Senin, 02 Juni 2014

EFEKTIVITAS PERUBAHAN KURIKULUM


Seperti yang telah kita ketahui bahwa kurikulum pedidikan di Nergi kita telah kembali mengalami perubahan seiring dengan di gantinya Mentri Pendidikan di Indonesia ini. Dengan kurikulum 2013 yang telah direncanakan dan mungkin sudah mulai diterapkan ini, di harapkan peserta didik di Indonesia akan mengalami perubahan juga ketingkat yang lebih baik, menjadikan anak-anak Indonesia yang lebih kritis, kreatif dan demokratis untuk menjadi generasi penerus bangsa yang di harapkan. Namun, apakah kurikulum 2013 ini merupakan perubahan kurikulum yang efektif?, dan bagaimanakan sebenarnya perubahan kurikulum yang efektif itu?. Akan saya jawab sedikit dalam jurnal yang singkat ini menurut buku yang telah saya baca yang berjudul “Effectiveness of Curriculum Change in School: An Organizational Perspective”.

Mengenai efektivitas kurikulum ini mungkin sangat penting untuk di bahas, karna untuk mengetahui apa dan bagaimana kurikulum yang efektif untuk pengajaran dan pembelajaran serta faktor utama yang berkontribusi terhadap efektivitas kurikulum. Kurikulum dapat di katakan efektif jika dapat berinteraksi tepat dengan kompetensi guru untuk memfasilitasi kinerja guru, membantu siswa memperoleh pembelajaran dan pengalaman yang sesuai dengan karakteristik mereka dan menghasilkan hasil pendidikan yang di harapkan, dibawah kendala karakteristik yang sudah ada seperti tujuan Nasional, tujuan sekolah, manajemen sekolah, isi pelajaran, pendidikan teknologi dan sumber daya. Selanjutnya adalah evaluasi efektivitas kuriklum dapat mencakup proses dan hasil kriteria, seperti kinerja guru, pengalaman belajar siswa dan hasil. Variabel yang dapat dimanipulasi, diubah atau dikembangkan untuk meningkatkan kinerja guru, pengalaman belajar siswa serta hasil adalah kurikulum dan kompetensi guru. Untuk menuju pada keefektivitasan kurikulum ada beberapa pendekatan perubahan kurikulum , yang pertama yaitu pendekatan perubahana kurikulum sederhana, dalam pendekatan ini kurikulum harus dikembangkan atau diubah di tingkat individu, tingkat program atau tingkat sekolah agar cocok dengan kompetensi guru dan karakteristik siswa namun disamping konsistensi dengan tujuan sekolah. Pendekatan ini mengasumsikan guru pasif, kompetensi guru statis dan perubahan kurikulum dapat direncanakan dan diimplementasikan secara efektif oleh administrator atau ahli eksternal. Kemudian pendekatan yang kedua yaitu pendekatan pengembangan kompetensi Guru, dalam pendekatan ini kompetensi Guru harus dikembangkan untuk memenuhi permintaan kurikulum. Guru adalah yang paling terpenting dalam sebuah kurikulum pendidikan oleh karna itu dalam perubahan kurikulum ini guru sangat diharapkan untuk memiliki atau merubah dan mengembangkan kompetensinya agar bisa memenuhi kebutuhan dalam kurikulum pendidikan. Selanjutnya pendekatan perubahan kurikulum dinamis, dimana kurikulum dan kompetensi guru harus dikembangkan dan diubah guna memaksimalkan efektivitas kurikulum dalam hal memfasilitasi mengajar dan belajar. Pendekatan ini  mengasumsikan bahwa yang pertama, efektivitas kurikulum adalah suatu konsep dinamis dan melibatkan proses yang berkesinambungan dan siklis untuk mengembangkan kurikulum dan kompetensi guru. Kemudian yang kedua, bahwa kurikulum dapat dikembangkan dan diubah efektif hanya ketika guru (pelaksana) yang cukup terlibat dalam proses. Selanjutnya yang ke tiga, bahwa kompetensi guru harus dikembangkan tidak hanya untuk memenuhi tuntutan yang ada dalam kurikulum dan kurikulum yang diubah, melainkan juga untuk mengembangkan kurikulum yang lebih tepat untuk karakteristik siswa, tujuan sekolah dan kondisi sekolah yang sudah ada dalam jangka panjang. Kemudian yang terakhir, yaitu bahwa perubahan kurikulum yang efektif harus melibatkan tidak hanya administrator dan atau ahli eksternal tetapi juga guru dalam perencanaan kurikulum dan dalam pengambilan keputusan.

 


Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam perubahan kurikulum yang efektif adalah bagaimana kurikulum tersebut agar dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa, pengembangan kompetensi guru dan tujuan sekolah, dan yang paling terpenting adalah dalam proses perencanaan kurikulum harus banyak melibatkan yang menjadi pelaksana atau pengajar yaitu Guru. Guru harus benar-benar memiliki kompetensi yang baik dan kreatif dalam proses pembelajarannya bukan hanya sebagai pentranfer ilmu pengetahuan namun juga sebagai fasilitator dan menjadikan peserta didik aktif, kritis dan kreatif. Semoga kurikulum 2013 juga dapat merubah sistem pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, sesuai yang di harapkan dan bisa menjadikan anak-anak bangsa yang tidak hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan namun juga aktif, kreatif, kritis, demokratis, bertanggungjawab, jujur dan berakhlak mulia tentunya. Aamiin J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar