif.” Jadi belajar aktif itu bukan hanya kegiatan tapi bagaimana seorang mahasiswa agar secara efektif mengambil sikap ketika proses pembelajaran berlangsung dan dosen berperan sebagai fasilitator , instruktur atau pengarah untuk berbagai aktivitas pembelajaran mahasiswa. Dosen tidak hanya sekedar memberikan materi, penjelasan dan penceramah di depan para mahasiswa, dan juga agar mahasiswa tidak hanya sekedar menjadi mendengar setia. Di katakan bahwa “tujuan belajar aktif adalah untuk menstimulasi kebiasaan berpikir seumur hidup dan menstimulasi mahamahasiswa berpikir tentang “bagaimana” ataupun “apa” yang sedang dipelajari, serta meningkatkan tanggung jawab mahasiswa untuk pendidikannya sendiri”. Dalam belajar aktif ini mahasiswa diharapkan agar mampu berfikir kritis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan berani mengeluarkan pendapat serta bertanggungjawab untuk masa depannya. Untuk mewujudkan belajar aktif yang telah memiliki tujuan tersebut tertera cara-cara yang efektif dalam buku “Desain dan Implementasi Kurikulum” ini, selain dengan kurikulum yang telah ditetapkan oleh sebuah perguruan tinggi, dosen dianjurkan mendesain kuriklum dan menimplementasikan cara belajar aktif yang tepat untuk para mahasiswanya. Ada beberapa cara atau teknik untuk mewujudkan proses belajar aktif dan cara melibatkan mahasiswa dalam proses pembelajaran aktif tersebut yang telah di tulis oleh Bapak Baedowi, yaitu yang pertama dengan cara Mini-lektur, suatu cara menyampaikan secara ringkas sebuah informasi penting, ilmu pengetahuan baru dan contoh-contoh yang membangun motivasi keilmuan dengan waktu penyampaian materi yang tidak lama sekitar 10-15 menit saja. Cara kedua yang bisa dilakukan oleh dosen yaitu jedah klarifikasi, dimana waktu dosen berkeliling kelas sementara mahasiswa mereview catatannya dan waktu dosen berkeliling ini akan dimanfaatkan oleh mahasiswa yang memiliki sifat pemalu untuk menanyakan materi yang belum ia pahami secara tidak formal ketika dosen menghampirinya. Selanjutnya, teknik diskusi berpasangan yakni, dimana dosen memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berdiskusi dengan teman sebangkunya atau dengan pasangan yang telah ditentukan oleh dosen, dengan cara ini mahasiswa akan menghilangkan rasa enggannya dalam berpendapat tentang suatu topik pelajaran yang telah diberikan dosen. Hasil diskusi tersebut kemudian disampaikan kepada seluruh kelas dan sistem berpasangan ini memperlihatkan hasil yang dicapai untuk nilai tengah semester lebih tinggi 10 poin – dengan rentang nilai hingga 100 – dibandingkan  dengan ulangan individual. Teknik atau cara berikutnya yaitu laporan satu menit, teknik ini pernah saya rasakan dikelas yang diterapkan tentunya oleh Bapak Baedowi, yaitu mahasiswa dikelas di bagi menjadi dua bagian, bagian mahasiswa sebelah kanan diabjurkan untuk membuat jawaban mengenai topik pelajaran yang telah ditentukan, dan mahasiswa sebelah kiri dianjuekan membuar pertanyaannya, lalu pertanyaan dibacakan satu persatu dan dicari jawabab yang tepat dari mahasiswa bagian kanan tersebut. Menurut saya teknik ini sangat menyenangkan dan mahasiswa pun lebih mudah memahami dan mencerna pelajaran. Di samping teknik ini juga dosen bisa menerapkan teknik kegiatan menulis bebas dari suatu topik pelajaran yang telah ditentukan, teknik ini memberi peluang kepada mahasiswa untuk berfikir dan memproses informasi. Setelah itu, dosen juga bisa menerapkan teknik curah gagasan, sebuah teknik sederhana yang dapat melibatkan seisi kelas dalam suatu diskusi. Dosen mengemukakan suatu topik atau permasalahan tertentu, kemudian meminta agar mahasiswa memberikan maukan dari masalah tersbut dan menuliskannya di papan tulis. Kemudian ada teknik permainan (game), menurut Pak Baedowi teknik ini yaitu permainan yang terkait dengan pelajaran, dapat diperkenalkan di dalam (indoor) atau di luar (outdoor) kelas untuk membantu pembelajaran aktif dan meningkatkan partisipasi mahamahasiswa. Teknik ini dapat dilanjutkan dengan konsep bermain peran. Masih ada 3 teknik lagi yang dikemukakan pak Baedowi dalam bukunya yaitu siklus belajar, simulasi dan studi kasus.

            Teknik-teknik belajar aktif yang di tulis Bapak Baedowi ini, menurut saya sangat baik jika di terapkan oleh semua dosen, bukan hanya dosen mungkin guru-guru disekolah juga bisa menerapkan itu semua yang disesuaikan dengan tingkat sekolah, mendesain kurikulum dan cara belajar yang aktif agar semua anak-anak didik Indonesia mampu berfikir kritis, mendorong mereka untuk terampil, kreatif dan aktif di dalam maupun diluar kelas sekolah untuk bekal di masa depan mereka.


Jumat, 31 Juli 2015

latihan kajian teori untuk skripsi



BAB I
PENDAHULUAN

Pengaruh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Terhadap kualitas Pertumbuhan  anak/siswa

V1 Pendidikan Anak Usia Dini                      V2  Pertumbuhan Anak/siswa
·         Membimbing perilaku anak
·         Anak usia dini mudah meniru
·         Mengajarkan membaca, menulis dan berhitung
·         Perkembangan otak yang cepat
·         Menanamkan nilai-nilai moral sejak dini
·         Ingatan tajam/mudah mengingat apa yang didengar dan dilihat
·         Metode pembelajaran bermain sambil belajar
ü  pembentukan kepribadian
ü  Landasan pendidikan karakter sejak dini
·         Waktu yang tepat dalam menumbuhkan  rasa percaya diri
·         Memberikan bimbingan bersikap yang baik
·         Pertumbuhan fisik
·         Sebagai persyaratan pemerintah dalam memasuki jenjang pendidikan dasar
·         Saat yang tepat dalam berkembangan moral
·         Menumbuhkan potensi sejak dini
·         Kemampuan sosialisasi mulai berkembang
·         Membantu perkembangan kognitif sejak dini
·         Perkembangan kemampuan berfikir (otak)
·         Menumbuhkan kterampilan anak sejak dini.
·         Bembentukan sikap baik maupun buruk

Judul baru :
Pengaruh Pendidikan Karakter Sejak Dini Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak/Siswa
V1. Pendidikan Karakter
V2. Pembentukan Keperibadan

BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Pengertian Pendidikan karakter
Munculnya kesadaran penguatan pendidikan karakter menjadi penegasan kembali dari apa yang telah disadari oleh para pendiri bangsa. Sejak awal para pendiri negara sudah menyadari betapa pentingnya bembangunan karakter bangsa, sebab tanpa karakter yang baik , apa yang dicita-citakan negara ini tidak akan berhasil. Situasi dan kondisi karakter bangsa yang menurun menjadi suatu perhatian bagi pemerintah dan lembaga pendidikan yang ada.
1.      Karakter
Karna karakter merupakan hal yang penting untuk dimiliki setiap orang, banyak pendapat-pendapat mengenai karakter tersebut. Berikut pengertian karakter menurut beberapa ahli :
-          Menutur Ekowarni (2010), pada tahapan mikro, karakter diartikan : (a) Kualitas dan kuantitas reaksi terhadap diri sendiri, orang lain, maupun situasi tertentu, atau (b) watak, akhlak, ciri psikologis. Ciri-ciri psikologis yang dimiliki individu pada lingkup pribadi, secara evolutif akan berkembang menjadi ciri kelompok dan lebih luas lagi menjadi sosial.[1]
-          Dalam tulisan bertajuk Urgensi Pendidikan Karakter, Prof. Suyanto. Ph.D. menjelaskan bahwa “karakter adalah cara berfikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.”[2]
-          Karakter menurut Alwisol diartikan sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit.[3]
Berdasarkan pendapat-pendapat yang diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah ciri khas prilaku seseorang dalam bertindak dan dalam berfikir, yang memiliki nilai baik atau buruk menurut pandangan orang lain. Karakter yang baik adalah karakter yang menerapkan nilai-nilai kebaikan, moral, budi pekerti yang bernlai baik di lingkungan masyarakat, bangsa maupun negara. Sedangkan untuk karakter yang buruk adalah tingkah laku dan watak seseorang yang jauh dari nilai-nilai kebaikan, seperti tidak ada rasa peduli terhadap keadaan masyarakat lingkungannya, bertingkah semaunya tidak mementingkan perasaan orang lain dan lainsebagainya.

