BAB I
PENDAHULUAN
Pengaruh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Terhadap kualitas Pertumbuhan anak/siswa
V1 Pendidikan Anak Usia Dini V2 Pertumbuhan Anak/siswa
|
·
Membimbing
perilaku anak
|
·
Anak usia
dini mudah meniru
|
|
·
Mengajarkan
membaca, menulis dan berhitung
|
·
Perkembangan
otak yang cepat
|
|
·
Menanamkan
nilai-nilai moral sejak dini
|
·
Ingatan
tajam/mudah mengingat apa yang didengar dan dilihat
|
|
·
Metode
pembelajaran bermain sambil belajar
|
ü
pembentukan
kepribadian
|
|
ü Landasan pendidikan karakter
sejak dini
|
·
Waktu yang
tepat dalam menumbuhkan rasa percaya
diri
|
|
·
Memberikan
bimbingan bersikap yang baik
|
·
Pertumbuhan fisik
|
|
·
Sebagai
persyaratan pemerintah dalam memasuki jenjang pendidikan dasar
|
·
Saat yang
tepat dalam berkembangan moral
|
|
·
Menumbuhkan
potensi sejak dini
|
·
Kemampuan
sosialisasi mulai berkembang
|
|
·
Membantu
perkembangan kognitif sejak dini
|
·
Perkembangan
kemampuan berfikir (otak)
|
|
·
Menumbuhkan kterampilan
anak sejak dini.
|
·
Bembentukan
sikap baik maupun buruk
|
Judul baru :
Pengaruh
Pendidikan Karakter Sejak Dini Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak/Siswa
V1. Pendidikan
Karakter
V2. Pembentukan
Keperibadan
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Pengertian Pendidikan karakter
Munculnya
kesadaran penguatan pendidikan karakter menjadi penegasan kembali dari apa yang
telah disadari oleh para pendiri bangsa. Sejak awal para pendiri negara sudah
menyadari betapa pentingnya bembangunan karakter bangsa, sebab tanpa karakter
yang baik , apa yang dicita-citakan negara ini tidak akan berhasil. Situasi dan
kondisi karakter bangsa yang menurun menjadi suatu perhatian bagi pemerintah
dan lembaga pendidikan yang ada.
1.
Karakter
Karna karakter
merupakan hal yang penting untuk dimiliki setiap orang, banyak
pendapat-pendapat mengenai karakter tersebut. Berikut pengertian karakter
menurut beberapa ahli :
-
Menutur
Ekowarni (2010), pada tahapan mikro, karakter diartikan : (a) Kualitas dan
kuantitas reaksi terhadap diri sendiri, orang lain, maupun situasi tertentu,
atau (b) watak, akhlak, ciri psikologis. Ciri-ciri psikologis yang dimiliki
individu pada lingkup pribadi, secara evolutif akan berkembang menjadi ciri
kelompok dan lebih luas lagi menjadi sosial.[1]
-
Dalam tulisan
bertajuk Urgensi Pendidikan Karakter, Prof. Suyanto. Ph.D. menjelaskan bahwa
“karakter adalah cara berfikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap
individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,
bangsa dan negara.”[2]
-
Karakter
menurut Alwisol diartikan sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai
benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit.[3]
Berdasarkan
pendapat-pendapat yang diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa karakter
adalah ciri khas prilaku seseorang dalam bertindak dan dalam berfikir, yang
memiliki nilai baik atau buruk menurut pandangan orang lain. Karakter yang baik
adalah karakter yang menerapkan nilai-nilai kebaikan, moral, budi pekerti yang
bernlai baik di lingkungan masyarakat, bangsa maupun negara. Sedangkan untuk
karakter yang buruk adalah tingkah laku dan watak seseorang yang jauh dari
nilai-nilai kebaikan, seperti tidak ada rasa peduli terhadap keadaan masyarakat
lingkungannya, bertingkah semaunya tidak mementingkan perasaan orang lain dan
lainsebagainya.
2.
Pendidikan karakter
Pada umumnya
pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengutamakan proses-proses
terbentuknya sikap dan watak yang baik,
berkualitas dan memiliki keunggulan serta ciri khas. Namun, banyak
pendapat-pendapat yang dikemukankan oleh para pakar mengenai pengertian
pendidikan karakter, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
Pendidikan karakter menurut
Thomas Lickona (1991) adalah
“pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui
pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang,
yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang
lain, kerja keras, dan sebagainya. Aristoteles berpendapat bahwa karakter erat
kaitannya dengan kebiasaan yang kerap dimanifestasikan dalam tingkah laku.[4]
Definisi pendidikan karakter selanjutnya dikemukakan oleh Elkind
dan Sweet (2004)
“charakter education is the deliberate effort to help peopel
understand, care about, and act upon core ethical value. When we think about
the kind of character we want for our children, it is clear that we want them
to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do
what they believe to be right, even in the face of pressure from without and
temptation from within”[5]
Menutut Elkind and sweet “pendidikan karakter adalah upaya yang
disengaja untuk membantu memahami manusia, peduli dan inti atas nilai-nilai
etis/susila. Dimana kita berfikir tentang macam-macam karakter yang kita
inginkan untuk anak kita, ni jelas bahwa kita ingin mereka untuk mampu menilai
apa itu kebenaran, sangat peduli tentang apa itu kebenaran/hak-hak, dan kemusia
melakukan apa yang mereka percaya menjadi yang sebenarnya, bahkan dalam
menghadapi tekanan dari tanpa dan dalam
godaan.”
Kemudian, dalam perspektif lain Williams & Schnaps
mendefinisikan:
“pendidikan Karakter merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh
para personel sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama orang tua dan anggota
masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja untuk menjadi atau memiliki
sifat peduli, berpendirian dan bertanggung jawab.”[6]
Berdasarkan
uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, pendidikan karakter merupakan upaya yang dilakukan oleh
pihak sekolah dalam menerapkan nilai-nilai moral ke dalam diri peserta didik
yang perlu dilakukan oleh guru yang tentunya peran utama dalam proses
pembelajaran dan juga bekerja sama dengan orang tua dan lingkungan masyarakat
agar dapat mewujudkan tujuan dari pendidikan karakter itu sendiri, yakni
membentuk anak-anak dan remaja untuk memiliki sifat-sifat yang terpuji, cerdas
dan berkualitas tidak hanya dari segi intelektual tetapi yang terpenting adalah
dari segi watak dan sikap yang baik, yang juga merupakan tujuan dan harapan
keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan karakter ini meliputi upaya
penerapan nilai-moral seperti jujur, disiplin, percaya diri, peduli, mandiri,
gigih, tegas, bertanggung jawab, kreatif dan bersikap kritis. Karna nilai-nilai
tersebut sangat dibutuhkan untuk menjadi bekal anak ketika telah mencapai
kedewasaan yang nantinya akan menghadapi berbagai macam rintangan hidup.
B.
Pengertian Kepribadian
Kepribadian yang dikemukakan oleh
Sjarkawi dalam bukunya “Pembentukan Kepribadian anak”, menyatakan bahwa,
kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri
seseorang yang besumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari
lingkungan,misalnya, keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak
lahir[7].
Tapi ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian kepribadian,
diantaranya adalah sebagai berikut.
Menurut Gordon Allport(1951), seorang psokolog jerman yang merupakan
pakar kepribagian.:
Kepribadian adalah organisasi
dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisik yang menentukan caranya yang
khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.”[8]
Definisi ini kiranya dapat
diperjelas sebagai berilkut :
a)
“organisasi dinamis” menekankan
kenyataan bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah walaupun dalam
pada itu ada organisasi sistem yang mengikat dan menghubungkan berbagai
komponen dari kepribadian.
b)
Istilah “psikofisik” menunjukkan
bahwa kepribadian bukan hanya eksklusif (semata-mata) mental, dan bukan pula
semata-mata neural. Organisasi kepribadian melingkupi kerja tubuh dan jiwa (tak
terpisa-pisah) dalam kesatuan kepribadian.
c)
Satu unsur yang penting dalam
definisi diatas adalah kata khas (unik, unique) yang menunjuk pada penekanan
utama yang diberikan oleh Allport pada individualitas. Tidak ada dua orang yang
benar-benar sama dalam caranya menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Jadi
dengan demikian tidak ada orang yang mempunyai kepribadian yang sama.
d)
Dengan menyatakan “menyesuaikan diri
terhadap lingkungan” Allport menunjukkan keyakinannya bahwa kperibadian
mengantarai individu dengan lingkungan fisik dan lingkungan psikologisnya.
Jadi, kepribadian adalah sesuatu yan mempunyai fungsi atau arti adaptasi dan
menentukan.[9]
Kemudian, pengertian kepribadian menurut Sigmund Freud (2005)
adalah sebagai berikut :
“kepribadian merupakan suatu struktur yang terdiri dari tiga
sistem, yakni id, ego, dan super-ego, sedangkan tingkah laku tidak lain
merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga unsur dalam sistem
kepribadian tersebut.” [10]
Selain itu, Browner (2005) mengemukakan mengenai pengertian dari
kepribadian sebagai berikut :
“kepribadian
adalah corak tingkah laku sosial, corak ketakutan, dorongan dan keinginan,
corak gerak-gerak, opini dan sikap. Tingkah laku itu kadang-kadang
terlihat(overt) dan kadang-kadang tidak terlihat(covert). Boleh dikatakan
tingkah laku manusia adalah gerak-gerik
suatu badan sehingga kepribadian dapat dikatakan corak gerak-gerik badan
manusia. Tingkah laku yang disebut kepribadian bersifat sadar dan tidak sadar.
Hal itu dapat dilihat dari sudut diri manusia dan dari sudut lingkungnnya.[11]
Berdasarkan uraian pengertian-pengertian kepribadian di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa, kepribadian merupaka suatu tingkah dan prilaku seseorang yang memiliki ciri khas yang tidak
dapat kesamaan dengan orang lain, pemikiran yang khas, cara bersikap yang khas,
psikologi yang khas, cara bersosialisasi yang khas dan segala macam keinginan,
ego-ego dan perasaaan-perasaan yang dimiliki oleh seseorang yang pastinya
setiap manusia memeiliki kepribadian yang berbeda, meskepun dua orang terlahir
bersamaan atau kembar, pastilah ada perbedaan diatara keduanya. Jadi,
kepribadian adalah cara berprilaku seseorang yang dapat terlihat oleh orang
lain dan orang lainlah yang dapat menilai kepribadian seseorang dapat dikatakan
baik ada kurang bai atau bhkan buruk. Sebagian kecil orang mengasumsikan bahwa
kepribadian seseorang terbentuk sejak lahir, padahal asumsi itu sangat kecil
sekali kebenarannya, karna pada dsarnya kepribadian seseorang dapat terbentuk
dari berbagai faktor yang mempengaruhinya ketika seseorang tersebut berada
dalam masa pertumbuhan dan perkembangan diri, dari mulai ia dilahirkan sampai ia
dewasa.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara umum kata karakter memiliki
kesamaan makna dengan kepribadian, dimana setiap orang memiliki dan membentuk
kepribadian dan karakternya masing-masing sesuai dengan faktor yang
mempengaruhinya, namun, karakter dan kepribadian memiliki dua pandangan yang
dapat dipersepsikan oleh orang lain dari segi negatif dan positif, artinya
seseorang bisa saja dipandang dan dipersepsikan oleh orang lain memiliki
karakter baik dan atau karakter buruk. Tapi, dalam arti kata pendidikan
karakter disini, sudah sangat diperjelas bahwa keberadaannya kata pendidikan,
karater tersebut memiliki nilai positif. Karena, pendidikan adalah suatu proses
untuk mewujudkan suatu nilai positif, nilai kebaikan dan proses perkembangan
sesuatu, sesuai dengan apa yang ingin di didikan, entah itu pendidikan yang
menjurus kepada kognitif, afektif atau psiokomotorik, termasuk karakter.
Pendidikan karakter memiliki peran
penting dalam pembentukan suatu kepribadian seseorang terlebih seorang anak.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kepribadian adalah prilaku dan
sikap yang bisa dibilang telah permanen terterap dalam diri seseorang, entah
itu kepribadian baik atau buruk. Jadi untuk membentuk kepribadian yang
posif/baik, bisa melalui pendidikan karakter tersebut, apa lagi jika pendidikan
tersebut di mulai sejak anak berusia dini, dimana anak berada pada masa
pertumbuhan dan perkembangan otak yang
pesat, aktif, cepat tanggap, dan apa yang telah terterap dalam otaknya tidak mudah
hilang. Pendidikan karakter menumbuhkan dan menerapkan nilai-nilai moral,
etika, akhlak, dan segala macam nilai-nilai kebaikan, diantaranya jujur,
disiplin, bertanggungjawab, sikap menghargai, dan lain sebagainya, jika semua
nilai tersebut di didikan kepada anak yang masih berusia dini, maka kemungkinan
besar akan membentuk kepribadian anak yang baik dan akan menjadi bekal dalam
menghadapi masa depannya.
[1]Zubaedi,
Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta :KENCANA, 2013) hal. 9
[2]Ibid,hal.11
[3]Ibid,hal.12
[4]Mahmud,
Pendidikan Karakter konsep dan implementasi,(Bandung : Alfabeta, 2012)
hal. 23
[5]Ibid,
hal.23
[6]Zubaedi,
Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta :KENCANA, 2013) hal. 15
[7]
Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2008)
hal.11
[8]Inge
Hutagalung, Pengembangan Kepribadaian,(Jakarta : PT Indeks, 2007).
Hal.01
[9]Ibid,
hal.02
[10]Sjarkawi,
Pembentukan Kepribadian Anak, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2008) hal. 17
[11]Ibid,
hal. 18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar