Nama : Diana Astari
NIM : 1113018200063
Jurusan : Manajemen
Pedidikan
Semester : 2 B
TEORI BELAJAR KOGNITIF
1.
Latar
Belakang
Manusia telah
dianugerahkan oleh Allah SWT berbagai karuia, diantaranya hati dan akal. Akal
diberikan untuk manusia agar mampu berfikir dam memikirkan suatu kebenaran yang
datang dari Allah SWT dan juga dengan akal lah manusia mampu bertingkah laku
kearah yang baik maupun kearah yang buruk, serta dengan akal pula manusia mampu
menemukan berbagai kreasi dan karya seni yang mampu mejadikan sesuatu hal yang
bernilai dan berharga, dan yang paling terpenting adalah, dengan akal lah
manusia mampu berfikir kemudian mampu menemukan berbagai ilmu pengetahuan yang
sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Seperti yang kita ketahui, keberadaan
akal adanya didalam otak manusia yang terbagi menjadi dua, ada otak kiri dan
otak kanan, dimana kedua otak ini memiliki fungsi berfikir yang sedikit berbeda
yaitu, pada otak kanan manusia akan menggunakannya saat ia sedang berkreasi
seni yang menghasilkan suatu keindahan karya seni, seperti saat ia melukis,
menciptakan lagu dan lain sebagainya, sedangkan otak kiri ia akan berfungsi
saat manusia mencari ilmu pengetahuan, saat belajar membaca, menghitung dan
ilmu pengetahuan lainnya. Bicara tentang otak serta ilmu pengetahuan, dalam
sebuah teori belajar psikologi ini terdapat istilah dan termasuk pada sebuah
teori yang sangat populer yang dikembangkan dan dianalisis oleh seorang tokoh
besar yaitu Jean Peaget yakni teori
Belajar Kognitif. Nah, dalam pembahasan inilah kita akan mengetahui lebih dalam
tentang teori kognitif dalam suatu pembelajaran yang berkaitan dengan otak
seperti pengetahuan, pemahaman, pengelolaan sebuah informasi serta akan banyak
lagi pembahasan tentang teori kognitif lainnya.
2.
Tujuan
Penulisan
1.
A3 = meyakini
Mahasiswa
mampu meyakini rumusan teori kogitif yang mengatakan bahwa proses perkembangan
kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir.
2.
C2 = menjelaskan
Mahasiswa
dapat menjelaskan berbagai teori belajar termasuk teori belajar kognitif.
3.
P3 = menyempurnakan
Mahasiswa
mampu menyempurnakan proses pembelajaran dengan menggunakan teori belajar
kognitif
3.
Pengertian Teori Kognitif
Istilah
kogtinif berasal dari kata cognition yang padanannya knowing berarti
pengetahuan. Dalam arti yang luas, cognition (kognisi ) ialah perolehan,
penataran, dan penggunaan pengetahuan.
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer sebagai
salah satu doamain atau wilayah/ ranak psikologi manusia yang meliputi setiap
perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan
informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kewajiban yang
berpusat diotak ini juga berhubungan dengan ronasi (kehendak) dan afeksi
(perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.[1]
Sebagian besar
psikologi terutama kognitivis (ahli psikologi kognitif) berkeyakinan bahwa
proses perkembangan kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir.
Bekal dan modal dasar perkembangan manusia, yakni kapasitas motor dan kapasitas
sensori seperti yang telah diuraikan dimuka, ternyata sampai batas tertentu,
juga diprngaruhi oleh aktivitas ranah kognitif.[2]
Teori belajar
kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Teori
ini mengataka bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus
dan respon, melainkan tingkah laku seseorag ditentukan oleh persepsi serta
pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.
4.
Tokoh-tohoh
teori kognitif dan pokok-pokok teorinya
1.
Jean
Piaget dan pokok-pokok teorinya
Teori kognitif
dikembangkan oleh jean piaget, seorang psikologi
swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan konsep utama dalam
psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan.
Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata (skema bagaimana
seseorang memersepsikan lingkungannya) dalam tahapan-tahapan perkembangan dan
saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara
mental. Teori ini digolongkan kedalam konstruktivisme, bukan teori nativisme
yang menggambarkan teori kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan
bawaan. [3]
menurut piaget, proses belajar sebenarnya terjadi dari tiga tahapan yaitu, asimilasi, akomodasi dan
ekuiblirasi(penyeimbangan ).
a.
Proses
asimilasi adalah proses penyatuan
(pengintegrasian) informasi baru kestruktur kognitif yang sudah ada dalam benak
siswa.
b.
Proses
akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru.
c.
Proses
ekulibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Piaget
berpendapat bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan
kognitif yang dilalui siswa (Uno,2008: 11).
Tahapan tersebut dibagi menjadi empat tahapan, yaitu tahapan sensori
motor, tahap pra-opreasional, tahap oprasional konkret, dan tahap operasional
formal.
Gambar. 2.1 Tahapan perkemabangan kohnitif[4]
a.
Tahap
sensori motor
Pada
ini (0-2tahun) seorang anak belajar mengembangkan dan mengatur kegiatan fisik
dan mental menjadi rangkaian perbuatan yang bermakna.
b.
Tahap
pra- operasional
Pada
tahap pra-operasional (2-7 tahun), seorang anak masih sangat dipengaruhi oleh
hal-hal khusus yang di dapat dari pengalaman indera sehingga ia belum mampu
untuk melihat hubungan-hubungan dan menyimpulkan sesuatu secara konsisten.
c.
Tahap
operasional konkret
Pada
Tahap operasional konkret (7-11tahun), seorang anak dapat membuat kesimpulan
dari sesuatu pada situasi nyata atau dengan menggunakan benda konkret, dan
mampu mempertimbangkan dua aspek dari siyuasi nyata secara bersama-sama
(misalnya antara bentuk dan ukuran).
d.
Tahap
Operasional formal.
Pada
tahap operasional formal (11 tahun keatas), kegiatan kognitif seseorang tidak
mesti menggunakan benda nyata. Pada
tahap ini, kemampuan nalas secara abstrak meningkat sehingga seseorang mampu
untuk berfikir secara deduktif. Pada tahap ini pula, seseorang mampu
mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu situasi secara bersama-sama. [5]
Umur yang
dicantumkan pada setiap tahap tadi adalah hasil penelitian piaget dinegaranya.
, meskipu demikian, umur yang dicantumkan diatas bisa kita jadkan pedoman. Hal
lain yang perlu diperhatikan adalah seorang siswa SMK yang sudah berada pada
tahap operasional formal sekalipun masih membutuhkan benda-benda nyata pada
saat belajar, terutama pada situasi yang masih baru.
Piaget
juga berpendapat bahwa perkembangan kognitif
seorang siswa adalah melalui
suatu proses asimilasi dan akomodasi. Di dalam pikiran seseoarang, sudah
terdapat struktur kognitifatau kerangka kognitif yang disebut skema. Setiap orang akan selalu berusaha untuk
mencari suatu keseimbangan, kesesuaian atau ekuilibrium antara apa yang baru
dialami (pengalaman barunya) dan apa yang ada pada struktur kognitifnya. Jika
pengalaman barunya adalah cocok atau sesuai dengan yang tersimpan pada kerangka
kognitifnya, proses asimilasi dapat terjadi dengan mudah, dan keseimbangan
(ekuilibrium) tidak terganggu. Jika apa yang tersimpan pada kerangka
kognitifnya tidak sesuai atau tidak cocok dengan pengalaman barunya,
ketidakseimbangan akan terjadi, dan anak akan brusaha menyeimbangkannya lagi.
Dengan demikian, diperluakan proses akomodasi. dapat disimpulkan bahwa
asimilasi adalah suatu proses tempat informasi atau penagalaman yang baru
menyatukan diri ke dalam kerangka kognitif yang ada, sedangkan akomodasi adalah
suatu proses perubahan atau pengembangan kerangka kognitif yang ada agar sesuai
dengan pengalaman baru yang dialami.
Sebagai contoh
perkalian dapat di asimlasi sebagai pemjumlahan berulang. Dengan diterimanya
pengetahuan tentang perkalian ke dalam kerangka kognitif siswa sebagai
penjumlahan berulang, kerangka kognitif siswa telah berkembang dan berubah. Kerangka kognitif siswa telah berkembang
dengan penjumlahan berulang, namun juga telah berubah dengan adanya pengetahuan
baru tentang perkalian. Perubahan-perubahan tentang struktur kognitif atau
kerangka ognitif ini akan terus terjadi sampai terjadi ekuilibrium atau
keseimbangan. Proses asimilasi dan akomodasi ini sering juga desebut dengan
proses adaptasi. Selama proses pembelajaran berlangsung, setiap siswa akan
terus-menerus melakukan proses adaptasi
intelek ini sehingga ilmu pengetahuannya akan menjadi bertambah atau
berubah.
Piaget juga
mengemukakan bahwa selain disebabkan oleh proses asimilasi dan akomodasi
diatas, perkembangan kognitif seorang anak juga dipengaruhi leh kematang dari
otak sistem saraf anak, interaksi anak dengan objek-objek disekitarnya
(pengalaman fisik), kegiatan mental anak dalam menghubungkan pengalamannya
kerangka kognitifna (pengalaman fisik), kegiatan mental anak dalam
menghubungakan pengalamannya dengan kerangka kognitifnya (pengalaman logico-mathematics), dan interaksi anak dengan orang-orang
disekitarnya. Berdasarkan hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuan kognitif
seseorang diatas, para penganut piaget menyatakan pentingnya kegiatan dalam
proses belajar. Mereka meyakini bahwa pengalaman belajar aktif cenderung meningkatkan
perkembangan kognitif, sedangkan pengalaman belajar pasif cenderung
mempunyai akibat yang lebih seidikit
dalam meningkatkan perkembangan kognitif anak. Aktif dalam arti bahwa siswa
melibatkan mentalnya selama memanipulasi benda-benda konkret.
Piaget
menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan, yaitu sebgai berikut:
a.
Memusatkan
perhatian kepada cara berfikir atau proses mental anak, tidak sekadar pada
hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada
hasil tersebut. Pengalaman-pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan dengan
memperhatikan tahap fungsi kognitif dan jika guru penuh perhatian terhadap
pendekatan yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah
dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan pengalaman yang dimaksud.
b.
Mengutamakan
peran siswadalam brinisaitifdan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar.
Dalam kelas, piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi (ready made
knowledge) anak didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi
spontan dengan lingkungan.
c.
Memaklumi
akan adanya perbedaan individu dalam hal kemajuan perkembangan. Teori piaget
mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang
sama , namun pertumbuhan itu berlanggsung pada kecepatan berbeda. Oleh karena
itu, guru harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas didalam kelas yang
terdiri dari individu-individu kedalam bentuk kelompok-kelompok kecil siswa
daripada aktivitas dalam bentuk klasikal.
d.
Mengutamakan peran siswa untuk saling
berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan-gagasan tidak dapat dihindari
untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara
langsung, perkembangannya dapat disimulasi.
2.
Bruner
dan pokok-pokok teorinya
Bruner
mengusulkan teorinya yang disebut Free Discovery Learning (Uno, 2008: 12).
Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika
guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk
konsep teori, definisi, dan sebagainya ) melalui cotoh-contoh yang
menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya. Siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu
kebenaran umum. Selain itu, Bruner
mengemukakan perlu adnya teori pembelajaran yang menjelaskan asas-asas untuk
merancang pembelajaran yang efektif di kelas. Menurut pandangan Bruner, teori
belajar bersifat deskriptif, sedangkan teori pembelajaran bersifat preskriptif.
Misalnya teori belajar memprediksi berapa usia maksimum seorang anak untuk
belajar penjumlahan, sedankan teori pembelajaruan menguraikan bagaimana
cara-cara mengajarkan penjumlahan. Menuru Bruner, perkembangan kognitif
seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat
lingkungan, yaitu sebagai berikut :
a.
Tahap
Enaktif
Seseorang
melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan
sekitarnya. Suatu tahap pembelajaran ketika materi pembelajaran yang bersifat
abstrak dipelajari siswa dengan menggunakan benda-benda konkret. Dengan
demikian topik pembelajaran tersebut direpresentasikan atau diwujudkan dalam
bentuk benda-benda nyata.
b.
Tahap
Ikonik
Suatu
tahap pembelajaran ketika materi
pembelajaran yang bersifat abstrak, dipelajari siswa dengan menggunakan ikon,
gambar, atau diagram yang menggambarkan kegiatan nyata dengan benda-benda
konkret. Dengan demikian, topik pembelajaran yang bersifat abstrak ini telah
direpresentasikan atau diwujudkan dalam bentuk benda-benda nyata yang dapat
diamati siswa, lalu direpresentasikan atau diwujudkan dalam gambar atau diagram
yang bersifat semi-konkret. Memahami dunia sekitar anak belajar melalui bentuk
perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).
c.
Tahap
simbolik
Sseorang
telah mampu memiliki ide-ide abstrak yang sangan dipengaruhi oleh kemampuannya
dalam berbahasa dan logika. Cara yang baik untuk belajar adalah memahami
konsep, arti dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada
suatu kesimpulan (discovery learning).
5.
Analisis
tentang teori kognitif
Orang tidak
akan mengubah otak yang masih belum siap menerima pengalaman yang masuk untuk
mempengaruhinya. Pendapat ini sudah diungkapkan sekian tahun yang lalu oleh
Piaget, yang mempelajari kognitif anak, bukan otak mereka, dan kita tidak tahu sekarang bahwa terdapat hubungan antara
perubahan didalam otak dan perkembangan kognitif. Jika perkembangan otak
terjadi dalam waktu yang lama, perubahan perilaku melalui pembelajaran tidak
dapat melampau status perkembangan struktur saraf.
Riset
perkembangan juga terdapat bahwa pencapaian kognitif dalam diri anak-anak dan
remaja mungkin paling tepat dikonseptualisasikan sebagi sesuatu yang khas
bidang (domain). Walaupun belahan otak kiri san kanan tampaknya sama-sama
berpartisipasi dalam kebanyakan tugas kognitif, otak tidak seluruhnya merupakan
pemecah masalah umum yang beradaptasi dengan baik pada semua jenis tantangan
yang berbeda-beda yang mungkin ditemukan orang. Mungkin lebih tepat memandang
otak sebagai serangkaian pemecah masalah terspesialisasi dengan bidang atau
sirkuit spesifik yang beradaptasi dengan baik menanganani jenis maslah yang
terbatas, seperti menemukan jalan untuk pulang kerumah (pemecah masalah
geometri), memikirkan bahasa (pemecah maslah linguistik), atau “membaca”
informasi sosial (pemecah masalah “manusia”). Seperti dikatakan Wilinghem
(2006), kemampuan hal ini diterapkan di ruang kelas masih belum jelas, tetapi
temuan masa mendatang mungkin menyingkapkan implikasinya bagi guru untuk
merangsang bidang tertentu untuk mencapai sasaran tertentu.
Beberapa daerah
otak mungkin sangat penting bagi hasih kogntif, untuk mendudkung jenis kegiatan
saraf tertentu yang terkait dengan pembelajaran dan kognisi. Salah satu daerah
yang telah menjadi fokus utama banyak riset kontemporer ialah korteks
prefrontal. Dareah ini telah dianggap sebagai mediator perencanaan dan
penalaran perilaku. Proses perhatian, kontro impulsifitas dan lebih belakangan
ini fungsi kognitif perencanaan dan peleksanaan dan bahkan kemampuan
menggunakan aturan ketika terlibat kedalam tugas kognitif. Singkatnya, hal ini
tampaknya merupakan tempat apa yang kita anggap sebagai kegiatan kognitif
sadar, yang kita coba untuk didorong diruang kelas.
Apa arti semua
ini bagi pendidik yang menghadapi ruang kelas penuh dengan siswa ? dengan
mengingat apa yag kita ketahui tentang perkembangan otak dan fungsi otak itu
berarti bahwa penerima pengajaran bukanlah kotak kosong dan belum terbentuk yang
menunggu untuk “diisi” dengan informasi, pengarahan, dan kemampuan. Itu berarti
mereka bahkan bukanlah kota yang sudah jadi _bahwa penampung itu sendiri masih
sedang berubah da mengalami pembaharuan. Pada kenyataannya, pembelajaran adalah
karaya saraf yang sedang berproses, yang mengubah diri jika ada setiap legiatan
baru, setiap keterlibatan, dan setiap kemampuan baru yang diperoleh dan fakta
yang dipelajarai. Pembentukan kembali itu berlangsung terus, berlarut-larut,
dan berkesinambungan. Ketika ilmu saraf terus menyediakan banyak data baru dan
data itu digabung dengan data yang disediakan pakar sosiologi, ilmuan prilaku,
ahli psikologi dan pendidikan, kita tentu saja mungkin akan menemukan bahwa
riset otak menyediakan pemahaman yang tidak ternilai_ dan strategi yang
bermanfaat_ bagi kita sebagai pendidik.[6]
Contoh kasus pelaksanaan
pembelajaran menurut teori kognitif
Contoh
pelaksanaan pembelajaran menurut teori kognitif berikut ini dalam mata
pelajaran Matematikan disebuah sekolah SMK nonteknik :
1.
Guru
matematika SMK nonteknik berusaha agar pengetahuan siswanya utuh, tidak
terpisah-pisah. Artinya pegetahuan yang satu terkait dengan pengetahuan yang
lain. Sebagai contoh, konsep integral harus dikaitkan dengan konsep turunan.
2.
Agar
lebih bermakna, pengetahuan yang baru diajarkan dihubungkan dengan situasi
nyata. Misalnya guru dapat menghubungakan himpunan kosong dengan buku kosong,
yang satu tidak mempunyai anggota, yang satunya lagi belum ada tulisan
didalamnya.
3.
Pembelajaran
matematika di SMK nonteknik dimulai dari benda konkret, semi konkret, baru ke
abstrak. Guru matematika SMK nonoteknik menyadari bahwa siswa yang sudah berada
pada tahap operasional formal sekalipun akan lebih mudah mempelajari matematika
jika dimulai dari sesuatu yang konkret ataupun yang bisa dipikirkan siswa.
Misalnya konsep turunan yang dimulai dari konsep kecepatan.
4.
Pada
taraf tertentu, guru menggunakan alat peraga, seperti menggunakan model-model
bangun ruang ketika membahas materi dimensi tiga.
5.
Guru
mengjar matematika dari hal yang mudah / sederhana ke yang sedang, kemudian ke
yang sukar /rumit. Hal yang mudah / sederhana lebih gampang untuk dicerna oleh
siswa. Dengan demikian, hal-hal yang sukar atau rumit bisa diasimilasikan
dengan mudah kedalam kerangka kognitif yang sudah ada di benaknya. Sebagai
contoh, guru meminta siswa untuk menghitung 11+13+15+......+19 dengan berbagai
cara sebelum ia membahas rumus umumnya.
6.
Kesalahan
yang sudah terbentuk didalam benak siswa sangat sukar untuk diperbaiki,
diperlukan proses akomodasi untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, hasnya
memberi tahu saja bahwa ia salah adalah tidak cukup. Guru pertama kali harus
memberikan contoh-contoh dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat meyakinkan siswa
bahwa ia salah. Setelah itu, guru
mendiagnosis kesalahan siswanya. Berdasarkan hasil diagnosis itulah berbaikan
dapat dilakukan.[7]
Ayat
al-qur’an mengenai Ranah kognitif
Ranah psikologi
siswa yang paling terpentig adalah ranah kognitif. Ranah kejiwaan yang
berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif psikologi kognitif adalah sumber
sekaligus pengendalian ranah-ranah kejiwaan lainnya, yakni ranah afektif (rasa)
dan ranah psikomotorik (karsa). Tidak seperti organ-oragan tubuh lainnya, organ
otak sebgai markas fungsi kognitif bukan hanya menjadi penggerak aktivitas akal
pkiran, melainkan juga menara pengontrol aktivitas perasaan dan perbuatan. Sebagai menara pengotrol, otak selalu bekerja
siang dan malam. Sekali kita kehilangan fungsi-fungsi kognitif karena kerusakan
berat pada otak, martabat kita hanya berbeda sedikit dengan hewan.
Demikian pula
hanya orang yang menyalahgunakan kelebihan kemampuan otak untuk memuaskan hawa
nafsu dengan mempertuhan hawa nafsunya, martabat orang terbentuk tak lebih
darimartabat hewan atau mungkin lebih rendah lagi. Kelompok orang yang
bermartabat rendah seperti ini dilukiskan dalam Al-Qur’an oleh Allah SWT.
QS. Al-furqan : 44
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ
أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ
أَضَلُّ سَبِيلا
“Atau
apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami[20]Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya. (44) “
Selain itu, orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang sudah
barang tentu karena memiliki kelebihandalam hal kemampuan otak, apabila tidak
disertai dengan iman akan cenderung memanipulasi (mengubah seenaknya) kebenaran
dari Allah yang semestinya dipertahankan. Adanya orang-orang seperti ini telah
ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an, Q.S Al-Baqarah : 75
أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ
يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلامَ اللَّهِ
ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Maka apakah kamu (wahai kaum muslim) sangat mengharapkan mereka akan
percayakepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu
merekamengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahui?. (75)
Itulah sebabnya, pendidikan dan pengajaran perlu diupayakan
sedemikian rupa agar ranah kognitis para siswa dapat berfungsi secara
positif dan bertanggungjawab dalam arti
tidak menimbulkan nafsu serakah dan kedustaan yang tidak hanya akan merugikan
diri sendirinya saja, tetapi juga meurgikan orang lain.[8]
Gambar. 2.2 Grafik mengenai tingkatan ranah kognitif [9]
RENCANA
PELAKSANAANPEMBELAJARAN
(RPP)
Materi
pembelajaran : Al-Qur’an dan Ilmu Tajwid
Tingkatan
: SD/MI (TPQ)
Pokok pembahasan : Hukum Tajwid
Stndar
Kompetensi : 3.
Menerapkan cara membaca Al-Qur’an
dengan baik.
Kompetensi Dasar : 3.1.Menjelaskan pengertian Hukum tajwid dan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan baik
Indikator :
3.1.1. Menjelaskan pengertian dan pentingnya membaca Al-qur’an
3.1.2. Menjelaskan pengertian dan
pentingnya hukum tajwid
Waktu : 1 X 60 Menit (1 X pertemuan)
A.
Tujuan
pembelajaran
1.
C2 –
C1 = menjelaskan - melafalkan
·
Siswa
mampu menjelaskan kembali pengertian Al-qur’an dan hukum tajwidnya.
·
Siswa
mampu melafalkan/melafazkan bacaan al-qur’an dengan disertai hukum-hukum
tajwidnya.
Penjelasan
perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek
perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan),
yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu
mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Perkembangan kognitif dalan pembelajaran ilmu Tajwid ini adalah,
seberapa jauh siswa telah mengetahui, memahami, dan menghafalkan bacaan
Al-Qur’an dengan hukum-hukum tajwid yang telah diajarkan. Agar tercapainya
tujuan perkembangan kognitif pada siswa, ada beberapa cara :
a.
Guru
menerangkan manfaat, pahala dan kewajiban serta keindahan apa saja ketika
membaca Al-Qur’an disertai hukum-hukum tajwid yang benar.
b.
Guru
menjelaskan pengertian hukum tajwid yang akan diajarkan sesuai dengan tingkat
pemahaman siswa.
c.
Guru
memberi contoh cara-cara melafadkan ayat yang mengandung hukum tajwid yang
sedang diajarkan dan agar kemudian siswa membaca kembali apa yang telah di
contohkan guru.
d.
Guru
memberi waktu luang siswa untuk bertanya jika mendapatkan kesulitan untuk
memahami hukum tajwid yang sedang dipelajari.
2.
P2-P3
= menerapkan - menyempurnakan
· Siswa
mampu menerapkan hukum tajwid yang telah dipelajari kedalam bacaan Al-Qur’an
dengan baik dan mengamalkan makna Al-qur’an ke dalam kehidupan sehari-hari.
·
Siswa
mampu menyempurnakan cara bacaan Al-Qur’an yan baik dan benar.
Penjelasan perkembangan psikomotorik
Perkembangan psikomotorik adalah perkembangan
kepribadian manusia yang berhubungan dengan gerakan jasmaniah dan fungsi otot
akibat adanya dorongan dari pemikiran, perasaan dan kemauan dari dalam diri
seseorang. Ciri khas dari keterampilan motorik adalah otomatisme, yaitu
rangkaian gerak-gerik yang berlangsung secara teratur dan berjalan lancar tanpa
dibutuhkan banyak refleksi atau berfikir terhadap apa yang harus dilakukan dan
mengapa harus mengikuti suatu gerakan.
Perilaku psikomotorik memerlukan koordinasi fungsional
antara neuronmuscular system (persyarafan dan otot) dan fungsi psikis
(kognitif, afektif, dan konatif). Loree menyatakan bahwa ada dua macam perilaku
psikomotorik utama yang bersifat universal harus di kuasai oleh setiap individu
pada masa bayi atau awal masa kanak-kanaknya ialah berjalan (walking) dan
memegang benda (prehension). Kedua jenis keterampilan psikomotorik ini
merupakan basis bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks seperti yang
kita kenal dengan sebutan bermain (playing) dan bekerja (working).
Dua prinsip perkembangan utama yang tampak dalam semua
bentuk perilaku psikomotorik ialah (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dan
yang sederhana kepada yang kompleks, (2) dan yang kasar dan global (gross
bodily movements) kepada yang halus dan spesifik tetapi terkoordinasikan
(finely coordinated movements).
Pada saat yang sama, kalau pada fase sebelumnya, anak
perlu menciptakan sense of identity sebagai seorang manusia dan kepercayaan
untuk melakukan eksplorasi sendiri, maka pada fase ini yang harus diciptakan
adalah identitas diri macam apa, terutama sehubungan dengan jenis kelamin
mereka.
Seperti Andi bilang, anak belajar menjadi lelaki atau
perempuan bukan hanya dari alat kelamin tapi juga dari perlakuan sekeliling
pada mereka. Fase inilah konon yg berperanan besar dalam menentukan identitas
ini karena pengaruh kelamin mulai dirasakan secara psikologis: Anak lelaki
menjadi lebih sayang pada ibu dan tidak begitu senang pada bapak sementara anak
perempuan menjadi dekat bapak dan merasa disaingi.
Dalam
perkembangan psikomotorik siswa, dengan pembelajaran hukum-hukum tajwid ini,
diharapkan dalam pembacaan Al-Qur’an nya siswa mampu menyempurnakan bacaannya
dengan baik dan benar, menerapkan setiap hukum-hukum tajwid yang telah
dipelajari dan melaksanakan serta mengembangkan keindahan-keindahan dalam
bacaan Al-Qur’an nya setiap saat. Agar tercapainya perkembangan psikomotorik
tersebut, maka ada beberapa cara pembelajaran :
a. Guru
terus-menerus memberikan latihan-latihan cara membaca Al-Qur’an dengan
menghidupkan hukum-hukum tajwid yang telah diajarkan.
b.
Guru
memberikan berbagai motivasi dan nasihat-nasihat agar siswa terus ingin
mempelajari Al-Qur’an serta menerapkan setiap hukum tajwid dalam setiap
bacaannya.
c.
Guru
merumuskan cara-cara bacaan Al-qur’an yang baik beserta hukum Tajwidnya.
d.
Guru
memberikan latihan lebih kepada siswa baik tulisab maupun lisan agar mereka
terbiasa dengan hukum-hukum tajwid yang tealah diajarkan.
3.
A3-A5 = meyakini – membiasakan
·
Siswa mampu meyakini pentingnya membaca Al-qur’an dengan baik
yang disertai dengan hukum tajwidnya.
·
Siswa mampu membiasakan diri untuk selalu membaca Al-qur’an
dengan menerapkan hukum-hukum tajwidnya.
Penjelasan
Perkembangan Afektif
Afektif menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah berkenaan
dengan rasa takut atau cinta, mempengaruhi keadaan, perasaan dan emosi,
mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan.Seseorang individu dalam
merespon sesuatu diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan tetapi pada saat
tertentu dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi
pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya.
Afektif mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki
oleh setiap peserta didik, yang juga perlu mendapatkan perhatian dalam
pembelajaran. Pemahaman guru tentang perkembangan afektif siswa sangat penting
untuk keberhasilan belajarnya. Asfek afektif tersebut dapat terlihat selama
proses pembelajaran, terutama ketika siswa bekerja berkelompok.
Perbuatan atau perilaku yang disertai perasaan
tertentu disebut warna afektif yang kadang-kadang kuat, lemah atau tidak
jelas. Pengaruh
dari warna afektif tersebut akan berakibat perasaan menjadi lebih mendalam, perasaan ini disebut
emosi.
Pada usia anak di taman kanak-kanak, guru harus
memberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk perkembangan diri
kelak, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler. Selain itu, seorang
anak akan menghadapi berbagai tugas perkembangan, seperti belajar menyesuaikan
diri dengan teman seusianya, membentuk konsep diri yang baik, mulai mengembangkan
peran sosial sesuai gender-nya serta mengembangkan hati nurani, akhlak dan tata
nilai pengertian. Pada masa itu pula seorang anak tidak saja membutuhkan
bimbingan dari orang tua, tetapi juga guru, tokoh-tokoh masyarakat lainnya dan
juga teman-teman. Selain itu, kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar
juga memegang peran kritis, tidak seperti ketika berusia balita, dimana
pengalaman belajar tersebut dilakukan hanya dengan bantuan orang tua dan orang
di sektar lingkungan terdekatnya.
B.
Materi
pembelajaran
1.
Al-Qur’an
Menurut bahasa, “Qur’an” berarti “bacaan”, pengertian seperti ini
dikemukakan dalam Al-Qur’an sendiri yakni dalam surat Al-Qiyamah, ayat 17-18: “Sesungguhnya mengumpulkan
Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu
adalah tanggungan kami. (Karena itu), jika kami telah membacakannya, hendaklah
kamu ikuti bacaannya”.
Adapun menurut istilah Al-Qur’an berarti: “Kalam Allah yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada
nabi Muhammad, yang disampaikan secara mutawatir dan membacanya adalah ibadah”.
Selain itu, isi kandungan Al-Qur’an
selalu terjaga keasliannya dari pemalsuan, pengubahan, pengurangan, atau bahkan
penambahan isi. Tidak ada siapapun atau secerdas apapun yang mampu mengubah isi
Al-Qur’an dan tidak akan pernah dapat melakukannya. Walapun ada, akan segera
terbongkar kedoknya dan usahanya tidak akan pernah berhasil dengan cara apapun.
Hal tersebut telah ditegaskan oleh Allah dalam Surah Al-Hijr ayat:9.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan
Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”
Janji Allah SWT tentang pemeliharaan
Al-Qur’an tidak mungkin ingkar. Al-Qur’an akan terus terjaga kesucian dan
keasliannya dari tangan-tangan kotor para kufar atau orang-orang kafir di zaman
manapun. Hal tersebut terjadi pada zaman Rasulullah SAW, di mana pada masa itu
terdapat seorang Musailamah Alkadzab yang mengaku nabi. Secara terang-terangan
ia pun meniru Al-Qur’an dengan mengubah sebuah surat dalam Al-Qur’an dengan
nama suratnya yaitu Ad-Dibda’u atau seekor katak. Akan tetapi, pada
akhirnya ia tewas bersama para pengikutnya dalam sebuah peperangan di Yamamah,
di tangan pasukan muslim di bawah komando Abu Bakar Ash Shiddiq RA.
Definisi Al-Qur’an adalah
Kalamullah yang selalu terjaga keasliannya. Disampaikan kepada Nabi
Muhammad melalui perantara malaikan Jibril secara mutawatir, dan membacanya
adalah suatu ibadah.
FUNGSI AL QURAN
1. Petunjuk bagi Manusia.
Allah swt menurunkan Al-Qur’an
sebagai petujuk umar manusia,seperti yang dijelaskan dalam surat (Q.S
AL-Baqarah 2:185 (QS AL-Baqarah 2:2) dan (Q.S AL-Fusilat 41:44)
2.
Sumber
pokok ajaran islam.
Fungsi
AL-Qur’an sebagai sumber ajaran islam sudah diyakini dan diakui kebenarannya
oleh segenap hukum islam.Adapun ajarannya meliputi persoalan kemanusiaan secara
umum seperti hukum, ibadah, ekonomi, politik, social, budaya, pendidikan, ilmu
pengethuan dan seni.
3.
Peringatan dan pelajaran bagi
manusia.
Dalam AL-Qur’an banyak diterangkan tentang kisah para nabi dan umat terdahulu,baik umat yang taat melaksanakan perintah Allah maupun yang mereka yang menentang dan mengingkari ajaran Nya.Bagi kita,umat uyang akan datang kemudian rentu harus pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah yang diterangkan dalam Al-Qur’an.
Dalam AL-Qur’an banyak diterangkan tentang kisah para nabi dan umat terdahulu,baik umat yang taat melaksanakan perintah Allah maupun yang mereka yang menentang dan mengingkari ajaran Nya.Bagi kita,umat uyang akan datang kemudian rentu harus pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah yang diterangkan dalam Al-Qur’an.
4.
sebagai mukjizat Nabi Muhammad
saw.
Turunnya
Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat yang dimilki oleh nabi Muhammad saw.
2.
Hukum
Tajwid
Menurut bahasa, tajwid artinya MEMBAGUSKAN. Sedangkan menurut
istilah, tajwid adalah membaguskan bacaan Al-Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah
ilmu tajwid yang berlaku. Imam Ali bin Tholib mengatakan bahwa Tajwid adalah
mengeluarkan setiap huruf dari makhrojnya dan memberikan hak setiap huruf
(yaitu sifat yang melekat pada huruf tersebut seperti qolqolah, Hams, dll) dan
mustahaq huruf (yaitu sifat-sifat huruf yang terjadi karena sebab-sebab
tertentu, seperti izhar, idghom, dll.)
Adapun
pengertian ilmu tajwid menurut istilah adalah ilmu yang membahas tata cara
membaca Al-Qur’an.
Hukum Mempelajarinya
Mempelajari tajwid sebagai suatu ilmu
pengetahuan hukumnya Fardhu Kifayah yaitu
jika sudah ada yang mempelajari istilah-istilah dan teori ilmu tajwid maka
kewajiban itu gugur bagi yang lainnya. Adapun mempraktekan ilmu tajwid dalam
membaca Al-Qur’an adalah Fardhu ‘Ain, yaitu kewajiban setiap umat Islam.
Hal
ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Muzammil ayat 4
تَرْتِيلا الْقُرْآنَ وَرَتِّلِ
“Dan bacalah Al Qur’an dengan Tartil”
Karena
mempraktekan tajwid dalam membaca Al Qur’an adalah wajib sedang mempelajari
sitilah-istilahnya adalah fardhu kifayah.
Sedangkan
menurut Ibnu Katsir Tartil artinya membaca Al-Qur’an dengan perlahan-lahan dan
hati-hati karena itu akan membantu pemahaman dan tadabbur.
C. Metode Pembelajaran
·
Ceramah
·
Tanya jawab
·
Belajar sambil bermain (games)
·
Kerja kelompok
·
Latihan dan evaluasi
D.
Kegiatan Pembelajaran :
a.
Kegiatan
awal
-
Guru
memberi salam dan membaca doa bersama sebelum belajar
-
Murid
menyiapkan Al-Qur’an, panduan hukum
tajwid, buku tulis dan alat tulis (pulpen atau pensil)
-
Guru
menjelaskan pengertian dan pentingnya membaca Al-Qur’an.
b.
Kegiatan
inti
-
Murid
membaca Al-qur’an satu persatu
-
Guru
menjelaskan hukum tajwid secara bertahap dan meberi contoh-contohnya
-
Guru
memberi soal/pertanyaan terkait dengan hukum tajwid yang telah di jelaskan
c.
Kegiatan
akhir
-
Membaca
surat-surat pendek bersama-sama
-
Membaca
shalawat bersama-sama
-
Guru
memberi tambahan doa-doa pendek
-
Membaca
doa penutup majelis bersama-sama
E. Alat atau Sumber
Belajar
1.
kitab suci Al-Qur’an.
2.
buku pelajaran Tajwid praktis dan lengkap.
F. Penilaian
1.
Teknik : Tes Tulis dan tes lisan
2.
Bentuk Tes : uraian dan membaca
G. Penutup
Intrumen
1. Jelaskan
Pengertian dan pentingnya membaca Al-Qur’an !
2. Jelaskan
Pengertian hukum tajwid !
3. Tuliskan contoh
hukum-hukum tajwid yang telah dipelajari!
Penjelasan Perkembngan konsep diri dan emosi.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia istilah konsep,
memiliki arti gambaran, proses atau hal-hal yang digunakan oleh akal
budi untuk memahamin sesuatu. Istilah diri berarti bagian-bagian dari individu
yang terpisah dari yang lain. Konsep diri dapat diartikan sebagai gambaran
seseorang mengenai dirinya sendiri atau penilaian terhadap dirinya sendiri.
Sednagkan emosi didefinisikan sebagai keadaan budi rohani yang menampakkan dirinya dengan
suatu perubahan yang jelas pada tubuh.emosi dapat dipandang sebagai sumber
kecerdasan, kepekaan, berperan menghidupkan perkembangan dan penalaran yang
baik. Untuk mengembangkan konsep diri dan emosional pada siswa dalam
pembelajaran ilmu tajwi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru pada
waktu pembelajaran berlangsung :
1. Sebelum pembelajaran dimulai, guru
bertanya pada siswa seberapa besar minat dan niat siswa dalam mempelajari
Al-Qur’an.
2. Selain bertanya tentang niat dan minat,
agar siswa mampu mengembangkan emosional dalam dirinya sejak dini, guru
mempersilahkan siswa untuk berpendapat sesuai dengan apa yang telah
dipahaminya.
3. Agar siswa semakin antusias dan aktif
pada saat pembelajaran berlangsung, guru menciptakan games yang sesuai dengan
ilmu tajwid yang sedang dipelajari.
Perkembangan
nilai ,moral dan sikap
Nilai merupakan dasar pertimbangan bagi individu untuk
sesuatu, moral merupakan perilaku yang seharusnya dilakukan atau dihindari,
sedangkan sikap merupakan predikposisi atau kecenderungan individu untuk
merespon terhadap suatu objek atau sekumpulan objek debagai perwujudan dari
sistem nilai dan moral yang ada di dalam dirinya. Sistem nilai mengarahkan pada
pembentukan nilai-nilai moral tertentu yang selanjutnya akan menentukan sikap
individu sehubungan dengan objek nilai dan moral tersebut. Dengan sistem nilai
yan dimiliki individu akan menentukan perilaku mana yang harus dilakukan dan
yang harus dihindarkan, ini akan tampak dalam sikap dan perilaku nyata sebagai
perwujudan dari sistem nilai dan moral yang mendasarinya.
Dalam pembelajaran tajwid ini tentunya
mengandung nilai agama, yang dapat
membentuk moral serta sikap
siswa kearah yang religius, berakhlak mulia dan
cinta qur’ani. Untuk tercapainya tujuan tersebut, dapat
dengan cara :
1. Guru menyediakan waktu untuk menjelaskan
materi tentang akhlak mulia serta prilaku-prilaku yang baik dalam agama.
2. Disetiap akhir pembelajaran guru
memberikan nasihat-nasihat dalam hal prilaku yang baik.
3. Guru menerangkan kebaikan-kebaikan apa
saja yang akan diperoleh jika siswa memiliki akhlak yang baik, menati
nilai-nilai agama, memiliki moral yang baik serta sikap yang baik.
Perkembangan
kreativitas
Dengan berkreasi, orang dapat mewujudkan dirinya,
perwujudan diri tersebut termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup
manusia. Menurut Maslow (Munandar, 1999) kreativitas juga merupakan manifestasi
dari seseorang yang berfungsi sepenuhnya dalam perwujudan dirinya. Kreativitas sebagai kemampuan untuk
melihat kemungkinan-kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah, merupakan
bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam
pendidikan formal. Siswa lebih dituntut untuk berpikir linier, logis,
penalaran, ingatan atau pengetahuan yang menuntut jawaban paling tepat terhadap
permasalahan yang diberikan.
Kreativitas
yang menuntut sikap kreatif dari individu itu sendiri perlu dipupuk untuk
melatih anak berpikir luwes (flexibility), lancar (fluency), asli
(originality), menguraikan (elaboration) dan dirumuskan kembali (redefinition)
yang merupakan ciri berpikir kreatif yang dikemukakan oleh Guilford (Supriadi,
2001).
Agar siswa tidak hanya cerdas dalam segi
kognitifnya pada ilmu tajwid, namun juga tampil kreatif, ada beberapa yang
harus dilakukan guru, diantaranya :
1. Membentuk kelompok siswa dan kemudian memberi
tugas yang sifanya kreatif
2. Menciptakan berbagai games agar siswa
terapil kratif.
Cara
mengatasi lupa dan jenuh dalam belajar
Kiat terbaik
untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa.
Banyak ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya,
antara lain :
1. Over learning (belajar lebih ), setealah usai
pembelajaran guru memberikan pekerjaan rumah (PR) agar siswa tidak mudah lupa
dengan apa yang telah dipelajari.
2.
Extra study time (tambahan waktu
belajar), untuk lebih meningkatkan kualitas belajar siswa dan tidak mudah lupa,
guru menambahkan waktu belajar dengan sistem permainan.
3.
Menciptakan lagu dengan liric yang berkaitan dengan huruf-huruf
hukum tajwid dan di nyanyikan disetiap awal pembelajaran berlangsung, agar
siswa cepat lupa.
Kejenuhan
belajar dapat melanda siswa apabila ia telah kehilangan motivasi dan kehilangan
konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tetentu sebelum siswa tertentu
sampai pada tingkat keterampilan berikutnya (Chaplin, 1972). Selain itu,
kejenuhan juga dapat terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada
batas kemampuan jasmaniahnya karena bosan (boring) dan keletihan (fatigue).
Namun, penyebab kejenuhan yang paling umum badalah keletihan yang melanda
siswa, karena keletihan dapat menjadi penyebab munculnya perasaan bosan pada
siswa yang bersangkutan.cara mengatasi jenuh dalam pembelajaran Ilmu Tajwid :
1. Menyediakan waktu istirahat agar
keletihan dan kejenuhan siswa berkurang
2. Memberikan motivasi-motivasi belajar
3. Bercerita tentang kisah-kisah lampau/
dongeng
Daftar
pustaka
Syah, Muhibin.1999. psikologi belaja. Jakarta : Logos
Slavin, Robert
E.2011. psikologi
pendidikan teori dan praktik. Jakarta : Indeks
Muhammad Thobroni dan Arif Mustofa. 2011. belajar dan pembelajaran. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media
[1] Muhibin syah, psikologi belajar, ( Jakarta : Logos, 1999)hlm. 21
[2] Ibid, hlm. 22
[3] Muhammad Thobroni dan Arif Mustofa, belajar dan pembelajaran, ( Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2011) hlm. 93
[4] Gambar di akses dari http://11036nurfazrina.blogspot.com/2013/10/perkembangan-kognitif-piaget.html
[5] Ibid, hlm. 95-97
[6] Robert E. Slavin, psikologi pendidikan teori dan praktik, ( Jakarta : Indeks, 2011).hlm.235-236
[7] Muhammad Thobroni dan Arif Mustofa, belajar dan pembelajaran, ( Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2011) hlm.104-105
[8] Muhibin syah, psikologi belajar, ( Jakarta : Logos, 1999)hlm. 47-48
[9] Gambar diakses dari http://zaifbio.wordpress.com/2013/07/12/ranah-pengetahuan-menurut-bloom



Tidak ada komentar:
Posting Komentar