2.      Pendidikan karakter
Pada umumnya pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengutamakan proses-proses terbentuknya sikap dan watak  yang baik, berkualitas dan memiliki keunggulan serta ciri khas. Namun, banyak pendapat-pendapat yang dikemukankan oleh para pakar mengenai pengertian pendidikan karakter, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
Pendidikan karakter menurut  Thomas Lickona (1991) adalah
“pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Aristoteles berpendapat bahwa karakter erat kaitannya dengan kebiasaan yang kerap dimanifestasikan dalam tingkah laku.[4]
Definisi pendidikan karakter selanjutnya dikemukakan oleh Elkind dan Sweet (2004)
charakter education is the deliberate effort to help peopel understand, care about, and act upon core ethical value. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”[5]
Menutut Elkind and sweet “pendidikan karakter adalah upaya yang disengaja untuk membantu memahami manusia, peduli dan inti atas nilai-nilai etis/susila. Dimana kita berfikir tentang macam-macam karakter yang kita inginkan untuk anak kita, ni jelas bahwa kita ingin mereka untuk mampu menilai apa itu kebenaran, sangat peduli tentang apa itu kebenaran/hak-hak, dan kemusia melakukan apa yang mereka percaya menjadi yang sebenarnya, bahkan dalam menghadapi tekanan  dari tanpa dan dalam godaan.”
Kemudian, dalam perspektif lain Williams & Schnaps mendefinisikan:
“pendidikan Karakter merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh para personel sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama orang tua dan anggota masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja untuk menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian dan bertanggung jawab.”[6]

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, pendidikan  karakter merupakan upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam menerapkan nilai-nilai moral ke dalam diri peserta didik yang perlu dilakukan oleh guru yang tentunya peran utama dalam proses pembelajaran dan juga bekerja sama dengan orang tua dan lingkungan masyarakat agar dapat mewujudkan tujuan dari pendidikan karakter itu sendiri, yakni membentuk anak-anak dan remaja untuk memiliki sifat-sifat yang terpuji, cerdas dan berkualitas tidak hanya dari segi intelektual tetapi yang terpenting adalah dari segi watak dan sikap yang baik, yang juga merupakan tujuan dan harapan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan karakter ini meliputi upaya penerapan nilai-moral seperti jujur, disiplin, percaya diri, peduli, mandiri, gigih, tegas, bertanggung jawab, kreatif dan bersikap kritis. Karna nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan untuk menjadi bekal anak ketika telah mencapai kedewasaan yang nantinya akan menghadapi berbagai macam rintangan hidup.


B.     Pengertian Kepribadian
Kepribadian yang dikemukakan oleh Sjarkawi dalam bukunya “Pembentukan Kepribadian anak”, menyatakan bahwa, kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang besumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan,misalnya, keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir[7]. Tapi ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian kepribadian, diantaranya adalah sebagai berikut.
Menurut Gordon Allport(1951), seorang psokolog jerman yang merupakan pakar kepribagian.:
Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisik yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.”[8]
            Definisi ini kiranya dapat diperjelas sebagai berilkut :
a)      “organisasi dinamis” menekankan kenyataan bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah walaupun dalam pada itu ada organisasi sistem yang mengikat dan menghubungkan berbagai komponen dari kepribadian.
b)      Istilah “psikofisik” menunjukkan bahwa kepribadian bukan hanya eksklusif (semata-mata) mental, dan bukan pula semata-mata neural. Organisasi kepribadian melingkupi kerja tubuh dan jiwa (tak terpisa-pisah) dalam kesatuan kepribadian.
c)      Satu unsur yang penting dalam definisi diatas adalah kata khas (unik, unique) yang menunjuk pada penekanan utama yang diberikan oleh Allport pada individualitas. Tidak ada dua orang yang benar-benar sama dalam caranya menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Jadi dengan demikian tidak ada orang yang mempunyai kepribadian yang sama.
d)      Dengan menyatakan “menyesuaikan diri terhadap lingkungan” Allport menunjukkan keyakinannya bahwa kperibadian mengantarai individu dengan lingkungan fisik dan lingkungan psikologisnya. Jadi, kepribadian adalah sesuatu yan mempunyai fungsi atau arti adaptasi dan menentukan.[9]
Kemudian, pengertian kepribadian menurut Sigmund Freud (2005) adalah sebagai berikut :
“kepribadian merupakan suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem, yakni id, ego, dan super-ego, sedangkan tingkah laku tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga unsur dalam sistem kepribadian tersebut.” [10]
Selain itu, Browner (2005) mengemukakan mengenai pengertian dari kepribadian sebagai berikut :
“kepribadian adalah corak tingkah laku sosial, corak ketakutan, dorongan dan keinginan, corak gerak-gerak, opini dan sikap. Tingkah laku itu kadang-kadang terlihat(overt) dan kadang-kadang tidak terlihat(covert). Boleh dikatakan tingkah laku  manusia adalah gerak-gerik suatu badan sehingga kepribadian dapat dikatakan corak gerak-gerik badan manusia. Tingkah laku yang disebut kepribadian bersifat sadar dan tidak sadar. Hal itu dapat dilihat dari sudut diri manusia dan dari sudut lingkungnnya.[11]
Berdasarkan uraian pengertian-pengertian kepribadian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa, kepribadian merupaka suatu tingkah dan prilaku seseorang yang memiliki ciri khas yang tidak dapat kesamaan dengan orang lain, pemikiran yang khas, cara bersikap yang khas, psikologi yang khas, cara bersosialisasi yang khas dan segala macam keinginan, ego-ego dan perasaaan-perasaan yang dimiliki oleh seseorang yang pastinya setiap manusia memeiliki kepribadian yang berbeda, meskepun dua orang terlahir bersamaan atau kembar, pastilah ada perbedaan diatara keduanya. Jadi, kepribadian adalah cara berprilaku seseorang yang dapat terlihat oleh orang lain dan orang lainlah yang dapat menilai kepribadian seseorang dapat dikatakan baik ada kurang bai atau bhkan buruk. Sebagian kecil orang mengasumsikan bahwa kepribadian seseorang terbentuk sejak lahir, padahal asumsi itu sangat kecil sekali kebenarannya, karna pada dsarnya kepribadian seseorang dapat terbentuk dari berbagai faktor yang mempengaruhinya ketika seseorang tersebut berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan diri, dari mulai ia dilahirkan sampai ia dewasa.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Secara umum kata karakter memiliki kesamaan makna dengan kepribadian, dimana setiap orang memiliki dan membentuk kepribadian dan karakternya masing-masing sesuai dengan faktor yang mempengaruhinya, namun, karakter dan kepribadian memiliki dua pandangan yang dapat dipersepsikan oleh orang lain dari segi negatif dan positif, artinya seseorang bisa saja dipandang dan dipersepsikan oleh orang lain memiliki karakter baik dan atau karakter buruk. Tapi, dalam arti kata pendidikan karakter disini, sudah sangat diperjelas bahwa keberadaannya kata pendidikan, karater tersebut memiliki nilai positif. Karena, pendidikan adalah suatu proses untuk mewujudkan suatu nilai positif, nilai kebaikan dan proses perkembangan sesuatu, sesuai dengan apa yang ingin di didikan, entah itu pendidikan yang menjurus kepada kognitif, afektif atau psiokomotorik, termasuk karakter.
Pendidikan karakter memiliki peran penting dalam pembentukan suatu kepribadian seseorang terlebih seorang anak. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kepribadian adalah prilaku dan sikap yang bisa dibilang telah permanen terterap dalam diri seseorang, entah itu kepribadian baik atau buruk. Jadi untuk membentuk kepribadian yang posif/baik, bisa melalui pendidikan karakter tersebut, apa lagi jika pendidikan tersebut di mulai sejak anak berusia dini, dimana anak berada pada masa pertumbuhan dan  perkembangan otak yang pesat, aktif, cepat tanggap, dan apa yang telah terterap dalam otaknya tidak mudah hilang. Pendidikan karakter menumbuhkan dan menerapkan nilai-nilai moral, etika, akhlak, dan segala macam nilai-nilai kebaikan, diantaranya jujur, disiplin, bertanggungjawab, sikap menghargai, dan lain sebagainya, jika semua nilai tersebut di didikan kepada anak yang masih berusia dini, maka kemungkinan besar akan membentuk kepribadian anak yang baik dan akan menjadi bekal dalam menghadapi masa depannya.


[1]Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta :KENCANA, 2013) hal. 9
[2]Ibid,hal.11
[3]Ibid,hal.12
[4]Mahmud, Pendidikan Karakter konsep dan implementasi,(Bandung : Alfabeta, 2012) hal. 23
[5]Ibid, hal.23
[6]Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta :KENCANA, 2013) hal. 15
[7] Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2008) hal.11
[8]Inge Hutagalung, Pengembangan Kepribadaian,(Jakarta : PT Indeks, 2007). Hal.01
[9]Ibid, hal.02
[10]Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2008) hal. 17
[11]Ibid, hal. 18