Senin, 02 Juni 2014

Cara Belajar Aktif (jurnal ku)



Nama : Diana Astari
NIM : 1113018200063
 
“Belajar aktif”, mendengar kata tersebut pasti akan terbayang dalam fikiran kita bahwa belajar aktif adalah identik dengan segala macam kegiatan-kegiata yang dilakukan oleh siswa atau mahasiswa dalam sebuah ruang kelas, tapi saya menemukan arti belajar aktif yang sebenarnya dalam sebuah buku berjudul “Desain dan Implementasi Kurikulum” yang di tulis oleh dosen saya yakni Bapak Dra. Ahmad Baedowi, M.Ed. beliau adalah dosen mata kuliah Kurikulum, saya akui cara mengajar beliau sangat berbeda dengan dosen-dosen yang laini dan disenangi oleh banyak mahasiswa. Dalam bukunya ini beliau menuliskan arti dan cara beliau dalam mengajar “Belajar Aktif”.
Dalam bukunya tersebut Pak Baedowi menuliskan bahwa ”belajar aktif bukan hanya seperangkat kegiatan. Ia lebih merupakan suatu sikap yang mesti diambil baik oleh mahasiswa, dosen maupun perguruan tinggi untuk menjadikan pembelajaran efektif.” Jadi belajar aktif itu bukan hanya kegiatan tapi bagaimana seorang mahasiswa agar secara efektif mengambil sikap ketika proses pembelajaran berlangsung dan dosen berperan sebagai fasilitator , instruktur atau pengarah untuk berbagai aktivitas pembelajaran mahasiswa. Dosen tidak hanya sekedar memberikan materi, penjelasan dan penceramah di depan para mahasiswa, dan juga agar mahasiswa tidak hanya sekedar menjadi mendengar setia. Di katakan bahwa “tujuan belajar aktif adalah untuk menstimulasi kebiasaan berpikir seumur hidup dan menstimulasi mahamahasiswa berpikir tentang “bagaimana” ataupun “apa” yang sedang dipelajari, serta meningkatkan tanggung jawab mahasiswa untuk pendidikannya sendiri”. Dalam belajar aktif ini mahasiswa diharapkan agar mampu berfikir kritis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan berani mengeluarkan pendapat serta bertanggungjawab untuk masa depannya. Untuk mewujudkan belajar aktif yang telah memiliki tujuan tersebut tertera cara-cara yang efektif dalam buku “Desain dan Implementasi Kurikulum” ini, selain dengan kurikulum yang telah ditetapkan oleh sebuah perguruan tinggi, dosen dianjurkan mendesain kuriklum dan menimplementasikan cara belajar aktif yang tepat untuk para mahasiswanya. Ada beberapa cara atau teknik untuk mewujudkan proses belajar aktif dan cara melibatkan mahasiswa dalam proses pembelajaran aktif tersebut yang telah di tulis oleh Bapak Baedowi, yaitu yang pertama dengan cara Mini-lektur, suatu cara menyampaikan secara ringkas sebuah informasi penting, ilmu pengetahuan baru dan contoh-contoh yang membangun motivasi keilmuan dengan waktu penyampaian materi yang tidak lama sekitar 10-15 menit saja. Cara kedua yang bisa dilakukan oleh dosen yaitu jedah klarifikasi, dimana waktu dosen berkeliling kelas sementara mahasiswa mereview catatannya dan waktu dosen berkeliling ini akan dimanfaatkan oleh mahasiswa yang memiliki sifat pemalu untuk menanyakan materi yang belum ia pahami secara tidak formal ketika dosen menghampirinya. Selanjutnya, teknik diskusi berpasangan yakni, dimana dosen memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berdiskusi dengan teman sebangkunya atau dengan pasangan yang telah ditentukan oleh dosen, dengan cara ini mahasiswa akan menghilangkan rasa enggannya dalam berpendapat tentang suatu topik pelajaran yang telah diberikan dosen. Hasil diskusi tersebut kemudian disampaikan kepada seluruh kelas dan sistem berpasangan ini memperlihatkan hasil yang dicapai untuk nilai tengah semester lebih tinggi 10 poin – dengan rentang nilai hingga 100 – dibandingkan  dengan ulangan individual. Teknik atau cara berikutnya yaitu laporan satu menit, teknik ini pernah saya rasakan dikelas yang diterapkan tentunya oleh Bapak Baedowi, yaitu mahasiswa dikelas di bagi menjadi dua bagian, bagian mahasiswa sebelah kanan diabjurkan untuk membuat jawaban mengenai topik pelajaran yang telah ditentukan, dan mahasiswa sebelah kiri dianjuekan membuar pertanyaannya, lalu pertanyaan dibacakan satu persatu dan dicari jawabab yang tepat dari mahasiswa bagian kanan tersebut. Menurut saya teknik ini sangat menyenangkan dan mahasiswa pun lebih mudah memahami dan mencerna pelajaran. Di samping teknik ini juga dosen bisa menerapkan teknik kegiatan menulis bebas dari suatu topik pelajaran yang telah ditentukan, teknik ini memberi peluang kepada mahasiswa untuk berfikir dan memproses informasi. Setelah itu, dosen juga bisa menerapkan teknik curah gagasan, sebuah teknik sederhana yang dapat melibatkan seisi kelas dalam suatu diskusi. Dosen mengemukakan suatu topik atau permasalahan tertentu, kemudian meminta agar mahasiswa memberikan maukan dari masalah tersbut dan menuliskannya di papan tulis. Kemudian ada teknik permainan (game), menurut Pak Baedowi teknik ini yaitu permainan yang terkait dengan pelajaran, dapat diperkenalkan di dalam (indoor) atau di luar (outdoor) kelas untuk membantu pembelajaran aktif dan meningkatkan partisipasi mahamahasiswa. Teknik ini dapat dilanjutkan dengan konsep bermain peran. Masih ada 3 teknik lagi yang dikemukakan pak Baedowi dalam bukunya yaitu siklus belajar, simulasi dan studi kasus.

            Teknik-teknik belajar aktif yang di tulis Bapak Baedowi ini, menurut saya sangat baik jika di terapkan oleh semua dosen, bukan hanya dosen mungkin guru-guru disekolah juga bisa menerapkan itu semua yang disesuaikan dengan tingkat sekolah, mendesain kurikulum dan cara belajar yang aktif agar semua anak-anak didik Indonesia mampu berfikir kritis, mendorong mereka untuk terampil, kreatif dan aktif di dalam maupun diluar kelas sekolah untuk bekal di masa depan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar