Jumat, 31 Juli 2015

latihan kajian teori untuk skripsi



BAB I
PENDAHULUAN

Pengaruh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Terhadap kualitas Pertumbuhan  anak/siswa

V1 Pendidikan Anak Usia Dini                      V2  Pertumbuhan Anak/siswa
·         Membimbing perilaku anak
·         Anak usia dini mudah meniru
·         Mengajarkan membaca, menulis dan berhitung
·         Perkembangan otak yang cepat
·         Menanamkan nilai-nilai moral sejak dini
·         Ingatan tajam/mudah mengingat apa yang didengar dan dilihat
·         Metode pembelajaran bermain sambil belajar
ü  pembentukan kepribadian
ü  Landasan pendidikan karakter sejak dini
·         Waktu yang tepat dalam menumbuhkan  rasa percaya diri
·         Memberikan bimbingan bersikap yang baik
·         Pertumbuhan fisik
·         Sebagai persyaratan pemerintah dalam memasuki jenjang pendidikan dasar
·         Saat yang tepat dalam berkembangan moral
·         Menumbuhkan potensi sejak dini
·         Kemampuan sosialisasi mulai berkembang
·         Membantu perkembangan kognitif sejak dini
·         Perkembangan kemampuan berfikir (otak)
·         Menumbuhkan kterampilan anak sejak dini.
·         Bembentukan sikap baik maupun buruk

Judul baru :
Pengaruh Pendidikan Karakter Sejak Dini Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak/Siswa
V1. Pendidikan Karakter
V2. Pembentukan Keperibadan

BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Pengertian Pendidikan karakter
Munculnya kesadaran penguatan pendidikan karakter menjadi penegasan kembali dari apa yang telah disadari oleh para pendiri bangsa. Sejak awal para pendiri negara sudah menyadari betapa pentingnya bembangunan karakter bangsa, sebab tanpa karakter yang baik , apa yang dicita-citakan negara ini tidak akan berhasil. Situasi dan kondisi karakter bangsa yang menurun menjadi suatu perhatian bagi pemerintah dan lembaga pendidikan yang ada.
1.      Karakter
Karna karakter merupakan hal yang penting untuk dimiliki setiap orang, banyak pendapat-pendapat mengenai karakter tersebut. Berikut pengertian karakter menurut beberapa ahli :
-          Menutur Ekowarni (2010), pada tahapan mikro, karakter diartikan : (a) Kualitas dan kuantitas reaksi terhadap diri sendiri, orang lain, maupun situasi tertentu, atau (b) watak, akhlak, ciri psikologis. Ciri-ciri psikologis yang dimiliki individu pada lingkup pribadi, secara evolutif akan berkembang menjadi ciri kelompok dan lebih luas lagi menjadi sosial.[1]
-          Dalam tulisan bertajuk Urgensi Pendidikan Karakter, Prof. Suyanto. Ph.D. menjelaskan bahwa “karakter adalah cara berfikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.”[2]
-          Karakter menurut Alwisol diartikan sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit.[3]
Berdasarkan pendapat-pendapat yang diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah ciri khas prilaku seseorang dalam bertindak dan dalam berfikir, yang memiliki nilai baik atau buruk menurut pandangan orang lain. Karakter yang baik adalah karakter yang menerapkan nilai-nilai kebaikan, moral, budi pekerti yang bernlai baik di lingkungan masyarakat, bangsa maupun negara. Sedangkan untuk karakter yang buruk adalah tingkah laku dan watak seseorang yang jauh dari nilai-nilai kebaikan, seperti tidak ada rasa peduli terhadap keadaan masyarakat lingkungannya, bertingkah semaunya tidak mementingkan perasaan orang lain dan lainsebagainya.

2.      Pendidikan karakter
Pada umumnya pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengutamakan proses-proses terbentuknya sikap dan watak  yang baik, berkualitas dan memiliki keunggulan serta ciri khas. Namun, banyak pendapat-pendapat yang dikemukankan oleh para pakar mengenai pengertian pendidikan karakter, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
Pendidikan karakter menurut  Thomas Lickona (1991) adalah
“pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Aristoteles berpendapat bahwa karakter erat kaitannya dengan kebiasaan yang kerap dimanifestasikan dalam tingkah laku.[4]
Definisi pendidikan karakter selanjutnya dikemukakan oleh Elkind dan Sweet (2004)
charakter education is the deliberate effort to help peopel understand, care about, and act upon core ethical value. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”[5]
Menutut Elkind and sweet “pendidikan karakter adalah upaya yang disengaja untuk membantu memahami manusia, peduli dan inti atas nilai-nilai etis/susila. Dimana kita berfikir tentang macam-macam karakter yang kita inginkan untuk anak kita, ni jelas bahwa kita ingin mereka untuk mampu menilai apa itu kebenaran, sangat peduli tentang apa itu kebenaran/hak-hak, dan kemusia melakukan apa yang mereka percaya menjadi yang sebenarnya, bahkan dalam menghadapi tekanan  dari tanpa dan dalam godaan.”
Kemudian, dalam perspektif lain Williams & Schnaps mendefinisikan:
“pendidikan Karakter merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh para personel sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama orang tua dan anggota masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja untuk menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian dan bertanggung jawab.”[6]

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, pendidikan  karakter merupakan upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam menerapkan nilai-nilai moral ke dalam diri peserta didik yang perlu dilakukan oleh guru yang tentunya peran utama dalam proses pembelajaran dan juga bekerja sama dengan orang tua dan lingkungan masyarakat agar dapat mewujudkan tujuan dari pendidikan karakter itu sendiri, yakni membentuk anak-anak dan remaja untuk memiliki sifat-sifat yang terpuji, cerdas dan berkualitas tidak hanya dari segi intelektual tetapi yang terpenting adalah dari segi watak dan sikap yang baik, yang juga merupakan tujuan dan harapan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan karakter ini meliputi upaya penerapan nilai-moral seperti jujur, disiplin, percaya diri, peduli, mandiri, gigih, tegas, bertanggung jawab, kreatif dan bersikap kritis. Karna nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan untuk menjadi bekal anak ketika telah mencapai kedewasaan yang nantinya akan menghadapi berbagai macam rintangan hidup.


B.     Pengertian Kepribadian
Kepribadian yang dikemukakan oleh Sjarkawi dalam bukunya “Pembentukan Kepribadian anak”, menyatakan bahwa, kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang besumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan,misalnya, keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir[7]. Tapi ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian kepribadian, diantaranya adalah sebagai berikut.
Menurut Gordon Allport(1951), seorang psokolog jerman yang merupakan pakar kepribagian.:
Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisik yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.”[8]
            Definisi ini kiranya dapat diperjelas sebagai berilkut :
a)      “organisasi dinamis” menekankan kenyataan bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah walaupun dalam pada itu ada organisasi sistem yang mengikat dan menghubungkan berbagai komponen dari kepribadian.
b)      Istilah “psikofisik” menunjukkan bahwa kepribadian bukan hanya eksklusif (semata-mata) mental, dan bukan pula semata-mata neural. Organisasi kepribadian melingkupi kerja tubuh dan jiwa (tak terpisa-pisah) dalam kesatuan kepribadian.
c)      Satu unsur yang penting dalam definisi diatas adalah kata khas (unik, unique) yang menunjuk pada penekanan utama yang diberikan oleh Allport pada individualitas. Tidak ada dua orang yang benar-benar sama dalam caranya menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Jadi dengan demikian tidak ada orang yang mempunyai kepribadian yang sama.
d)      Dengan menyatakan “menyesuaikan diri terhadap lingkungan” Allport menunjukkan keyakinannya bahwa kperibadian mengantarai individu dengan lingkungan fisik dan lingkungan psikologisnya. Jadi, kepribadian adalah sesuatu yan mempunyai fungsi atau arti adaptasi dan menentukan.[9]
Kemudian, pengertian kepribadian menurut Sigmund Freud (2005) adalah sebagai berikut :
“kepribadian merupakan suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem, yakni id, ego, dan super-ego, sedangkan tingkah laku tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga unsur dalam sistem kepribadian tersebut.” [10]
Selain itu, Browner (2005) mengemukakan mengenai pengertian dari kepribadian sebagai berikut :
“kepribadian adalah corak tingkah laku sosial, corak ketakutan, dorongan dan keinginan, corak gerak-gerak, opini dan sikap. Tingkah laku itu kadang-kadang terlihat(overt) dan kadang-kadang tidak terlihat(covert). Boleh dikatakan tingkah laku  manusia adalah gerak-gerik suatu badan sehingga kepribadian dapat dikatakan corak gerak-gerik badan manusia. Tingkah laku yang disebut kepribadian bersifat sadar dan tidak sadar. Hal itu dapat dilihat dari sudut diri manusia dan dari sudut lingkungnnya.[11]
Berdasarkan uraian pengertian-pengertian kepribadian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa, kepribadian merupaka suatu tingkah dan prilaku seseorang yang memiliki ciri khas yang tidak dapat kesamaan dengan orang lain, pemikiran yang khas, cara bersikap yang khas, psikologi yang khas, cara bersosialisasi yang khas dan segala macam keinginan, ego-ego dan perasaaan-perasaan yang dimiliki oleh seseorang yang pastinya setiap manusia memeiliki kepribadian yang berbeda, meskepun dua orang terlahir bersamaan atau kembar, pastilah ada perbedaan diatara keduanya. Jadi, kepribadian adalah cara berprilaku seseorang yang dapat terlihat oleh orang lain dan orang lainlah yang dapat menilai kepribadian seseorang dapat dikatakan baik ada kurang bai atau bhkan buruk. Sebagian kecil orang mengasumsikan bahwa kepribadian seseorang terbentuk sejak lahir, padahal asumsi itu sangat kecil sekali kebenarannya, karna pada dsarnya kepribadian seseorang dapat terbentuk dari berbagai faktor yang mempengaruhinya ketika seseorang tersebut berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan diri, dari mulai ia dilahirkan sampai ia dewasa.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Secara umum kata karakter memiliki kesamaan makna dengan kepribadian, dimana setiap orang memiliki dan membentuk kepribadian dan karakternya masing-masing sesuai dengan faktor yang mempengaruhinya, namun, karakter dan kepribadian memiliki dua pandangan yang dapat dipersepsikan oleh orang lain dari segi negatif dan positif, artinya seseorang bisa saja dipandang dan dipersepsikan oleh orang lain memiliki karakter baik dan atau karakter buruk. Tapi, dalam arti kata pendidikan karakter disini, sudah sangat diperjelas bahwa keberadaannya kata pendidikan, karater tersebut memiliki nilai positif. Karena, pendidikan adalah suatu proses untuk mewujudkan suatu nilai positif, nilai kebaikan dan proses perkembangan sesuatu, sesuai dengan apa yang ingin di didikan, entah itu pendidikan yang menjurus kepada kognitif, afektif atau psiokomotorik, termasuk karakter.
Pendidikan karakter memiliki peran penting dalam pembentukan suatu kepribadian seseorang terlebih seorang anak. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kepribadian adalah prilaku dan sikap yang bisa dibilang telah permanen terterap dalam diri seseorang, entah itu kepribadian baik atau buruk. Jadi untuk membentuk kepribadian yang posif/baik, bisa melalui pendidikan karakter tersebut, apa lagi jika pendidikan tersebut di mulai sejak anak berusia dini, dimana anak berada pada masa pertumbuhan dan  perkembangan otak yang pesat, aktif, cepat tanggap, dan apa yang telah terterap dalam otaknya tidak mudah hilang. Pendidikan karakter menumbuhkan dan menerapkan nilai-nilai moral, etika, akhlak, dan segala macam nilai-nilai kebaikan, diantaranya jujur, disiplin, bertanggungjawab, sikap menghargai, dan lain sebagainya, jika semua nilai tersebut di didikan kepada anak yang masih berusia dini, maka kemungkinan besar akan membentuk kepribadian anak yang baik dan akan menjadi bekal dalam menghadapi masa depannya.


[1]Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta :KENCANA, 2013) hal. 9
[2]Ibid,hal.11
[3]Ibid,hal.12
[4]Mahmud, Pendidikan Karakter konsep dan implementasi,(Bandung : Alfabeta, 2012) hal. 23
[5]Ibid, hal.23
[6]Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta :KENCANA, 2013) hal. 15
[7] Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2008) hal.11
[8]Inge Hutagalung, Pengembangan Kepribadaian,(Jakarta : PT Indeks, 2007). Hal.01
[9]Ibid, hal.02
[10]Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2008) hal. 17
[11]Ibid, hal. 18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar